Senja dan Saudade

4 0 0
                                        

Baru saja kututup ponselku dengan bantal, melihat videografi senja membuat batinku tersayat, tersayat oleh ingatan suatu peristiwa yang kemudian menyulutkan rindu. Parahnya, aku malah melayani kerinduanku itu dengan memutar kembali lagu yang membangkitkan kenangan. Aku mengambil kembali ponselku lalu memutar lagu Funeral, lagunya Phoebe Bridgers. Sudah 3 tahun berlalu, tetapi perasaanku ketika melihat suasana senja dan mendengar lagu Phoebe tersebut selalu membuatku bagaikan dilempar ke masa lalu.

Peristiwa itu adalah pada hari di mana aku menghadiri seminar bersama kakak laki-lakiku. Kenangan yang paling kuat adalah ketika aku ada di dalam mobil, lebih tepatnya saat sedang perjalanan pulang dari seminar bersama kakak laki-lakiku. Tidak hanya saat di mobil, tetapi juga saat acara seminar berlangsung. Sebenarnya bukan kajian seminarnya yang membuatku rindu, malah aku tidak menginginkan untuk hadir di seminar itu.

#

Aku tidak terlalu menyimak seminar itu. Akhirnya, yang kulakukan adalah mengedarkan pandangan ke seluruh peserta seminar barangkali ada gerakan aib yang mereka lakukan. Tak lupa, aku juga mencari-cari barangkali ada lelaki tampan, tetapi posisi kursi peserta berada di satu area datar. Aku cukup kesusahan untuk melihat semua kepala sampai-sampai leherku sakit.

Aku agak kecewa karena tidak kunjung menemukan yang manis-manis di tengah seminar pahit itu. Tidak lama kemudian, bapak pemateri, Pak Darmo, entah biacara apa sebelumnya, yang jelas dia menanyakan sesuatu sehingga menyembullah kepala seorang lelaki rupawan, ia berdiri dan memberi tanggapan. Ia memiliki suara bariton yang menggetarkan hati seperti yang dikatakan Oh Su Hyang dalam bukunya—Bicara Itu Ada Seninya. Seketika itu juga, aku bersemangat mengikuti rangkaian seminar itu. Sebagian energi positif dari laki-laki tersebut seolah menguap dan menyerap ke dalam diriku. Laki-laki itu duduk di belakang samping kiriku, cukup dekat. Aku mengamati sepanjang dia berbicara, bahkan ketika kembali duduk pun sesekali aku menoleh diam-diam. Ya Allah, dia tampan sekali, kulit sawo matang, lengkung mata yang tajam, dan perawakan tubuhnya yang tidak kurus dan tidak gemuk. Oh bibirnya, aku gemas ingin mengecupnya. Aku tidak bisa berhenti tersenyum.

Kakakku tidak menyadari tindakanku, ia terlalu fokus demi mendapat materi untuk bahan skripsi, ia saat itu berada di semester 6. Saat jeda pergantian pemateri. Aku menggoyang-goyangkan lengan kakakku, tetapi ia masih sibuk mencatat.

"Kak ... kak."

"Apa sih?" jawab kak Reno ketus.

"Kak!"

"Iya apa? Ngomong aja, kenapa sih."

Kak Reno meletakkan pen di pangkuannya, "Kak, ini seminarnya yang hadir mahasiswa apa umum?"

"Sebenarnya umum sih, tapi kayaknya dominan mahasiswa."

Aku tersenyum menahan tawa, di dalam dadaku, ada segumpal tawa yang kalau dilepas ke mulut akan pecah dan tak akan bisa berhenti.

"Kakak tau gak mahasiswa dari mana aja yang hadir?"

"Ya gak tau lah Ra."

"Tapi ada yang kakak kenal gak di sini, coba liat di sebelah kiri, ada gak?"

Kak Reno menoleh ke kiri, ia mengedarkan pandangannya mencari kawan dan kenalan.

"Ada sih."

Aku membelalak gembira, kuharap yang dimaksud kakak adalah lelaki tadi. Kak Reno menatapku sejenak, dari raut mukanya, ia seperti sedang menerawang maksud dari pertanyaanku tadi.

"Itu yang pakai kemeja batik mega mendung biru, dari universitas yang sama kayak aku, mahasiswa semester dua. Namanya ...."

Aku menggigit bibirku, tak sabar menanti jawaban paling penting. Kak Reno tidak meneruskan kalimatnya, ia berhenti dan tertawa kecil lalu mengusap wajahku.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 27, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Senja dan SaudadeWhere stories live. Discover now