Chapter 1🍁

62 25 10
                                        

" Kamu akan menyesal Vian. Papah akan melakukan apapun demi kelangsungan perusahaan keluarga kita. Dan jika kamu masih tetap tidak mau menuruti perintah Papah, jangan salahkan Papah untuk menikahkan kamu dengan teman anak Papah. Dia wanita karir, yang sudah pasti mengerti urusan kantor dan juga bisa membantu kemajuan perusahaan."

BRAAKKKK!!

Terdengar suara hentakan meja yang sangat keras dari dalam kamar. Disinilah dia, dengan segala pikirannya yang kalut, Arvian Dwi Erlangga, putra sulung dari keluarga Erlangga. Vian sebenarnya anak yang penurut dan cerdas. Sayangnya, semua hilang dengan begitu cepat disaat umurnya menginjak angka 8 tahun.

Saat itu, perusahaan yang dipimpin oleh Dura Erlangga yang tak lain adalah Papah dari Vian mengalami krisis keuangan. Segala hal dan upaya dilakukan untuk mempertahankan perusahaan, sampai membuat Vian kecil merasa sendirian. Sangat-sangat sendirian karena Papah dan Mamahnya sedang sangat sibuk di kantor.

Flashback on.

" Yeayyyyy, Vian berhasil juara 1 ngegambar yeayyyy horeeeee. " sorak Vian kecil.

" Alhamdulillah, sekarang kita pulang ya kasih tau Mamah sama Papah. " ucap Mbok Ritnih pengasuh sekaligus ART dirumah Erlangga.

" Emangnya Papah sama Mamah gak jadi nyusul Vian kesini ya, Mbok? Papah sama Mamah kan udah janji tadi pagi ke Vian. " Mbok Ritnih yang merasa iba itupun ikut sedih mendapati Vian yang tengah menangis didalam tundukkan kepalanya.

" Mungkin Papah sama Mamah udah nungguin den Vian di rumah, yuk kita pulang. Mbok beliin es krim mau ya? Tapi Vian harus pulang. "

" Enggak usah, Mbok. Vian mau Langsung pulang aja ketemu Papah sama Mamah. " ucap Vian sendu sambil melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil di sekolahnya sambil diikuti Mbok Ritnih.

Sesampainya di rumah, Vian langsung berlari kecil menuju ke dalam rumah untuk menemui orang tuanya. Kaki itu terus melangkah dari ruangan satu ke ruangan lainnya tapi tetap tidak menemukan siapapun di dalamnya. Air matanya jatuh dengan deras. Hatinya sakit. Di umur 8 tahunnya Vian sudah merasakan hal sesakit ini. Berulangkali orang tuanya tidak memperhatikan kesehariannya, semuanya diurus oleh Mbok Ritnih tanpa perhatian Sang Mamah. Semuanya dikerjakan sendiri tanpa perhatian Sang Papah.

" Mbok, Mamah sama Papah gak ada ya? Mamah sama Papah sibuk banget kerjanya ya, Mbok? "

Mbok Ritnih benar-benar sulit menjawab pertanyaan anak asuhnya ini. Karena pertanyaan ini sudah sering kali diucapkan oleh Vian.

" Den Vian ganti baju dulu ya, abis itu makan terus tidur. Nanti sore kita main ke taman, oke gak? "

" Oke, Mbok. Vian pengen ke taman aja mau main. " dibalas senyum manis dari Mbok Ritnih.

Sejak saat itu, Vian jadi anak yang tidak memperdulikan sekolahnya lagi. Prestasinya kian menurun. Untuk memandang wajah orang tuanya pun sudah sangat tidak perlu baginya. Orang yang dia percayai dan sayangi saat ini hanyalah Mbok Ritnih, pengasuhnya dahulu.

Flashback Off.

CHANGETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang