Part 1

88 5 1
                                        

Nama lengkapku Very Subagjo, usiaku saat ini menginjak 25 Tahun, nama itu merupakan warisan dari aAyah dan Ibuku, sedangkan di lingkungan teman-temanku aku lebih di kenal dengan nama panggilan 'Jojo.
Ketika usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) aku sudah memiliki bakat dalam bidang Olah raga volly ball, sehingga tak heran guru bidang study Olah ragapun selalu mengirimkan aku dalam setiap turnamen yang ada di lingkungan dinas pendidikan.

Entah dari siapa aku mewarisi bakat tersebut, karena di keluarga besar kami tidak ada satupun yang memiliki bakat seperti yang ku punya, Ayahku yang hanya seorang petani dan Ibuku seorang Ibu Rumah Tangga, yang hanya memiliki seorang anak yaitu aku, pantas saja mereka sangat menyayangiku karena memang hanya akulah yang menjadi harapan masa depan satu-satunya untuk mereka.

Dalam keadaan hidup yang pas-pasan, tak jarang kami diterpa cobaan yang membuat ayah dan Ibu harus berjuang hebat demi mempertahankan hidup.

Aku bangga terlahir dari mereka yang selalu mendukungku dalam segala hal, terutama dalam bidang olah raga yang aku miliki sekarang.

__Flashback__

lngat ketika aku masih duduk di kelas VIII salah satu Sekolah Menengah Pertama, aku terpanggil menjadi salah satu wakil atlet bola volly dari sekolah kami yang akan dikirimkan ke Kabupaten dengan membawa nama Kecamatan.

Seperti halnya siswa yang lain pada jam pelajaran pertama aku mengikuti pembelajaran, meskipun aku tidak termasuk anak yang berprestasi, namun dikalangan para siswi aku merupakan salah satu siswa yang mereka idolakan.

Entah apa yang membuat mereka menyukaiku? karena menurutku aku sama saja dengan siswa yang lain kulitku cenderung sawo matang, parasku tak begitu rupawan hanya saja hidungku sedikit lebih mancung, badanku tinggi dan berisi.

Aku dan teman sebangku ku 'Gunawan lagi asik mengerjakan tugas yang diberikan oleh salah satu guru mapel, tiba-tiba seseorang memanggilku.

"Jo, nanti jam istirahat tiba kamu langsung menghadap Bapak di kantor yah". Ucap seseorang yang memanggil ku, yang tak lain ia adalah Pak Syarip (Guru Olah raga).
Serentak aku menoleh ke arah sumber suara sambil menjawab.

"Ada apa, pak?" Tanyaku masih dengan rasa kaget.

"Ada yang ingin bapa bicarakan sama kamu." Jelasnya padaku.

"Iya, pak. siap..." Jawabku sambil mengangguk.

Kulihat hampir seisi kelas mata siswa dan siswi yang ada di sana tertuju padaku seraya bertanya dan mencari jawaban dariku, namun tak aku hiraukan tatapan mereka, aku kembali melanjutkan tugas yang masih belum selesai.

"Kriiing...Kriiing..."

Suara bel berbunyi tanda istirahat sudah tiba, tak menunggu waktu lama, aku segera membereskan alat tulis yang masih berserakan di atas meja, setelah di rasa rapih aku langsung beranjak dari tempat duduk dan membiarkan Gunawan yang masih asik dengan tugasnya.

"Gun, aku tinggal ke kantor dulu yah." Ucapku padanya.

Tanpa menunggu jawaban darinya aku langsung pergi ke arah kantor.

Sampai di depan kantor terlihat pintu kantor terbuka lebar, pandangan pun langsung tertuju keruang guru tempat dimana mereka beristirahat dari rutinitas mengajarnya.

Aku lanngsung mengetuk pintu dan mengucap salam.

"Tok...Tok...Tok..."

"Asalamualaikum,,,"

"Waalaikum salam"
Serentak guru-guru yang tengah santai beristirahat menjawab salamku, mereka semua menoleh ke arahku.

"Oh kamu, Jo. Silahkan masuk". Salah satu guru mempersilahkan ku masuk.

"Apa Pak Syaripnya ada Pak?" Tanyaku padanya sambil ku perhatikan sekeliling, karena aku masih belum melihat sosok yang tadi pagi memanggilku.

"Ada, Jo. Masuk aja langsung ke ruangan nya, Pak Syarip sudah menunggu kamu." Ucapnya seraya sudah mengetahui apa maksud kedatanganku.

"Oh iya, Terima kasih Pak".

Aku langsung menghampiri pak Syarip yang ada di ruangan nya, pak Syarip pun menyambutku dengan ramah.

"Silahkan duduk, Jo." Ia menyuruhku.

"Iya, Pak." Aku duduk di kursi tepat di depan meja kerjanya.

"Ada apa Bapak memanggil saya kesini?" Tanyaku dengan penuh rasa penasaran.

"Begini Jo, tadi pagi bapak menerima surat dari pak camat, yang isinya sekolah kita harus mengirimkan salah satu siswanya untuk mewakili cabang Olah raga volly yang nantinya akan digabungkan dengan atlet-atlet pilihan dari sekolah lain untuk ikut turnamen di Kabupaten." Pak Syarip menjelaskan itu panjang lebar kepadaku.

Tidak ada kata yang ku ucapkan, aku hanya mengangguk tanda mengerti dengan apa yang ia sampaikan.

"Bapak bermaksud untuk mengirimkan kamu kesana, gimana kamu siap?" Tanyanya kepadaku.

"Oh, gitu pa." Aku masih belum menyanggupinya.

"Kalau kamu bersedia, kamu minta izinlah dulu kepada orang tua mu, mumpung masih ada waktu." Lanjutnya lagi.

"Aku bersedia Pak, tapi tidak tahu dengan Ayah dan Ibu." Aku memberikan jawaban yang sedikit menyisakan keraguan.

"Ya sudah, kamu minta izin saja dulu. Sekarang balik saja ke kelasmu. Besok kabarin Bapak." Suruhnya.

"Iya, pak. Terima kasih."

"Asalamualaikum."
Aku pergi keluar meninggalkan ruangan membawa rasa ragu, aku tak yakin apa Ayah dan Ibu akan mengizinkanku untuk pergi karena ini pertama kalinya aku ikut turnamen di tempat yang jauh, mungkin saja tidak cukup dengan waktu satu hari.

Jam pelajaran berakhir, aku pulang tergesa-gesa ingin segera sampai kerumah dan memberikan kabar ini kepada kedua orang tuaku.

PESONA TAMPAN SANG ATLET VOLLYStories to obsess over. Discover now