#

18 3 0
                                        

Setiap hujan turun, Aulia tak lagi pernah mempunyai kesempatan untuk bermain dengan teman-teman tetangga rumahnya. Gadis kecil itu hanya bisa melihat temannya dibalik beningnya kaca tebal. Dengan raut wajah masam dan sebuah buku bacaan berjudul 'The Nutcracker and The four Realms', Aulia kembali ke kasur kamarnya. Tidur adalah hal yang terbaik untuk melupakan semua kesedihan yang terjadi pada hari ini.

Hari demi hari berganti menjadi bulan dan berlanjut menjadi tahun. Aulia kecil kini sudah menjadi remaja berusia 15 tahun. Aulia menatap tubuhnya di depan cermin.

"Hari pertama, senyum yang indah, be yourself." Ucapnya dengan semangat.

Diambilnya tas yang berada di atas kasur dan dicangklungkan ke pundak. Aulia keluar kamar dan melihat kondisi ruang makan yang sepi. Aulia tersenyum masam.

"Egh mbak Aulia. Sarapan dulu mbak. Pak Sutiyo juga lagi sarapan di warung sebelah." Ucap Bibi Salamah.

Aulia tersenyum hambar, "tidak bi, saya langsung saja berangkat takutnya telat."

Bibi salamah mengangguk paham dan memanggil pak Sutiyo.

Jarak antara rumah dengan sekolah tidak terlalu jauh. Hanya membutuhkan waktu 30 menit dengan catatan kalau tidak macet. Beruntungnya tidak ada tanda-tanda kecametan saat melewati jalan Pemuda. Aulia menatap keluar jendela. Pedagang asongan, penjual koran, pengemis jalanan, penjual sayur keliling, dan semua orang yang lalu lalang seakan bisa membuat senyumnya merekah. Sejak kecil Aulia selalu diajarkan berbagi atau orang bilang sedekah. Tapi untuk saat ini Aulia harus cepat menuju ke sekolah.

"Nanti aku telepon pak kalau sudah pulang." Ucap Aulia tersenyum ramah.

Kata orang masa SMA itu masa pedekatean. Tapi tidak untuk Aulia. Baru masuk sekolah dan baru selesai mos ada suara kegaduhan di lapangan. Orang-orang tidak menolongnya malah kebalikannya, menonton sambil menyemangati temannya sendiri. Sorot mata Aulia menatap tajam kearah orang yang sedang bertengkar di tengah lapangan.

"WOY KALIAN BERDUA. PUNYA OTAK GAK !" Teriak Aulia, spontan dilihat oleh murid lainnya yang sedang menonton.

Dua orang yang bertengkar tadi melihat kearah Aulia dengan sorot mata tajam. Aulia mendekati ke arah dua orang tersebut dan meninju keras di bagian pipi sebelah kanan.

"Orang yang punya otak atau akal enggak akan menyelesaikan masalahnya dengan cara bertengkar. Dan menurutku kalian berdua enggak ada otak. Jangan marah. Kalian bukan lawan yang sebanding. Permisi." Ucap Aulia tegas.

Kedua orang tersebut hanya melihat punggung Aulia. Mereka bergeming.

Awal masuk sekolah yang membosankan. Seluruh waktu Aulia saat di sekolah hanya digunakan untuk bergelut dengan buku-buku tebal di perpustakaan. Dan saat di rumah, Aulia hanya menatap televisi dengan tatapan kosong. Apakah hidup Aulia akan terus hambar dengan semua kepalsuan? Dimatikannya televisi tadi dan beranjak ke kamar.

Keeseokan harinya, Aulia sudah siap dengan seragam dan tasnya. Kali ini dia ikut sarapan di meja makan walau hanya sendirian. Pak Sutiyo selalu malu bila makan bersama dengan Aulia.

"Bibi bawakan bekal nanti di makan ya mbak Aulia." Ucap bibi Salamah sambil memasukkan bekal tersebut ke dalam tas.

----

Jam pertama diisi oleh game dari kakak-kakak OSIS. Game itu berupa nomor urut yang nantinya kalau kakak OSIS tersebut mengambil angka yang sama, maka pemilik angka harus maju kedepan dan menjawab pertanyaan dari kakak OSIS. Nomor ditunjukan pada angka 13, giliran Aulia yang maju ke depan.

"Sebelum saya kasih pertanyaan silahkan perkenalan diri dan jawab apa film yang disukai oleh kak Charles." Ucap Kakak Osis yang dikenal Aulia bernama 'Ditya.'

"Perkenalkan nama saya Aulia Zenia Prasetyo panggil saja Aulia. Rumah saya di perumahan Gajah Mada gang Cryssant nomor 13. Dan jawaban dari pertanyaan kakak 'The Nutcracker and The For Realms'. Terimakasih." Jawab Aulia lalu kembali duduk.

Teman sekelasnya menatap Aulia dengan kagum dan bingung. Padahal sejak kak Charles menginjakkan kaki di kelasnya, ia sama sekali tidak memberi tahu tentang dirinya.

-----

Tok...tok...tok...

Bibi Salamah yang sedang mencuci piring terpaksa membuka pintu dengan tangan basah yang di lap di rok.

"Temannya mbak Aulia? Silahkan masuk."

Bibi Salamah memanggil Aulia.

"Siapa kamu?" Tanya Aulia mengerutkan dahi.

Gadis berambut sebahu itu berdiri, "Aku Sari teman sekelasmu. Karena rumahmu dekat dengan rumahku jadi aku ingin sekalian main kesini."

Aulia mengangguk dan tersenyum. Memiliki teman adalah keinginannya sejak tetangganya pindah rumah. Ini adalah kali kedua dia mempunyai teman. Apakah tuhan mengabulkan doanya?

-------

Hari sudah berganti bulan, di salah satu taman dekat perumahan, Aulia dan Sari berbincang. Kadang tertawa, kadang sedikit menyindir, kadang sedih.

"Aul kamu sampai sekarang enggak punya pacar?" Tanya Sari

Aulia mengangguk. Bagaimana dia bisa mendapatkan pacar teman saja sulit.

"Oh iya katamu kedua orang tuamu sedang bekerja di luar negeri. Bolehkah kalau pulang aku meminta oleh-oleh?" Harap Sari.

Aulia diam lalu tersenyum, "baiklah nanti aku akan telepon kalau kita sudah pulang."

"Kalau begitu ayo kita pulang sekarang, aku ingin sekali dapat hadiah dari luar negeri." Ucap Sari semangat.

Aulia mengangguk.

------

Hujan turun kembali membasahi kota ini, Aulia menyuruh Sari untuk pulang. Kini tak jauh dari tempat yang dirindukan, Aulia berdiri. Sudah 2 tahun sejak kejadian lalu, Aulia benar-benar rindu tempat itu. Walau hanya sekedar menyapa. Dilangkahkan kakinya menuju tempat itu. Aulia terdiam di depan gundukan tanah. Dilihatnya nisan yang terpasang. Senyumnya sedikit terangkat.

"Pah, Mah. Apakah hujan akan menangis terus melihat kejadian waktu itu. Maafkan aku bila berbohong kepada mereka. Papah sama mamah bahagia ya disana. Aku berharap bahagia. Bibi Salamah sama Pak Sutiyo orang tua terbaik. Papah sama mamah juga. Dulu waktu kecil aku selalu membenci hujan. Sekarang aku sudah tidak takut karena aku yakin dengan sedikit senyum dan berbaur, aku akan sedikit melupakan kejadian waktu itu. I love you papah mamah." Ucap Aulia yang tubuhnya sudah basah diguyur hujan.

Sore itu di pemakaman dekat jalan merah. Alam menjadi saksi bahwa seorang gadis kecil yang dulu hanya memandang teman-teman tetangganya sekarang telah menjadi gadis pemberani. Membela yang benar dan tidak menghina yang salah. Namanya Aulia.

TAMAT

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 23, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

NAMANYA AULIA || By : CamelliaStories to obsess over. Discover now