S1

5.3K 54 0
                                        

Lu balik bareng Galih, Ren?" Tanya Naura pada Rena sambil membereskan alat tulisnya ke dalam ransel.

Naura Jasmine, gadis usia 22 tahun yang saat ini masih kuliah ditingkat akhir dan merupakan putri tunggal pasangan Bapak Seno dan Ibu Hana.

"Iya, dia udah nunggu di depan. Lu dijemput Bang Jeno gak Nau?" Sahut Rena yang masih menunggu Naura selesai dengan kegiatannya untuk bersama-sama turun keluar gedung D lantai 3 yang menjadi kelas untuk mata kuliah kali ini.

"Gak tau nih, chat gue belom dibales lagi. Yuk Ren, dah kelar gue" Jawab Naura sambil beranjak dari bangkunya  dan mengajak Rena berlalu meninggalkan kelas.

"Kalo gak dijemput, bareng gue sama Galih aja Nau. Kebetulan kita mau pergi searah ke daerah rumah Lu." Ujar Rena menawarkan tumpangan, khawatir teman dekatnya selama kuliah ini pulang sendirian.

"Gue naik taxi online aja. Gak enak gue sama Galih takut ganggu waktu kalian." Tolak Naura.

"Yaelah, gak apa-apa kali kek siapa aja. Entar gue yang bilang sama Galih." Bujuk Rena lagi.

"BUB" | "NANAU"

Suara panggilan membuat kedua sahabat ini memutar kepala untuk mencari sumber panggilan itu. Terlihat dua pemuda tinggi menghampiri mereka. Naura membalas panggilan itu dengan senyuman manis tertutup pada sosok Jeno yang melangkah kearahnya.

Jeno Juanda, 24 tahun, pemuda yang Naura kenal sejak lahir yang tadinya Naura anggap sebagai kakak laki-lakinya namun hubungan mereka berubah sejak dua tahun yang lalu saat Jeno mengungkapkan perasaannya tepat pada perayaan ulang tahun pemuda itu. Mereka mengenal karena Ibu mereka bersahabat sejak sekolah menengah dan selalu rutin melakukan pertemuan setiap bulan untuk terus menjalin pertemanan sampai saat ini.

"Tuh Bang Jeno ada jemput. Gue balik sama Bang Jeno. Dah sana lu ngedate dah sama adek gemes lu." Kata Naura sambil mendorong pelan tubuh Rena kearah Galih yang sudah ada di sebelah pacarnya.

"Ih Naura, suka begitu. Adek gemes gue ganteng begini. Halo Bang Jeno." Balas Rena , karna ya Galih itu adik tingkat beda jurusannya mereka. Mereka kenal karna Rena yang menjadi mentor kelompoknya Galih pada kegiatan pengenalan mahasiswa baru di kampus dulu.

"Iya iya, maaf. Hai Galih. Titip Rena ya, Awas lu kalo macem-macem sama Rena." Sapa Naura.

"Siap. Kita duluan ya Kak Naura, Bang Jeno kita duluan." Pamit Galih sambil menggandeng tangan Rena

"Bye Naura sayang." Pamit Rena dengan sebelah tangan terus melambai ke Naura.

"Yuk Bang, kita juga pulang" Ajak Naura sambil mengamit lengan Jeno untuk digandeng.

"Kenapa chat aku gak di bales?" Tanya Naura ketika sudah duduk di kursi depan mobil dengan Jeno di bangku kemudi.

"Maaf sayang. Aku tadi ada rapat dan ada beberapa arahan juga dari Daddy dan sekretarisnya untuk beberapa kerjaan." Jawab Jeno mulai mengemudikan mobilnya keluar kampus.

"Tapi kan bisa kabarin aku kamu lagi ngapain sampai gak bisa diganggu."

"Iya iya, aku salah. Maafin aku ya Nanau sayang. Hari ini ke rumah aku dulu ya sayang. Aku anter kamu pulang setelah makan malem di rumah. Kita makan masakan Bibi aja. Aku agak capek hari ini.  Gak apa-apa kan?" Ucap Jeno. Naura memang dapat melihat raut lelah di wajah tampan kekasihnya.

"Okay gak apa-apa kok. Aku juga kangen Bubu Tia." Sahut Naura tanpa menolak. Setelahnya hanya ada suara dari audio mobil yang memutar lagu-lagu favorit Naura dari Playlist spotifynya.

Singkat cerita, perjalanan dari kampus Naura ke rumah Jeno lebih tepatnya rumah orang tua Jeno kurang lebih 45 menit perjalanan telah selesai. Jeno mematikan mesin mobil setelah memarkirkannya dengan rapi di garasi.
Jeno turun dari mobil, kemudian membukakan pintu penumpang untuk Naura. Dan menarik pelan tangan Naura untuk mengikutinya masuk rumah.

"JENO PULANG" Teriak Jeno begitu masuk rumah. Kebiasaannya sejak kecil  jika baru sampai rumah.

"Adek Jeno sama Neng Naura. Neng geulis udah lama gak ada main kesini." Sambut Bi Lala yang keluar dari arah dapur.
Naura membalas sapaan itu dengan senyuman dan tundukan kepala sebagai sopan santun. "Iya Bi. Lagi sibuk sama tugas kuliah."

"Bi, Bubu mana?" Tanya Jeno setelah beberapa saat Ibunya tidak menyambutnya pulang.

"Ibu Tia lagi arisan ke rumahnya Bu Mina Dek. Dari jam 4 tadi." Balas Bi Lala.

"Oh. Bi, Jeno sama Nanau keatas dulu ya" Pamit Jeno sambil berlalu membawa Naura menaiki tangga menuju kamarnya.

Sesampainya di lantai dua Jeno membuka pintu kamarnya yang bernuansa biru, dan mempersilahkan Naura untuk masuk. Lalu Naura duduk dipinggir kasur setelah menyimpan tas ranselnya di bawah kakinya.

"Kamu kalo mau istirahat silahkan, gak usah malu. Kan bukan pertama kali kamu main di kamar aku lho." Ucap Jeno sambil melepaskan jas dan dasi dari tubuhnya yang melekat membuat gerah. Dilanjut melepaskan kancing kemejanya satu per satu dan dilepas sampai terpampang perutnya yang kotak-kotak hasil ngegym.

"BANG JENO!" Pekik Naura tertahan dengan wajah memerah dan mata tertutup. Bagaimana tidak, Jeno dengan santainya menurunkan celana hitamnya sehingga kini dirinya hanya memakai celana dalam berwarna navy.

Melihat tingkah Naura membuat Jeno ingin mengerjai pacar cantiknya itu. Dia lalu mendekati Naura dan berdiri di depan pacarnya yang duduk di tepi ranjang. Ditatapnya muka memerah gadis itu yang sungguh menggemaskan. Ditariknya dagu Naura agar mendongak kearah wajahnya yang semakin mendekat.

*cup
Satu kecupan di bibir cherry Naura, membuat gadis itu refleks membuka matanya karna terkejut akan serangan tiba-tiba dari Jeno. Dan merasakan hembusan nafas Jeno menerpa wajahnya yang berjarak sangat dekat.

"Bernafas Nanau!" Seru Jeno di depan bibir Naura dengan sentilan kecil di dahinya.

"IH, BANG JENO MESUM BANGET. SANA AH." Pekik Naura dengan tenaga kecilnya mendorong-dorong tubuh Jeno agar menjauh.

"Hahaha" Tawa puas Jeno pecah menikmati tingkat menggemaskan gadisnya itu. Dia lalu mengalah untuk menjauh dan pergi ke kamar mandi untuk segera bebersih. Sesampainya di depan pintu kamar mandi, Jeno memanggil gadisnya.

"Nau, Lihat sini"

Mendengar perintah itu, Naura menengok ke arah pacarnya, dia refleks menutup muka dengan kedua telapak tangannya ketika Jeno menarik turun karet celana dalamnya.

"BANG JENO, MESUM BANGET SIH!" teriak Naura ketika menemukan celana dalam jeno yang sengaja dilempar dan jatuh diatas pangkuannya.

Mendengar bunyi shower menyala, Naura mengalihkan pandangannya untuk memperhatikan kamar Jeno. Tidak ada yang berubah, kamar Jeno penuh dengan foto-foto pertumbuha  mereka dari foto Jeno balita yang sedang memangku dirinya versi bayi, sampai foto terakhir perayaan ulang tahunnya terakhir. Hanya beberapa setel pakaian kotor Jeno yang dia taruh sembarangan dan segera Naura kumpulkan untuk menaruhnya di keranjang cucian kotor yang ada di depan pintu kamar mandi. Setelahnya dia hanya rebahan di ranjang Jeno sambil memainkan ponselnya.

Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka bersamaan dengan harum sabun menyerbak ke seluruh ruangan, tanda Jeno selesai dengan kegiatan mandinya. Dia melirik sekilas gadisnya di kasur, dan segera mengeringkan tubuhnya dan hanya memakai celana dalam dan boxer yang dia ambil di laci lemarinya.

Bertelanjang dada, dia menghampiri Naura yang sedang rebahan terlentang di tengah kasur dengan kedua tangan sibuk memencet layar ponsel. Dia merangkak di atas tubuh Naura, kemudian merebut ponsel dari tangan gadisnya lalu melemparnya asal ke samping ranjang. Setelahnya merebahkan tubuh besarnya diatas tubuh Naura dengan posisi kepala di dada gadis itu. Dia menenggelamkan wajahnya di dada Naura dan mengesek-gesekan hidungnya menghirup aroma tubuh kekasihnya itu.

Naura yang mengerti kalau Jeno sedang ingin dimanja, dia membawa kedua tangannya untuk memeluk kepala Jeno di dadanya.

"Bang Jeno capek banget?" Tanya Naura lembut sambil mengelus belakang kepala Jeno dengan sayang.

"Panggil namaku aja Sayang." Protes Jeno dengan suara teredam.

"Iya maaf Jeno. Kamu capek banget?" Tanya Naura dibalas anggukan di dadanya. "Mau cerita?" Di belai pipi lelakinya dan dibawa untuk mendongak agar dapat bertatapan.

Full part cek KK

https://karyakarsa.com/HansCherry1004/part-1-856260

TERCIDUKStories to obsess over. Discover now