Aku Ceritakan Nanti

16 0 0
                                        

Sebenarnya sejak hak sepatu setinggi 12 cm yang aku kenakan menapaki entrance ballroom hotel yang sudah direservasi khusus ini, perasaanku sudah resah. Benar-benar gelisah.

Pasalnya, ini akan menjadi momen pertemuan pertamaku dengan teman-teman yang tidak pernah lagi aku temui semenjak lulus SMA.

Sepuluh tahun tentu bukan waktu yang singkat. Tapi aku percaya, bukan pertemuan dengan teman-teman biasa yang membuat jantungku berdetak berlebihan dan telapak tangan basah karena keringat dingin. Melainkan keyakinanku bahwa si Tengil itu -mantan pacarku satu-satunya- juga turut hadir.

Reuni kali ini terbatas untuk jurusan IPA saja, namun melihat dari sudah padatnya keadaan ballroom bisa dipastikan setidaknya lebih dari setengah teman-temanku telah hadir. Kami datang sendirian, tidak diperbolehkan membawa keluarga ataupun pasangan kecuali pasangannya juga merupakan alumni IPA seangkatan.

Sejak dua bulan lalu, gengku sudah mewanti-wanti agar aku bisa ikut reuni kali ini. Karena lima tahun lalu, saat rata-rata dari kami baru berstatus fresh graduate, aku memutuskan tidak hadir padahal tidak ada halangan yang mencegahku mengikuti reuni waktu itu. Tiap tahun sebenarnya ada pertemuan kecil-kecilan hanya saja aku sudah lebih dahulu memutuskan untuk menarik diri dari lingkaran pertemanan SMA. Oleh karena itu, melihat kedatanganku kali ini, gengku benar-benar rusuh. Mereka yang ternyata telah datang terlebih dahulu sontak mengerubungiku.

"Gue kira bakal gak datang lagi!" seru suara tinggi milik Atha. Sahabatku yang bertubuh paling tinggi diantara kami berlima.

Aku tersenyum menanggapi itu dan kembali dibuat kewalahan karena dua sahabatku yang lainnya sibuk membenahi rambut dan pakaianku. "Ayo, Sis! Waktunya membuat para mantan menyesal!" Zula, sahabatku yang malam ini tampil memukau dengan rambut hasil styling ke salon sejak pagi tadi memberiku semangat. Sedangkan Kala hanya mencibir mendengarkan kalimat Zula. Jelas saja, bagian mana yang benar dari kalimat itu. Tidak ada para mantan. Seperti yang sudah aku sebutkan tadi, aku hanya punya satu mantan. One and only.

Tersisa satu sahabatku yang sedari tadi tidak terlalu memperhatikanku. Matanya sibuk memindai isi ruangan tanpa peduli bahwa sebagian besar mata di tempat ini terpaku pada keelokan rupanya. Vira. Wanita cantik berparas sempurna dengan kinerja otak berbanding lurus dengan kecantikan. Perempuan yang sebenarnya banyak bicara, namun untuk beberapa kondisi ia lebih senang menjadi pengamat.

Kedatanganku sedikit banyaknya tentu mencuri perhatian. Mau merendah seperti apapun, ingatan orang tentang diriku dan gengku semasa SMA tentu bermuara pada banyak momen luar biasa, mulai dari hal sepele hingga cerita-cerita hebat yang kami torehkan masa itu. Gengku sangat terkenal. Orang-orang menggunjing kami sebagai sekelompok manusia yang hanya berteman dengan sesama wanita cantik, pintar, dan dari keluarga kelas atas. Padahal semua itu hanya kebetulan, karena kami ditempatkan di kelas yang sama selama tiga tahun.

Selain itu, aku tidak pernah merasa diriku cantik. Sejujurnya aku selalu minder jika kami berlima sedang berkumpul karena aku melihat mereka berempat begitu bersinar, hingga pada satu titik aku tersadar bahwa aku tidak kalah bersinar dibanding mereka. Sebuah kepercayaan diri yang tumbuh karena kepercayaan dari seseorang yang dahulu begitu berarti. Saking berartinya, hanya kata-kata orang itu yang aku percayai dan mampu membuatku menjadi seperti sekarang. Wanita kuat, mandiri, dan menjadi bintang yang bercahaya paling terang.

Acara demi acara berlangsung normal. Aku tahu, sedari tadi seseorang tak sedikit pun melepas pandangannya dariku. Sedang aku sendiri berusaha menahan agar mataku tak membalas tatapannya. Karena aku yakin, begitu iris hitam legam itu mengunci tatapanku, saat itu rasa bersalah yang selama ini coba kubendung akan jebol dan tumpah ruah menenggelamkanku dalam kubangan bernama penyesalan.

Baby, Come Back! Stories to obsess over. Discover now