BIJI ALPOKAT

26 2 0
                                        

Pernikahan Namira dan Rendy terbilang cukup unik. Bagaimana tidak? Drama yang Rendy ciptakan benar-benar menguras tenaga Namira untuk berhenti berteriak.

Sore hari kala senja mulai menampilkan langit orange yang cantik, mulut seorang Namira terkunci rapat. Napasnya tersengal-sengal. Dadanya bergemuruh. Air mukanya kusut. Rambutnya berantakan pun dengan matanya yang menatap tajam netra bening Rendy.

"Jangan marah lagi."

Namira mendengus. Bersidekap dengan wajah melongos marah. Rendy sungguh makna kutukan yang sesungguhnya. Sudah tahu Namira takut menikah—menjalin komitmen pernikahan—tapi dengan warasnya membuat Namira hamil.

"Aku mau nanas!"

Yang mana itu membulatkan mata Rendy. Hampir-hampir akan keluar dari tempatnya. Kepalanya menggeleng kuat-kuat. Terukir senyum keji yang lebih kepada seringaian.

"Enggak bisa! Itu anak aku."

Rahimku pindah ke kamu saja kalau begitu. Rongrongan dewi batin Namira.

Karena Rendy memang lelaki tampan dengan sejuta percaya diri yang melekat, jadilah Namira tertawa kencang. Kesal setengah mati pada apa yang Rendy katakan.

"Cukup tinggal bersama aku dan hidup bareng aku. Apa itu kurang?"

Rendy regup bahu Namira. Di remasnya pelan dengan senyuman sayang dan redupan mata berpendar sejuta harapan.

"Karena bareng kamu saja nggak cukup bagi aku. Maaf... ini terdengar egois. Tapi aku sudah lebih sangat egois di saat pertama kali menyentuh kamu. Sebenarnya... apa yang kamu takutkan?"

Jujur. Namira tersentuh. Lima tahun bersama bukan waktu yang sebentar. Lima tahun mengarungi kebersamaan secara suka duka juga bukan perkara sepele seringan membalikkan tangan. Lima tahun bersama... bagi Namira yang lemah sungguh memiliki arti lemah. Tapi kebencian dalam menjalin komitmen juga tidak bisa Namira abaikan begitu saja. Meskipun bernotaben harmonis—tidak ada tindakan perceraian di dalam keluarganya—namun karena sangat sempurna itu, Namira takut patah berkeping-keping.

"Aku nggak bakal lakukan apa yang kamu pikirkan. Sepicik itu kamu?"

Tidak Rendy tutup-tutupi ekspresi kecewa di wajahnya. Jantungnya tertikan bongkahan batu besar. Berlubang dan berdarah.

Pikirannya melayang. Menyimpulkan banyak spekulasi bahwa selama ini, kebersamaan selama lima tahun bagi Namira bukan suatu hal yang harus di pertahankan. Lima tahun bersama di mata Namira adalah bencana. Lima tahun bersama di mata Namira hanyalah sebuah angka tanpa memperhitungkan berapa banyak waktu yang telah mereka habiskan.

Kenapa cintanya pada Namira semiris ini sedang hati sungguh tulus?

Masih belum usai dengan ketegangan yang pasangan aneh itu ciptakan. Suara perawat yang memanggil nomor urut Namira tidak menyurutkan kadar ototnya untuk melemah. Mau tidak mau memutus mata rantai yang menyalakkan api kobaran di dalamnya.

Rendy giring Namira memasuki ruangan berdominasi warna putih serta bau obat-obatan antiseptik. Namira coba teguhkan pilihannya. Selama bersitegang dengan Rendy dan nyatanya lelaki itu masih saja mau di sampingnya, Namira yakin ini paling benar.

Sebelum kemudian dokter menyingkap kemejanya dan perutnya di lumuri gel dingin. Sampai di atas bangkar pun, Namira seolah tidak tersadar. Rendy menuntutnya dengan pelan dan mencium punggung tangannya begitu biji alpokat terpampang di layar monitor.

"Ada... dua," kata dokter wanita kisaran umur empat puluhan. "Masih kecil-kecil tapi sudah kelihatan jelas. Selamat Namira. Kamu calon ibu pilihan mereka yang paling tepat."

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 04, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Good TogetherWhere stories live. Discover now