Suasana gedung perkantoran saat jam makan siang terlihat sepi, semua pegawai pergi ke kantin atau restoran-restoran sekitar kantor untuk mengisi perut agar kuat melanjutkan aktivitas bekerja hingga sore hari nanti.
Berbeda dengan para pegawainya, sang wakil direktur justru terdiam di jendela ruangannya menatap jalanan dari lantai 25 kantor ini. Seperti kehilangan nafsu makan, ia melamun menatap lalu lalang jalanan yang terlihat cukup kecil.
"Permisi, Pak."
"Masuk," jawab pria itu tanpa menoleh.
"Maaf, Pak. Saya membawa tiga orang untuk calon sekretaris Anda. Sesuai permintaan Anda saya mencarinya secara diam-diam," jelas laki-laki berkemeja abu-abu itu pada atasannya.
Pria yang tadi membelakangi objek pun kini menghadap pada empat orang yang berdiri tak jauh dari pintu. Lucas tersenyum kecil. "Ah, aku melihat sesuatu yang menarik," katanya.
Pria bermarga Wong itu mendekati salah satu calon sekretarisnya. "Hai, Sayangku," bisiknya tepat di telinga gadis itu.
Sedangkan dalam hati gadis itu sudah benar-benar dalam keadaan tidak sehat karena terus merapalkan sumpah serapah pada calon bosnya itu. Oke baiklah, ia akan melakukan wawancara seburuk mungkin.
"Aku sudah mengenalnya, bolehkah aku langsung memilihnya? Kalian aku tempatkan di divisi perpajakan. Shotaro, kau buatkan surat pengantar, dan berikan padaku, akan aku tanda tangani untuk mereka. Kontrak satu tahun, jika kerja kalian bagus, aku perpanjang kontrak kalian. Kinerja kalian dipantau langsung olehku. Silahkan keluar," kata Lucas panjang lebar tanpa bisa ditolak ataupun disela.
Gadis yang Lucas pilih akan ikut keluar, namun tentu saja dengan cepat ditahan oleh Lucas. "Ya! Kenapa aku harus bertemu denganmu di saat yang tidak tepat, Lucas Wong!" teriak gadis itu tertahan saat pintu tertutup.
Lucas menggaruk pelipisnya pelan, matanya bergulir seakan-akan dia sedang berpikir. "Jodoh mungkin?" ujarnya dengan senyum.
Yera menghela napas. "Yang kau lakukan pada dua orang yang tadi datang bersamaku akan menimbulkan banyak persepsi, Lucas. Kau juga terlihat tidak profesional," kata gadis yang menenteng map merah itu.
"Aku sudah memberi mereka pekerjaan tanpa wawancara. Sebelumnya aku sudah melihatmu dari foto yang dikirim oleh Shotaro. Tentu saja aku langsung menyetujui, aku sudah menyiapkan ruang untuk dua orang itu." Lucas mengambil map di tangan Yera kemudian membukanya.
"Pantas saja aku bertanya nama bosnya, Shotaro tidak memberi tahuku, aku mencarinya di web pun tidak ada namamu. Shotaro sialan, dia memberiku web palsu?!" ujar gadis itu emosi.
"Hey, jangan memanggil Shotaro seperti itu, aku yang menyuruhnya," jawab Lucas masih membaca surat-surat yang diajukan oleh Yera.
"Berarti kau yang sialan!" Yera si pemberani.
Lucas menatap tajam gadis itu, namun detik berikutnya ia tertawa. "Kau masih mengenalku dengan baik ternyata. Tapi ingat, aku sekarang adalah bosmu, Yera sayang."
Baiklah, Yera yakin jika hidupnya akan terus kembali mendapat masalah.
***
"Hai! Namaku Kim Ye Ra, maaf perihal tadi. Aku tidak tahu jika bos itu adalah temanku. Kita berteman baik dan pernah bekerja sama. Mungkin sebelumnya dia merasa bisa cocok dengan kinerjaku, aku minta maaf jika kalian marah ataupun merasa diperlakukan tidak adil," kata Yera panjang saat ia bertemu dua gadis tadi di lift.
"Ah, namaku Jung Mi Na, dan ini Min Ye Ji." Mina, Yeji dan Yera membungkukkan badan untuk saling menghormati.
"Tidak perlu merasa tidak enak hati. Justru aku bersyukur jika kau sudah mengenalnya. Mungkin kau lebih bisa mewajari sifat dan sikapnya, banyak orang yang bilang dia itu menyebalkan. Hahaha, tapi pertemuan pertama tidak terlalu buruk bagi kami berdua karena bisa langsung bekerja di divisi pajak tanpa harus wawancara, kebetulan kami memang membutuhkan pekerjaan," jawab Mina.
BINABASA MO ANG
The Circle || Lucas
RomanceBertemu dengan sang mantan di dunia kerja itu ada untung dan ada rugi. Apalagi modelan mantan seperti Lucas. Yera sangat-sangat dibuat pusing oleh mantan yang kini menjabat jadi bosnya. Hidupnya kembali tidak tenang. Karena dirinya terus ada di lin...
