We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

A Glass of Green Tea

5 0 0
                                        

"Hari ini kayaknya ga terlalu rame ya. Kalau gitu aku beli 5 mocca sama 2 green tea," katanya penuh semangat.

Aku tak langsung menyiapkan pesanannya. Sejenak ku lihat ke pintu masuk, tak ada lagi yang menyusulnya. Dia datang sendiri.

"Buat siapa beli sebanyak itu?"

"Buat siapa aja yang mau. Nanti ku bagi ke temen-temen."

Aku hanya mengernyit. Masih belum bergerak. Dia tau aku enggan menuruti.

"Habisnya noona keliatan bosan. Noona kan paling suka kerja."

Ya, he knows me so well. Aku yang terbiasa sibuk, sekarang sedang terbengong di belakang kasir, menunggu temanku kembali dari membeli makanan. Seminggu ini memang pelanggan tergolong sepi. Anak-anak kuliah sebagai customer utama yang selalu meramaikan sudah mulai libur sejak Senin kemarin.

Lalu kenapa yang satu ini masih keluyuran di sekitar kampus?

"Ngapain ngabisin uang jajanmu buat beli minum sebanyak itu? Beliin aja buku atau keperluan kuliahmu."

"Gimana sih? Ada pelanggan beli banyak kok malah ngga boleh."

"Beli aja satu. Paling kamu sendiri yang minum."

Tentu saja kalimat itu akan membuatku dipelototi pemilik kafe kalau dia dengar. Ada customer mau borong tapi malah dilarang. Tapi dia sudah terlalu sering melakukan ini belakangan. Bahkan ekonominya pun tak terlalu baik juga, sok-sok an mau hambur-hamburin uang.

"Yaudah green tea dua."

"Satu aja," sergahku.

"Satunya buat noona."

"Satu!" kataku makin melotot.

Ia mengatupkan bibir. Memutuskan menurut melihat wajah galakku. "Yaudah green tea satu."

Barulah aku beranjak menuju meja racik.

"Tapi aku boleh minum disini ya. Nemenin noona."

Tanganku sempat berhenti sejenak saat hendak mengambil gelas. Tapi kemudian aku sadar, melarangpun tak akan mempan.

He's always like that... 

.

.

.

.

.

**********************************

.

.

.

.

.

'Jangan pulang dulu pliss. Aku boleh ke cafe ya jam 8. Plis plis plis'

Begitu bunyi pesannya sore tadi. Membuatku yang biasanya sudah mengunci pintu dan pulang, saat ini masih berdiri di depan cafe, bersandar di pintu dengan sudah menenteng tas.

'5 menit lagi ngga nongol, kutinggal' begitu niatku.

Namun menjelang 5 menit kemudian, tanganku yang sudah bergerak hendak mengeluarkan kunci mendadak urung saat mendengar suaranya berteriak sambil terengah.

"Noona!!!"

Katanya setengah berlari sambil menggendong tas berisi gitar kesayangannya.

Aku masih diam, berdiri memandangnya yang membungkuk terengah-engah di depanku.

"Jam berapa ini?" tanyaku galak.

Ia tak menjawab. Hanya mengacungkan telapak tangannya, memintaku tak marah-marah dulu, minta waktu mengatur napas.

A Glass of Green TeaStories to obsess over. Discover now