Chapter 1

20 0 0
                                        

Kaki mungil itu berjalan lunglai di atas pasir putih dibibir pantai. Di sampingnya ada sang ayah yang dengan setia mendampingi kalau-kalau putri kecilnya itu hilang keseimbangan.

Tak jauh dari keduanya ada wanita cantik dengan beragam bekal yang mereka bawa duduk bersantai di atas tikar sembari memperhatikan keluarga kecilnya asik bermain.

"Bun ayo ikutan mandi pantai sama Haiqal." Suara nyaring dari si sulung menyadarkan dirinya yang sejak tadi memperhatikan sikecil dangan ayahnya.

"Nggak ah, Bunda disini aja bang."

"Airnya dingin loh Bun tapi asin." Kini giliran sikembar Haziq yang ikut membujuk bundanya agar ikut bermain di pantai.

"Haziq dimana-mana air laut ya asin, kalau hambar ya namanya air sumur," timpal Haiqal geleng-geleng kepala dengan ucapan adik kembarnya.

Sang Bunda hanya tersenyum melihat kelakuan anak kembarnya.

"Haiqal sama Haziq mau sandwich? Bunda punya sandwich spesial loh buat kalian."

"Mau Bun!" Ujar keduanya bersamaan penuh semangat. Siapa yang tidak semangat kalau ditawari makanan kesukaan yakan.

"Asya juga mau Bunda." Bukan sikecil Asya yang mengatakan melainkan pemilik suara boriton yang tengah menggendongnya, siapa lagi kalau bukan ayahnya.

"Yang mau Asya atau Ayah nih?"
Ditanya seperti itu, pria yang sejak tadi menggendong putri kecilnya hanya tersenyum mesra kepada sang istri.

Asya yang sedari tadi berada digendongan ayahnya merengek meminta turun dari gendongan. Berhambur ke arah abang sulungnya yang tengah asik menyantap sandwich, membuat Haiqal menjauhkan sandwichnya agar tak tertimpa tubuh gempal adik bungsunya.

Namun bukan ingin memeluk Haiqal, Asya ternyata justru berusaha merebut sandwich milik Haiqal.

"Adik ini sandwich punya abang, kalau kamu mau harus minta baik-baik ya jangan asal seruduk begitu aja. Coba 'nyuwun'nya gimana?"

Sikecil Asya langsung memposisikan kedua tangannya atas bawah seperti yang abangnya katakan.

"Pintarnyaaa, nih."
Bukannya memberikan sandwich yang tinggal separuh pada adiknya, Haiqal justru menggoda Asya dengan memasukan sandwich ke dalam mulutnya. Membuat Asya memanyunkan bibir mungilnya.
Ayah Bundanya tertawa melihat itu, tak ketinggalan Haziq yang gemas melihat tingkah adiknya itu.

🌻🌻🌻
Terik matahari terasa menyengat dikulit kepalanya. Meski pun kepalanya berlapis hijab, namun siang ini matahari terasa sangat panas dari biasanya. Berbekal makalah yang baru saja diprint-nya, Asya gunakan makalah itu untuk memayungi kepalanya.

"Asya!" Terdengar suara nyaring memanggilnya tak jauh dari dirinya berjalan.
Asya pun berhenti dan memalingkan tubuh mengahadap insan yang memanggilnya.

"Lo udah cetak makalahnya? Sorry tadi gak bisa nganterin lo, gue harus kelompok dulu soalnya," ujar gadis yang memanggil nama Asya, yang tak lain ialah Kiky.

"Udah Ky. Santai aja kali Ky, kayak sama siapa aja. Panas nih kesana yuk," Asya segera menarik tangan Kiky menuju gazebo tempat anak-anak kampus nongkrong nunggu jam kuliah atau pun mengerjakan tugas dari dosen.

"Gila cuaca hari ini panas banget tumben. Oh iya gue tadi beli ini Sya, nih buat lo satu," ujarnya menyodorkan kresek hitam yang berisi botol minuman dingin ke arah Asya di sebelahnya.

"Makasih."

"Eh Sya lo udah dengar belum? Katanya dosen linguistik ganti loh?"

"Oh ya? Ganti siapa?" Tanya Asya sembari berusaha membuka tutup botolnya.

NATHANIEL IBRAHIMWhere stories live. Discover now