awal

16 4 4
                                        

Suara pendeteksi jantung bergema di ruangan berdominan putih, terbaring lemah diatas bankar, kepala terlilit oleh kasa dan sedikit ada bercak obat merah, gadis kecil itu terpejam masih di alam bawah sadar, tanpa tahu sedang dimana sekarang

Kesunyian yang menemani gadis kecil itu tanpa seorang pun de dekatnya, nasib yang mungkin tidak ingin dia alami sekarang terjadi, mungkin dia akan susah untuk melupakan sesuatu yang menyakitkan menurutnya

Ceklek

Dokter dengan setelan baju putih dan stetoskop yang tergantung dilehernya memasuki ruangan gadis itu, mendekati lalu memeriksa kondisi gadis itu

Saat di periksa pergerakan kecil terjadi pada gadis kecil itu, dokter tadi tersenyum ketika melihat perkembangan gadis kecil itu, matanya terbuka perlahan, dan sampai terbuka sempurna

Gadis itu bingung, lalu melihat ke sisi sampingnya dan menemukan dokter tadi, matanya melebar, pertanda dia sedang terkejut dan takut

Dokter yang kaget juga ikut panik dan berusaha untuk menenangkan gadis kecil itu

"Tenang sayang, tenang om dokter bukan orang jahat, tenang okey"- ujar dokter tadi dengan pelan

Gadis itu tetap menggelengkan kepalanya, berteriak, sambil berusaha melepaskan alat pernapasan yang ada di hidungnya

"Tolong maafkan aku, aku tidak tahu apa salahku, tolong maafkan aku tuan, tolong bebaskan aku"- pinta gadis kecil itu sambil terus terisak

Dokter tadi hanya menatap gadis kecil itu pilu, dia juga bingung bagaimana harus menghadapinya saat ini, karna kondisi mentalnya sedang terganggu karna kejadian yang dia alami beberapa hari yang lalu

"Okey, om dokter tidak akan menyentuhmu, dan akan membawa kamu pulang, asalkan kamu mau bercerita pada om, apa yang terjadi pada kamu"- kata dokter itu dengan lembut

Gadis itu tampak berfikir dan mulai mendekati dokter itu, dokter yang melihat itu tersenyum tipis

Dokter itu duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu

"Sini duduk, om punya coklat buat kamu"- ucap dokter tadi sambil mengeluarkan coklat dari sakunya

Gadis itu berbinar ketika melihat sebatang coklat di tangan dokter itu, dan mendekati dokter itu dengan cepat dan duduk di sampingnya

"Apakah kamu mau bercerita sekarang?"-tanya dokter

Gadis itu mengangguk lemah, dan ingatannya mencoba untuk mengingat kejadian yang beberapa ia lalui





Flashback on

Makan malam yang begitu tenang, dengan teman bunyi dentingan sendok dan garpu yang saling berpadu, menghiasi ruang makan, saat itu

"Ayah, aku besok akan bersekolah looh"- kata gadis kecil

"Oh yaa, Aileen akan sekolah besok?"- tanya ayah

Gadis itu mengangguk semangat sampai poni rambutnya ikut tergoyang

"Kamu ini, hanya baru mau sekolah TK saja pamer, aku dan dia sudah lulus TK saja tidak sombong seperti kamu"- kata anak lelaki yang ada di depan gadis kecil bernama Aileen

"Sudahlah Aiden, dia juga adikmu, aku juga kakakmu, jadi jangan begitu"- kata anak lelaki yang memiliki wajah seiras dengan anak lelaki di sampingnya

"Iyaa Aiden kamu tidak boleh seperti itu, nanti adik kamu sedih, contoh kakakmu Aidan dia baik pada adikmu, jadi kamu harus bisa lebih sayang pada ailen oke"- kata sang ibu

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Sep 30, 2020 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

SenandikaDonde viven las historias. Descúbrelo ahora