***
Semilir angin di musim hujan ini kembali menyapa gadis berparas anggun dengan khimar pashmina khas menutupi separuh tubuhnya seperti yang dianjurkan dalam Al-Qur'an.
Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka ….” (QS. An-Nuur: 31)
Langkahnya tak memelan walau tak sekalian ia mengabaikan orang yang menyapanya. Senyum yang terlahir dari mata cantik nan lentik membuat semua orang tau dia selalu menghargai setiap salam yang terucap. Terlebih ketika nada balasan suara terdengar samar.
Ini tahun ke tiganya di ia menuntut ilmu di Universitas Terbaik di Kota Bandung. Setelah Universitas harapannya telah memberikan luka, mungkin ini pertanda yang terbaik dari tuhan untuk kembali berharap dan lebih dekat lagi dengan sang pencipta alam dan seisinya.
Keluarganya yang tidak terlalu mendukung segala ambisi hidupnya ia jadikan sebuah motivasi untuk terus bermimpi. Mungkin pernah dipermasalahkan saat ia duduk di bangku SMA namun melihat kegigihannya, keluarganya tak lagi menjadi pemutus harapan ia kepada tuhannya.
Dia Gheeya Nafisya Maulina Azzahra. Gadis cantik berparas lembut namun hadirnya tak terlihat karena kalah bersinar dari rembulan. Baik dari hati ayahnya, dari cinta sang ibu dan juga seseorang yang telah lama menghuni hatinya.
“Assamu’alaikum sahabat ku,” suara seseorang membuat Gheeya mengerejap pelan karena ia berjalan dengan pikiran yang kemana-mana.
Gadis itu mendokak lalu memberi senyum yang membuat matanya yang sayu kini terlihat lebih cantik seakan ikut tersenyum pada kedua orang yang menyapanya tadi.
“wa’alaikumsalam warahmatulahi wabarokatu, sahabat-sahabat jannah ku,”
Mereka berdua adalah Alma dan Sheela orang kepercayaan Gheeya selama SMA sampe detik ini. Mereka sudah seperti adik Gheeya , sekaligus sahabat Gheeya semasa putih abu. Mereka juga menempuh pendidikan di Universitas Padjajaran Bandung sama halnya seperti Gheeya mereka berda di semester lima.
“Gheeya kita laper, sekalian ada buku yang harus kita beli juga. Bisa ikut kita makan diluar sekarang?” ujar Sheela ketika keduanya berjalan menuju halte, dimana mereka akan menunggu angkutan umum yang akan membawa mereka ketempat tujuan yaitu salah satu mall yang ada di Kota Bandung ini.
“Terserah kalian saja, aku sih ikut aja, kalian pasti tau tempat makan yang sesuai selera aku dan paket hemat,” jawab ku yang membuat Shela dan Alma terkikik geli dengan candaan ku.
“Gheeya emang hari ini gaada agenda kumpulan BEM ya?” ujar Alma.
“Pasti enggalah ya Ghee masa iya sekertaris BEM pelupa,” balas Sheela dengan nada meledek disertai gelak tawa Alma.
“Kalian tuh kalo mau ngeledek bilang-bilang kek biar aku mikirin dulu aku harus ngeledek kalian balik kaya gimana,” jawab Gheeya sebal.
“Sayang-sayang aku, aku lagi free kok, lagi gaada jadwal rutin kecuali ….” Ucapnya terpotong.
“Kalo ada tugas dadakan dari Ketua BEM tercinta,” Potong Sheela dan Alma disertai tawa mereka bertiga.
Gheeya adalah salah satu mahasiswi di falkutas psikologi, dan menjabat sebagai sekertaris BEM jadi pantas saja dia terkenal. Berbeda dari Sheela yang terkenal dengan kecerdasannya Gheeya bahkan terkenal karena karena ia aktif dalam berorganisasi, selain sikap hangatnya yang membuat orang-orang tidak sungkan meminta bantuannya atau sekedar menjadi teman sesaatnya, beliau sangat teguh pendirian.
Sheela Baqri Naura adalah sahabat Gheeya semasa putih abu ia terkenal dengan kecerdasannya, ia bisa masuk Universitas Padjajaran jalur SNMPTN Falkutas Kedokteran. Gheeya selalu masa iri dengan kecerdasan sahabatnya ini namun irinya Gheeya dijadikan sebagai motivasi untuk senantiasa belajar lebih baik lagi, tak lupa dengan bersyukur.
Alma Azizah Zahra adalah sahabat Gheeya semasa putih abunya, beliau punya sikap yang sangat ceria dia selalu bisa menjadi moodboster semua orang. Hobi dia makan, kadang makanan temennya suka direbut, bukan kadang lagi si tapi emang sering hhe.
Ditengah candaan mereka bertiga datanglah dua orang yang tak asing bagi mereka Amalia seorang mahasiswi hukum yang super duper sibuk, dan Choerunnisa seorang mahasiswi farmasi juga model terkenal yang so sibuk.
“Assalamu”alaikum sahabat jannah ku,” ujar mereka berdua.
“Wa’alaikumsalam,” jawab kami serempak.
“Sini-sini duduk, udah lama loh kita ga kumpul gini,” jawab Gheeya.
“Bukan kita yang jarang kumpul Ibu BEM yang satu ini yang jarang ikut nongki,” jawab Nisa, oh ya Nisa adalah nama panggilan untuk Choerunnisa.
“Afwan deh ,jalankan nongki buat ngerjain tugas aja susah banget,” jawab Gheeya.
“Ish ish tak patut dicontoh tuh,” balas mereka berempat bebarengan.
Ditanggapi Gheeya dengan senyuman.
Dua sahabat Gheeya lainnya yaitu Choerunnisa dan Amalia mereka berdua sedikit berbeda dengan Gheeya, Sheela ,dan Alma. Mereka berdua berasal dari keluarga kayaraya dan terbiasa hidup mewah, mereka bisa memilih hidup mereka sendiri bahkan tampa perjuangan tapi bukan sahabat Gheeya namanya klo mereka berdua tidak mau berusaha terlebih dulu untuk mencapai semua keinginannya. Gheeya bersama 4 sahabatnya sama-sama berjuang dari nol untuk sampai detik ini untuk menggapai segala impian mereka.
***
DU LIEST GERADE
Tersirat
Aktuelle LiteraturTerkadang aku takut mengejar sementara kamu menghindar, menunggu padahal kamu tak pernah datang
