"Masa nyantri itu adalah kebohongan dan juga jalan penyesalan bagi mereka yang menikmati masa nyantri tak serius. Mereka hanya akan mengundang masalah di masa depan. Apa masih pantas disebut santri? Jika berurusan dengan kegiatan pesantren mereka akan melakukanya tanpa pikir panjang demi pandangan sosial agar terlihat alim. Mereka menderita kebohongan, kerahasiaan, kegagalan bahkan tersesat dari jalan Allah. Bagi mereka nyantri hanya bumbu kehidupan. Jika kegagalan menjadi simbol dari nyantri, maka orang yang gagal memiliki teman di Pesantren memiliki masa nyantri yang sulit, aneh bukan?. Tapi kurasa mereka tidak berpikiran seperti itu. Segalanya berjalan sesuai keinginan mereka. Biar Kuperjelas. Mereka yang menikmati masa nyantri tak serius menuntut ilmu, mati saja!!!.
Itulah yang ditulis Rizal ketika disuruh ustadnya untuk menulis kesan-kesanya menjadi santri. Rizalpun segera di Panggil Ustad Bahar ke kantor Madrasah Diniyah selaku pengajarnya di majelis tadi.
"Kamu yang mati saja, hei Rizal tugas yang kuberikan?" kata ustad bahar
"ohhh,tulisan tentang penerapan kitab ta'lim mutaalim di kalangan santri" kata Rizal dengan muka panik dan bingung.
"lalu kenapa kenapa kau menulis hal yang menghina seperti ini?apa ini? Kenapa malah begini?"Kata ustad bahar dan langsung meletakan kertas tugasnya di atas meja.
Rizalpun hanya menuduk ketika di marahi ustad bahar sperti itu
"astaghfirullahalladzim, matamu seperti ikan tongkol yang di jual bu Ijah." Kata Ustad bahar.
"Enak tuh tad ikanya, pasti ustad suka ikan tongkol bu ijah ya" kata Rizal cengengesan
" jawab dengan serius" kata ustad bahar membentak
"a aku menulis menulis tentang cara nyantri dengan benar, belakangan ini para santri seperti itu kan?" kata Rizal
"dasar bocah, jangan sok pintar kamu" kata ustad Bahar dengan menghela nafas
"bocah? Kalau di bandingkan usia ustad aku memang bocah" Kata Rizal
Ustadpun marah dan hampir memukul Rizal. Beruntung Ustad bahar sengaja tidak mengenainya
"apa kamu gak diajari sopan santun terhadap orang yang lebih tua" kata ustad bahar
"maaf, akan ku ulangi..." kata Rizal segera menghentikan kalimatnya karena ustad bahar sepertinya memikirkan sesuatu.
"ikuti aku? Kata ustad bahar.
Mereka segera menuju sebuah kantor dimana kantor tersebut ada sebuah sekat dan di balik sekat ada seorang santri putri.
"Assalamualaikum" kata ustad bahar
"walaikumsalam" Kata santri putri
" terus siapa yang mengikuti ustad?" kata santri putri.
"aku paham dengan suara santri putri ini. Kelas 5 madrasah diniyah Hasanah, madrasah khusus santri putri, dimana di ajar oleh abah yai langsung, dan di madrasah itu ada santri putri kesayangan abah yai, Arum Soliha, dia terkenal di seluruh pesantren" kata Rizal dalam hati
"Dia akan ikut jadi anggota departemen konseling santri" kata ustad bahar.
"aku Rizal kelas 5 dari madrasah diniyah umum, mm (bergabung apanya) itu.." Kata Rizal
"ini hukuman atas tugasmu, kamu harus bergabung dengan departemen konseling santri. Aku tidak mau mendengar keluhan apapun (sambil memandang Rizal) Dia memiliki hati seburuk matanya, dan itu membuatnya sedih dan tidak punya teman, aku ingin dia bergabung dengan departemen ini demi menolongnya agar meniru ahlakmu, sebagai antisipai yai marah, aku sudah bekerja sama dengan ustadzah aisyah untuk mendapat anggota santri putri satu lagi." Kata ustad bahar.
"aku menolak tadz. Dari cerita ustad aku jadi takut denganya dan diriku dalam bahaya" kata arum
"Tertutup sekat seperti ini kau tidak usah khawatir " Kata Rizal
"Jangan khawatir dia mungkin seperti itu, tapi dia dapat di percaya, dia takan melakukan hal yang membuatnya di kekuarkan dari pesantren, anggap saja seperti nyamuk" kata ustad bahar
ESTÁS LEYENDO
Departemen Konseling Santri
RomanceBercerita tentang Seorang Santri bernama Rizal Rahmat yang memiliki sifat anti sosial, Pesimis dan memiliki pandangan yang berbeda tentang kehidupan serta menganggap sebuah pertemanan hanya Sia-sia. Karena itulah ia memilih menghabiskan waktunya se...
