Tes Kompetensi

80 22 12
                                        

Awal yang cukup menantang dan melawan ketidakpercayaan diri atas kemampuan yang dimiliki. Tapi Diba mencoba melawan itu ditengah kemelut tugas akhirnya yang entahlah bagaimana nasibnya karena terus mengalami pengunduran jadwal untuk disidangkan.

Diba yang sedang fokus menyelesaikan tugas akhirnya teralihkan oleh notifikasi recruitment yang disebar di grup jurusannya. Diba membuka chat tersebut dan memberitakan pada Ibunya. Tak biasanya dia demikian jika ada info recruitment, biasanya hanya diabaikan begitu saja.

Ibunya mendukung Diba untuk apply ke perusahaan tersebut. Belum lagi Diba memang mendamba untuk bisa bekerja di perusahaan tersebut sejak awal masuk perkuliahan. Ayahnya pun mendukung,

Sebuah perusahaan besar dambaan banyak pencari kerja karena fasilitas yang diberikan sangat terjamin untuk kesejahteraan pekerjanya. Sungguh sebuah kebahagiaan jika Diba bisa bekerja di perusahaan tersebut.

Diba mulai mempersiapkan kebutuhan berkas untuk apply, Diba mulai memperbarui CVnya dan membuat portofolio seadanya sesuai dengan apa yang pernah dia kerjakan. Cukup minder ketika menambahkan aplikasi yang pernah dia buat.

'Duh pasti yang apply orang hebat semua, pasti CVnya lebih bagus, apalagi portofolionya, ah udahlah ini beneran coba coba banget. Kalo keterima ya syukur kalo enggak juga yaudah gapapa'

Diba menarik napas panjang dan membuangnya dengan berat, meyakinkan dirinya lagi bahwa dia bisa. Dan dia meyakinkan diri kalau nanti dia kerja tidak akan mungkin bekerja sendirian. Karena sudah menjadi keharusan seorang yang bergelut pada dunia software untuk bekerja secara tim. Karena sangat tidak mungkin jika menggarap aplikasi besar sendirian. Pastilah recruitment ini untuk aplikasi besar. Mana mungkin perusahaan besar membuat aplikasi sederhana.

Di hari terakhir Diba mengirimkan CV dan portofolionya melalui email yang diinformasikan. Harap-harap cemas khawatir lamarannga tidak dibuka karena dikirim sangat mendekati deadline.

Beruntung sekali Diba langsung mendapat balasan jadwal interview tahap pertama di perusahaan tersebut. Diba mendapatkan jadwal pekan depan. Diba merasa kurang yakin apakah dia bisa, apakah dia mampu? Mengingat ini merupakan perusahaan besar yang dalam bayangnya pasti meiliki kriteria yang sangat tinggi, sedangkan dia hanya memiliki kemampuan seadanya saja.

***

Tiba hari dimana Diba akan menghadapi interview. Sebelum berangkat Diba meminta doa kepada kedua orangtuanya, meminta agar dilancarkan dan dimudahkan agar bisa diterima di perusahaan tersebut. Disisi lain Diba membatin bahwa jika dia diterima di perusahaan tersebut, merupakan salah satu pembuktiannya kepada Rangga yang dengan sengaja berusaha membuatnya terancam tidak lulus kuliah.

Rangga merupakan teman sekelas Diba yang menyimpan hati pada Diba. Rangga jatuh cinta pada Diba karena kebaikan hatinya. Dia merasa Diba ini sosok yang paling bisa membangun semangatnya, membuat dirinya bangkit dan semangat dengan masalah apapun yang dia miliki. Padahal di sisi lain, Diba melakukan itu pada semua temannya. Sampai pada suatu hari Diba diajak ke sebuah kafe oleh Rangga, namun Ari, yang merupakan kekasihnya meminta Diba untuk menemaninya ke distro. Jelas, Diba lebih memilih menemani Ari dibanding Rangga, sejak itulah Rangga jadi temperament dan kerap hampir melakukan kekerasan fisik kepada Diba jika Diba tidak mau menemani Rangga sampai Diba harus meminta teman laki-lakinya untuk melindungi Diba dengan mengantarnya atau mengalihkan Rangga agar Diba bisa pergi.

Ketika interview, ternyata Diba merupakan satu-satunya perempuan yang apply. Perasaan tidak yakin semakin menggelayuti dan terus terdengung akan ketidakmungkinan Diba bisa diterima. Diba memiliki persepsi kalau laki-laki lebih jago coding dibanding dirinya. Karena memang begitu fakta yang dia alami di kelas selama kuliah.

Tibalah giliran Diba untuk diinterview. Disana sudah ada Tama dan Sergo. Diba mulai gugup. Ini pengalaman pertamanya sebagai pencari kerja. Diba ditanya mengenai keahliannya. Tama terkagum dengan CV dan portofolio Diba, begitupun dengan Sergo. Tidak hanya karena keahliannya, Sergo juga kagum pada paras cantik Diba.

'Wah Tuhan baik banget bisa nemuin gue sama makhluknya yang sempurna banget. Udah cantik, pinter, ramah juga. Kalo aja gue bisa jadiin dia istri gue, pasti bahagia banget'

Selesai interview, Sergo, Tama dan Pak Wandi berdiskusi siapa yang pantas diterima. Hanya 1 orang yang diterima perusahaan. Diskusi berjalan serius namun santai karena dibumbui dengan candaan dan Diba.

"Gila ya tadi yang cewek keren banget. Udah cewek sendiri, dia paling banyak skillnya." Celetuk Tama.

"Sumpah, gokil banget tuh dia. Mana cantik lagi," balas Sergo.

"Jadi yang mana?" tanya Pak Wandi.

"Yang cewek sih pak," jawab Sergo.

"Biar bisa dijadiin calon istri ya" sindir Tama.

"Bukan gitu, tapi emang dia skillnya paling keren, ya gak Pak?" Sergo meminta persetujuan Pak Wandi.

"Iya sih, tapi saya pinginnya cowok. Cuma kalo emang yang bisa cuma cewek yaudah gapapa. Siapa tau juga ini jodoh buat Sergo. Kasian dia belum nikah."

Setelah diskusi yang cukup singkat, Pak Wandi mengirim email ke semua pelamar dan hanya Diba yang mendapat undangan untuk melanjutkan ke tahap psikotes.

***

Sampai di rumah, obrolan mengenai Diba tadi terus terbayang. Benar juga, usianya kini sudah matang, karir pun sudah mapan. Rumah? Mobil? Sudah jelas ada. Kurang apa lagi bekal untuk menikah? Mental? Sudah siap. Tinggal calon istri yang belum ada. Umur Sergo sudah cukup matang bahkan sangat matang untuk membina rumah tangga. Sebentar lagi sudah akan kepala 3. Sudah tepat unutk mencari seorang istri.

Rumah yang besar ini terasa sangat dingin tanpa adanya siapapun dirumah ini. Andai saja ada istri dirumah pasti setiap pulang kerja akan ada yang menyambut hangat. Belum lagi ketika ada anak, pasti rumah ini akan ramai. Senang rasanya jika khayalan Sergo menjadi kenyataan.

Jika Diba kelak menjadi istrinya, Sergo memastikan akan pulang dan pergi bersama. Kerja di divisi yang sama nantinya, bekerja sama mengerjakan suatu project. Terus terlibat dan berkoordinasi dengan Diba.

'Sepertinya seru memiliki istri yang bergelut di bidang yang sama. Semoga saja Diba memang jodohnya.' 

Meskipun Diba nanti tidak bekerja di divisi tempat Sergo bekerja saat ini, Sergo dan Diba akan bisa dan terus berkoordinasi untuk project ini. Diba sungguh perempuan yang mengagumkan sejak awal dilihat oleh Sergo. Sergo benar-benar tertarik pada Diba. Sergo akan segera melamarnya jika nanti Diba telah memakai toganya dan menyandang gelar dari hasil kerja kerasnya kuliah selama ini.

Diba memang masih sangat belia untuk menjadi seorang istri, tapi tak apa. Sergo akan membimbing Diba menjadi seorang istri yang baik dan benar. Yang bisa menjadi penyejuk hatinya, jadi partner kerja dan sehidup semati tentunya. 

Code Gank [COMPLETED]Where stories live. Discover now