Memberinya sinyal? Berharap dia tahu meski kau tak pernah mengungkapkan? Jangan berharap terlalu tinggi. Kalau kehadiranmu saja hanya di anggap sekilas, mana mungkin dia tahu perasaanmu. Memikirkanmu saja rasanya sudah tak mungkin.
Tanpa sadar aku menghela nafas pelan. Rasanya masih sakit, masih sesesak saat pertama kali aku tahu kalau orang yang kucintai ternyata mencintai saudaraku sendiri. Padahal aku yang lebih dulu mengenalnya, aku yang menjadi teman pertamanya, aku yang selalu ada untuknya, aku yang rela melakukan hal-hal bodoh demi dia, dan aku yang seharusnya menjadi wanita beruntung karena memiliki hatinya, juga cintanya. Seandainya aku lebih berani mengungkapkan perasaanku, setidaknya hanya agar dia tahu saja sudah cukup dan aku tidak harus berpura-pura senang sekarang.
Kulirik dia melalui ekor mataku yang masih setengah mengantuk sedang melakukan panggilan video dengan kekasihnya. Iya, saudaraku yang beruntung itu. Dia sesekali tersenyum manis, tertawa senang karena berhasil membuat orang di sebrang sana kesal, dan hal-hal yang tidak bisa secara rinci kujelaskan karena rasanya benar-benar tidak baik untuk hatiku. Aku mengalihkan atensiku pada novel yang beberapa saat kuanggurkan. Untung saja teman-temanku yang lain tidak menyadari apa yang baru saja kulakukan.
Membaca memang mampu membuat aku sejenak lupa apa yang aku pikirkan. Hanyut dalam cerita benar-benar membantuku merasa lebih baik, tapi kenapa kali ini rasanya tidak membantu sama sekali? Bahkan saat salah satu temanku melemparkan lelucon, aku yang biasanya tetawa keras kali ini hanya menanggapinya dengan senyum. Aku benar-benar mengutuk diriku sendiri saat ini. Bisa-bisanya otakku memikirkan kekasih orang lain, terlebih orang lain itu adalah saudaraku sendiri. Sekilas, aku merasa kalau dia menatapku saat dia duduk di depanku, ikut bergabung setelah urusannya selesai. Aku pura-pura fokus pada bacaanku selama beberapa menit. Setelah kurasa waktunya tepat, aku pamit untuk naik ke kamarku dengan alasan mengantuk.
Iya, aku menghindari dia. Kejadian semalam benar-benar membuatku malu setengah mati. Terlebih pada diriku sendiri. Aku masuk ke kamar dan mengunci pintu. Rasanya cukup nyaman setelah aku sendirian. Aku merasa bebas berekspresi. Dan sekarang aku benar-benar ingin menampar diriku sendiri. Kalau bisa, aku ingin hilang ingatan saja.
Kalau saja aku tidak menyetujui acara pergantian baru di rumahku, kalau saja mereka tidak mengajak dia ke rumahku. Kalau saja aku bisa menolak. AAAAARRRGGHH!!! INI MEMBUATKU GILA!!
Semalam, setelah perayaan pergantian tahun baru di belakang rumahku, kedua teman perempuanku memilih untuk tidur saat jam menunjukkan pukul 1 pagi sedangkan ketujuh teman lelakiku-termasuk dia-memilih untuk movie marathon di ruang tengah rumahku. Aku sendiri lebih memilih untuk merapihkan bekas makan kami agar tidak terlalu berantakan. Aku selesai mencuci piring dan gelas kotor kemudian tersentak kaget saat kutemukan dia bersandar di konter dapur sambil memangku tangan. Matanya menatapku lamat dan aku berusaha bersikap normal meskipun jantungku rasanya jatuh sampai ke perut.
Aku ingat dengan sangat jelas saat dia menghampiriku dengan air mukanya yang benar-benar tidak bisa aku artikan, dia menarikku begitu saja ke pelukannya. Jelas saja aku menjadi sekaku papan, tiba-tiba bisu dan menarik napas saja aku lupa caranya. Satu-satunya yang bisa aku dengar adalah suara detak jantung yang cepat. Semoga itu bukan punyaku karena aku benar-benar tidak tahu harus apa kalau seandainya dia mendengarnya. Dan aku semakin menegang saat dia mempererat dekapannya, menyembunyikan kepalanya pada ceruk leherku, dan gumaman kata maaf yang terdengar lirih di runguku.
Aku masih merasakan dadaku berdebar kencang saat mengingat kejadian itu. Aku menatap langit-langit kamarku sambil mencoba mengenyahkan ingatan semalam. Tapi dengan kurang ajarnya, pikiranku malah semakin mengingat kejadian setelahnya. Aku benar-benar seperti melihat reka adegan ulang di depanku, saat dia tiba-tiba mengurai pelukannya dan menatap mataku dalam.
YOU ARE READING
Before You Go: Reason
Short StoryMemberinya sinyal? Berharap dia tahu meski kau tak pernah mengungkapkan? Jangan berharap terlalu tinggi. Kalau kehadiranmu saja hanya di anggap sekilas, mana mungkin dia tahu perasaanmu. Memikirkanmu saja rasanya sudah tak mungkin.
