Bagian 1 (1) : Roda Dua Asmara

687 92 24
                                        

  Jakarta, 7 April 2016

  Pagi hari itu Samudera atau seorang laki laki yang biasa disapa Dera sedang bercengkrama di atas teras dengan salah satu sahabat rimbanya Icad, mereka sedang berbincang perihal keluhan keluhan seorang bujangan yang berdasi abu abu.

  "Cad kata temen temen lu lagi ngincer satu cewek ya?" ucap Dera sambil menelan kue kelapa yang sedari tadi ia genggam.

  "Oh si April," balas Icad.

  "Wah parah lu ngincer cewek cantik satu sekolah."

  "Gua kan ada project baru, judulnya project sakit hati," ujar Icad sambil membusungkan dada.

  "Tau ah ngawur lu, yu ah berangkat sekolah keburu telat nih cad," ajak Samudera sambil menyimpulkan tali sepatu converse hitamnya yang nampak tempur sekali alias kusam.

  Sementara itu Dera dan Icad bergegas berangkat sekolah menggunakan motor tua yang telah dimakan usia namun tak pernah tenggelam dalam arus zaman, Dera dan Icad dipersatukan oleh Vespa yang masing masing mereka kendarai, konon katanya apabila seseorang mengendarai Vespa yang tercipta diantaranya ialah tali ikatan persaudaraan.

  Dera dan Icad menyelah motornya masing masing, namun motor Icad tak kunjung hidup, sementara waktu terus berjalan, tak ada waktu untuk memperbaiki masalah yang membuat motornya Icad enggan hidup.

  "Udah cepet nebeng aja di motor gua cad, pulang sekolah kita benerin motor lu, sementara simpan aja di rumah gua," ujar Dera.

  "Yaudah iya, ah ada ada aja lu Vebi pake mogok segala lagi," ujarnya sambil kesal.

  Setibanya di sekolah, Dera dan Icad telat 5 menit sementara itu murid murid lainnya sedang upacara, ia dengan motor tuanya yang berisik mengganggu berlangsungnya kegiatan upacara hari senin, satpam penjaga sekolahpun bergegas menegur mereka berdua untuk segera mematikan mesin motornya.

  "Woy bocah berisik banget, cepet matiin, ini lagi upacara loh!" tegur Pak Satpam sambil menodongkan tongkatnya.

  "Yaelah iya pak lagian namanya juga motor tua," balas Dera dengan santainya.

  "Kalian jangan dulu masuk, udah telat lagi enggak liat jam apa?" tanya Pak Satpam.

  Dera dan Icad terpaksa harus menerima hukuman dari Pak Satpam dikarenakan mereka telat, bagi Pak Satpam Dera dan Icad tidaklah asing, mereka berdua sering di hukum karena mereka tergolong anak anak nakal yang susah di atur, tapi bagi Dera dan Icad berbeda, menjadi seorang pemuda yang hidup bebas tanpa aturan merupakan suatu kesenangan.

  Kegiatan upacara hari senin telah berakhir, semua murid memasuki kelasnya masing-masing, sementara itu Dera dan Icad selalu menjadi kuncen lapangan yang hobi hormat kepada bendera merah putih, sepertinya di antara murid lainnya, Dera dan Icad tergolong murid yang berjiwa tanah air, bagaimana tidak, murid lain hormat kepada bendera hanyalah beberapa saat, sedangkan Dera dan Icad ialah murid yang paling lama hormat kepada bendera merah putih, jadi sebetulnya mereka berdua lah yang pantas menyandang gelar pemuda berjiwa merah putih.

  Tatkala kedua mata Dera dan Icad fokus ke arah langit dimana bendera merah putih berkibar, tiba tiba ada suara mobil yang memasuki gerbang sekolah. Didapatinya seorang perempuan cantik dengan potongan rambut pendek namun tak terlalu pendek layaknya seorang laki laki turun dari mobil, perempuan itu telah mengambil alih pandangan Dera dan Icad, bahkan bendera merah putih pun yang sakral bisa dikalahkan oleh perempuan cantik yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Perempuan itu berjalan ke arah ruangan kepala sekolah, ia di temani orang tuanya bersama Pak satpam yang menunjukan arah dimana
ruangan kepala sekolah berada.

  "Giliran cewek cakep gak dihukum, dasar satpam ganjen!" teriak Icad sambil menoleh sinis ke arah Pak Satpam.

  Pak Satpam hanya mengarahkan jari tengahnya ke arah Icad dan memasang muka kesalnya, sementara Dera hanya terdiam seolah ia tenggelam dalam kecantikan perempuan itu.

Saat Segalanya Tak Mengenal Arah PulangStories to obsess over. Discover now