cerita 1 - pilihanku (1)

50 3 0
                                        


"Alice, kamu dengerin aku dong, pokoknya jangan bandel deh" suara berat setengah meninggi memecah gendang telingaku. "iya" jawabku pasrah sambil berusaha tersenyum. Ya, namaku Alice umur 23 tahun kerja di perusahaan X dengan gaji yang pas-pas an tapi hidupku serba kecukupan bahkan bisa dikatakan glamour. Hidupku ini berkat orang yang berteriak kepadaku tadi, Oliver pacarku yang kukenal sejak kuliah, kami sudah berpacaran 2 tahun, namun hidupku di fasilitasi selayaknya istri sahnya, apartemen dengan view kota di salah satu kawasan elit di Jakarta.

Suara dengung hapeku memecah lamunanku, dari mama isinya mama udah siap, lice, jaga diri, mama tunggu.

"dari siapa?" lagi-lagi aku tersentak karena suara Oliver

"SMS iseng" tanggapku

"ohh, mana sini" katanya dengan ketus sambil memegang kemudi stir sebelah tangannya ke arahku dengan tangan terbuka seolah menyuruhku menaruh benda persegi yang ada ditanganku ke tangannya.

"fokus ke jalan deh" balasku sambil buru-buru mencari SMS iseng yang kebetulan masuk untuk diberikan padanya

"sini" katanya lagi

"nih"

Setengah melirik lantas dia menggenggam hapeku erat ketika hendak mengembalikannya padaku

"Oliver" panggilku sambil menarik napas panjang

"hmm?"

Hening

"kenapa ?" tanyanya.

"kita putus aja ya"

Oliver membisu, lantas dia bertanya "apa?"

Hening

"apa?" suaranya meninggi

"enggak ada perempuan yang pantas diginiin, kita putus aja ya, Oliver"

Dia diam, lantas dengan penuh pertimbangan dan perhitungan dia mengatakan

"ga pantas gimana ? apartemen, mobil, hape, aksesoris, sepatu, kartu kredit, tas ?"

Aku tahu maksud Oliver, ia tengah setengah mengancamku dengan segala fasilitas yang sudah diberikannya padaku. Segala yang tiap hari kukenakan, yang kutinggali dan yang kubutuhkan saat ingin beradaptasi di kota metropolitan ini. Untuk Oliver anak konglomerat yang bisnis keluarganya sudah menggurita di Asia, tentu ini bukan perhitungan yang seberapa, namun ia tahu betapa aku membutuhkannya. Tapi kali ini aku yakin akan keputusanku.

"Oliver, gua punya kebebasan untuk memilih, dan gaada perempuan yang pantas dapatin lebam di seluruh badannya dari pasangannya"

Oliver tidak menjawab, kami saling bisu dalam mobil seolah menunggu saat sampai pada tujuan, diam namun mencekam. Aku tersentak saat gelap datang tanda sudah sampai pada basement mall. Oliver mencari parkiran, dan pada saat sudah parkir dengan rapi. Oliver diam menatap kedepan dengan tangan yang masih memegang hapeku, lantas ia membantingnya ke depan setir, kali ini nafasnya berat. Tangannya mulai ingin mencekam leherku yang langsung aku tepis, Oliver sadar kemudian menarik kembali tangannya. Inilah Oliver, rupawan, tinggi semampai, berasal dari keluarga berada, berprestasi, pengusaha sukses di usia muda, keras kepala, kasar.

"kenapa?" diiringi dengan tawa kali ini

"aku takut"

"kenapa? Takut apa, aku bahkam ga nyentuh kamu lice, dengan segala hal yang udah aku berikan, kamu bahkan tersinggung karena tadi aku melirik hapemu? " tanyanya heran

"alice, plis lu ga selemah itu, kita bahkan tetap baik-baik saja, setelah mamamu melihat kamu tersungkur di lantai saat kita berantem" lanjutnya

"kita ga berantem Oliver, kau yang memukulku" aku mulai meninggikan suaraku.

"aku berusaha menjadi aku saat ini, aku berusaha mati-matian, aku bahkan tak tahu apa itu istirahat, tersenyum setiap saat bahkan sampai aku sudah muak rasanya, aku bahkan tak bisa membedakan diriku menangis ataupun tertawa, supaya kenapa? Supaya loe bisa hidup tenang. Loe egois lice, loe egois" teriaknya.

Hening

ceritakuStories to obsess over. Discover now