Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Sudah 3 Hari, Langit di Kota Kudus diselimuti awan hitam. Mendung, tapi tidak pernah hujan. Hanya saja gerimis-gerimis kecil yang muncul beberapa saat, kemudian reda lagi. Begitu terus, sehingga membingungkan orang-orang mau pakai jas hujan atau tidak. Begitu pula dengan Rena, Siswa kelas tiga di salah satu SMK Negeri di Kudus.
Seperti biasanya, Rena pulang dari Sekolah dijemput oleh Tukang Ojek langganan Keluarganya. Namanya Pak Ridwan, yang selalu mengantar jemput Rena dari kelas 1 SMP. Ayahnya Rena, sudah sangat percaya kepada Pak Ridwan. Kadang, Rena malah dititipkan ke Rumah Pak Ridwan kalau Ayah dan Mama Rena harus Keluar kota ada urusan Pekerjaan.
Pak Ridwan sudah dianggap keluarga sendiri oleh Keluarga Rena.
Sampai didepan gerbang Rumah Rena, Rena membuka gerbang sendiri. Beberapa hari ini, ayahnya memberikan kunci gerbang sendiri. Latihan mandiri katanya, sehingga gak teriak-teriak lagi memanggil Mamanya jika sudah sampai Rumah.
"Mau bapak temenin saja nduk? Sambil nunggu Ayahmu Pulang?" Tanya pak Ridwan yang kasihan melihat Rena masih saja Murung
"Ndak usah Pak." Jawab Rena dengan muka datar
"Ini masih jam 4 Sore lho, Ayahmu palingan Pulang Maghrib" Tawar pak Ridwan kembali
"Iya pak, Bapak Pulang aja, ditunggu Sinok lho" Tolak rena, Sinok adalah Anak satu-satunya Pak Ridwan yang biasa main sama Rena kalau rena menginap dirumahnya Pak Ridwan.
Pak Ridwan pun bergegas Pulang, memakai kembali Jaket Waterproofnya, untuk menghindari kebasahan dari titik-titik gerimis kecil yang lama-lama akan membahasi juga.
Beberapa saat, Pak Ridwan sudah menjauh dari Rumah Rena, Rena kembali masuk ke Rumah. Membuka kembali Pintu Rumah, tentu saja dengan kunci dari Pemberian ayahnya.
Rena bergegas keatas, Lantai dua, dimana letak kamar Rena berada. Setelah membuka Pintu Kamar, Rena agak kaget, melihat Mamanya disana. Mamanya melihat beberapa foto yang duduk diatas meja belajar Rena. Orangtua Rena memang sangat menyayangi anaknya, hampir disetiap tumbuh kembang Rena terdapat foto-foto dokumentasinya. Diatas meja belajar Rena, terdapat Foto Rena yang masih Bayi, TK, SD, SMP hingga ke SMK saat ini.
"Lho, kamu sudah pulang, kok gak salam?"
"Iii...yaa Maa, maaf."
Mamanya kembali melihat foto-fotonya Rena diatas meja.
"Kamu kok cepet banget gedenya yaa nduk?" Sahut Mama Rena
"Mama masih inget lho, waktu kamu Umur tiga tahun, Mama masih suka gendong kamu. Ayahmu paling yang sering marah. Wes gede lho anakmu buk, mosok digendong terus. Ayahmu selalu bilang gitu. Padahal Mama kan seneng gendong kamu. Kamu juga mesti manja kalau sama Mama, Minta gedong mulu" Tambah si Mama
Rena masih diam saja, dia terharu, sedih, bahagia semuanya campur aduk menjadi satu bergejolak di hatinya.
"Apalagi waktu kamu kelas I SD, ayahmu beliin kamu sepeda. Kamu ajak temen-temen komplek balapan sepeda. Ya tentu saja, kamu yang menang. Wong tenagamu, tenaga laki-laki. Ibu-Ibu komplek sampai protes lho ke Mama, anaknya pada nangis karena kamu kalahin balapan. Sampai Mama harus tekor beliin mereka permen satu-satu biar ndak nangis lagi"