---
Di antara perbukitan hijau yang diapit taman bunga, kastil itu menghadap pegunungan dengan anggun. Tempat sempurna untuk pernikahan.
Hari ini Anna akan menikah dengan Elias, putra salah satu konglomerat ternama. Giza pernah sekali bertemu tuan muda itu di pesta keluarga. Pria tampan yang pantas bersanding dengan Anna yang cantik.
Giza menggelung rambut hitam legamnya. Mata hijaunya yang gelap mewarisi warna mata ibunya yang sudah lama pergi. Seorang kepala pelayan menghampirinya.
"Giza, panggil Nona Anna. Pernikahannya akan segera dimulai."
Giza naik ke lantai dua menuju kamar Anna. Begitu pintu terbuka, ia mendapati Anna berdiri di beranda tanpa gaun pengantin. Gaun itu masih tersimpan rapi di atas ranjang.
"Kenapa Anda belum bersiap? Sebentar lagi upacara dimulai."
Anna berbalik. Wajahnya merah, matanya sembab. "Giza, aku tidak bisa menikah."
"Apa yang terjadi?"
Anna memeluknya erat. "Aku mencintai seseorang lain. Aku tidak mau perjodohan ini."
"Maksud Nona, tidak mencintai Tuan Elias?"
"Dari awal kami tidak saling mencintai." Anna terisak. "Aku tidak bisa menikahi orang yang bukan cintaku."
"Tapi Nona, jika Nyonya tahu Anda kabur, saya bisa dipecat."
"Aku mohon." Suara Anna melemah. "Bawa aku keluar dari kastil ini."
Giza berpikir sejenak. Sebelum sempat menjawab, ketukan keras terdengar dari balik pintu. Mereka berdua langsung panik.
"Kau gantikan aku." Anna berbisik.
"Tapi Nyonya-"
"Aku mohon. Aku tidak mau dipaksa menikah." Gedoran semakin kencang.
"Baiklah." Giza menarik napas. "Saya akan menggantikan Anda."
Mereka bertukar pakaian dengan cepat. Anna mengenakan seragam pelayan agar bisa kabur. Giza mengenakan gaun pengantin indah itu, gaun yang selama ini hanya hadir dalam mimpinya. Tapi sekarang bukan saat yang tepat untuk memikirkan hal itu.
"Terima kasih, Giza."
Tuan Albert masuk. Giza segera menurunkan cadar agar wajahnya tidak terlihat. Pria tua itu menggenggam tangannya dengan hangat.
"Kau sudah siap, Sayang?"
Giza mengangguk pelan tanpa bersuara.
"Hari ini kau tidak banyak bicara." Albert menatap putrinya yang menunduk. "Baiklah, mungkin kau terlalu gugup."
Mereka berjalan menuju altar. Di taman yang dipenuhi bunga, Elias berdiri menunggu dalam balutan jas hitam. Matanya abu-abu, tatapannya tenang tapi berat. Giza menahan napas.
"Jangan gugup, Ayah ada di sisimu." Bisik Albert lembut.
Upacara dimulai. Saat tiba giliran mengucap janji, Elias mengernyit. Ada yang berbeda. Suara. Cara berdiri. Ia menarik cadar itu.
Bukan Anna.
Elias menatap wajah asing di hadapannya. Rahangnya mengencang. Tanpa berkata apa-apa, ia mencengkeram tangan Giza dan menyeretnya turun dari altar.
"Tuan Albert." Suaranya dingin dan terkendali, justru lebih menyeramkan dari amarah biasa. "Anda mempermainkan saya."
Albert terkejut. "Di mana Anna?"
Giza tidak bisa berkata apa-apa. Setelah didesak, akhirnya ia membuka suara. "Nona Anna kabur. Ia tidak mau menikah."
"Kenapa kau biarkan putriku pergi!" Nyonya Alaska membentak Giza, wajahnya memutih.
