SATU

8 1 1
                                        

Happy reading

"Ahh...Richie..."

"Iya terus sayang...Ahh"

Byurr

"AHHH banjir" Madie terbangun karena siraman air dari seseorang.

"Ih, mami ganggu mimpi aku aja nih lagi seru sama mas duda" Madie cemberut menatap sang mami

"Heh! Mimpi apa kamu sama duda depan? Ngaku! Mimpi lagi iya-iya kan?"

Madie tersenyum malu "Hehehe tau aja nih mami,"

"Mandi sana! Kamu udah kesiangan," Mami Kayla menyeret kedua tangan anaknya yang ingin kembali tidur.

Madie bersungut-sungut dalam hati menyumpahi sang mami.

***

"Halo mas duda, Madie boleh nebeng gak?" Madie mengerling genit "Boleh ya mas duda,"

"Yasudah," ujar Richie terpaksa. Setiap hari sang tetangga selalu meminta tebengan. Richie merasa tidak enak jika menolak. Bagaimanapun Madie pernah membantunya mengurus Calesthane, sang anak.

"Yes, yuhuuu" Madie tersenyum senang. Akhirnya rencananya berhasil.

"Mas duda, udah punya pacar belum? Madie mau daftar jadi calon pacar mas duda boleh?"

Richie tersentak kaget. Apa dia bilang? Mendaftar jadi calon pacar? Richie saja tidak berpikir untuk menikah lagi setelah Aina—sang istri meninggal dunia.

Richie menggaruk tengkuk. Bingung. "Hm... kamu kan masih SMA, carilah pacar yang seusia dengan kamu,"

"Is, tapi aku sukanya sama mas duda gimana?"

"Boleh saja, tapi kamu jangan mengharapkan sesuatu ya. Ingat! Saya sudah peringatkan ini, untuk tidak berharap lebih,"

Madie terdiam melihat jendela sampingnya. Menghembuskan nafas. Ternyata menaklukan duda sesusah itu ya. Di cerita yang Maddie suka baca tidak sesulit itu.

"Sudah sampai."

"Makasi mas duda. Calon istri belajar dulu ya," Maddie tersenyum menggoda. Berjalan menuju gerbang sekolah.

Andai perbedaan umur kita tidak jauh Madie, pasti saya pertimbangkan lagi. batin Richie

***

tbc

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 24, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Destiny Stories to obsess over. Discover now