Kutatap kepergian wanita dengan rambut cokelat sebatas punggung yang tertunduk, menolak melihat wajahku. Masih tersisa wangi lembut dari parfume yang dia gunakan. Middy dress berwarna mustard tersapu angin sore, tas selempang yang terbuat dari rotan digenggamnya erat. Langkahnya tergesa meninggalak kontrakan Saga, berbelok ke kanan dan hilang ditelan jarak.
Beberapa menit lalu, dia duduk dibonceng tunanganku, Saga. Dengan tangan kanan melingkar mesra di pinggang lelakiku. Hati mana yang tak panas, ketika kembali kulihat bukti nyata lelaki yang berniat menikahiku membiarkan kemesraan hadir dalam interaksi dua insan berlawan jenis, membawa wanita itu ke rumah kontrakan yang ia tinggali sendiri. Dan ketika kutanyakan perihal bubungan keduanya?
"Hubungan kami tidak sejauh yang kamu pikirkan, Ra ...," sergah Saga.
Aku mendecih, melempar senyum kecut saat mendengar alasan Saga. Dia ingin membela diri dan dibenarkan atas kesalahannya?
"Dua bulan lagi kita nikah. Kumohon, jangan memperpanjang masalah ini," pintanya dengan wajah memelas. Ya, masalah. Dia sendiri yang mengakui lerbuatannya adalah sebuah masalah, yang dia ciptakan. Dan aku yang harus menyudahinya?
Lagi-lagi aku mendecih mendengar kata-katanya.
"Harusnya pernikahan kita menjadi pembatas, Saga. Tapi kamu tak mengindahkan niatanmu itu dengan menjalin hubungan dengan wanita lain. Tidakkah cincin ini menjadi alasan untuk membatasi hubunganku dengan pria lain? Tanda, bahwa aku sudah ada yang memiliki?" Kutunjuk cincin emas sederhana dengan permata imitasi kecil ditengahnya, cincin yang ia sematkan dihadapan kedua keluarga kami sebagai tanda dia akan meminangku. Sebagai tanda bahwa aku sudah ada yang memiliki.
Aku memandang tajam matanya yang meredup, sinarnya dipenuhi rasa malu. Sedikit di tekuk wajah itu, menunduk tak mampu mempertahankan tantanganku. Yang salah selalu tertunduk, menanggung malu bukan karena menyesal. Tapi karena ketahuan.
Kami duduk saling bersisian di tempat kontrakan Saga. Dua bangku plastik dengan sandaran dan satu meja plastik bundar menjadi pemisah.
"Maafkan aku, Raina," ucapnya pelan.
"Kenapa, Saga?" Penuh kecewa kutanyakan alasannya. Bukankah setiap tindakan berdasar pada suatu alasan? Aku ingin mendengar alasannya.
Hening menyelimuti kami sejenak, sebelum Saga menjawab pertanyaanku.
"Aku sedikit ragu dengan pernikahan kita awalnya," jawabnya. Membuatku sedikit tersentak. Melihat reaksiku, segera Saga menyanggah alasnnya dengan berkata, "tapi sekarang aku sudah yakin," tegasnya. Tapi aku tak bersuara. "Hubunganku denga Talia hanya sebatas teman curhat."
Aku tersenyum miris menanggapi kalimat terakhirnya.
Aku tak mudah terpengaruh dengan sebuah perkatataan yang belum terbukti, juga tidak akan mengambil sebuah keputusan dalam keadaan tergesa. Pengalaman mengajariku untuk selalu bersikap tenang dan mengambil keputusan melalui pertimbangan. Dua tahun menjalin hubungan dengan Saga tak juga membuatnya memahami siapa aku. Sebelum mendatanginya dan menuntut penjelasan darinya, sudah terlebih dulu aku menyelidiki kabar yang beredar tentang kedekatan hubungan antara Saga dan Talia. Aku tahu, hubungan kerja diantara mereka membuat mereka menjalin tali pertemanan. Dan sekarang aku bisa menyimpulkan kenapa tali pertemanan itu sampai melewati batas.
Berawal dari keraguannya pada pernikahan kami, hingga Saga menumpahkannya pada Talia dan menjadi dekat. Kedekatan menimbulkan kenyamanan dan menyebabkan kemesraan, hingga mereka terhanyut dalam sebuah hubungan yang tak bisa dibenarkan. Setidaknya, tidak untukku.
"Aku ngerti maksud kamu," kataku mengangguk. Ada sinar harapan di mata Saga saat aku mengatakannya dengan tenang. Kata-kataku saja yang tenang, didalam sana perasaanku berkecamuk. Bergemuruh seperti langit mendung sebelum badai. "Tapi sekarang, aku yang mulai ragu padamu."
Kutatap cincin pertunangan yang Saga berikan padaku, memutarnya di jari manisku, dan perlahan melepasnya. Tak mudah. Sudah jauh kutapaki kisah ini dengannya, sudah banyak perbedaan yang kami baurkan dan maklumi. Tapi keputusannya melibatkan orang lain yang tak seharusnya, membuatku berfikir ulang dan menahan langkah.
"Andai kamu mengatakan keraguanmu padaku, aku akan memaklumi dan mencoba membangun kepercayaanmu lagi. Tapi kamu, dengan mudah mencari bahu lain untuk bersandar. Apa jadinya jika kita menikah, memiliki masalah dalam rumah tangga, lalu kamu memilih bahu seorang wanita untuk meluahkannya? Kemana hubungan itu akan menuju, Saga?"
Aku tak lagi melihat ke arahnya. Aku melihat pada cincin yang kini terapit oleh ibu jari dan telunjukku. Menatap benda kecil sederhana yang cantik itu dengan sedih. Bukan, bukan karena aku akan kehilangan emas murni bernilai 3 gram. Tapi karena benda ini yang memberiku harapan, benda yang diharapkan bisa mengikat pertalian dua keluarga, namun harus kulepaskanan. Tak mudah, sungguh. Batinku menangis, dadaku terasa nyeri, tapi aku harus mengambil keputusan ini.
"Kamu, sama halnya seperti ibu, tahu betapa aku membenci penyelewengan, Saga," ujarku penuh kecewa. "Jadi, mari kita sudahi hubungan ini. Aku tak lagi yakin bahwa aku ingin menikah denganmu." Kusodorkan cincin yang sedari tadi ku pegang dengan kedua jariku. Mengarahkannya sedekat mungkin ke arah Saga, diatas meja. Dia menayap benda kecil bersinar itu, menggelengkan kepalanya tanda penolakkan.
"Aku cinta kamu," katanya kalangkabut. "Kamu mencintaiku kan?" Nada suaranya memelas, matanya memohon aku mengatakan iya.
"Ya, aku mencintaimu!" Seruku dengan nada rendah tapi penuh penekanan, tatapanku nyalang menatap mata cokelat teduh yang kusuka dulu. Terkikis sudah sikap tenangku menghadapi lelaki ini. Aku ingin dia paham, bahwa ada yang berkobar dibalik kata yang dengan pelan kuucapkan itu. Bukan, ini bukan perihal menyampaikan perasaan romantis. Bukan sekedar marah sesaat yang akan hilang setelah beberapa saat. "Tapi cinta itu telah bercampur benci!" Desisku, serupa ular kobra yang sedang menantang mangsa. Liar, karena lelaki ini telah berani mengusik kedamaian hatiku.
Dia tahu kisahku, selalu mendengarku mengulang-ulang betapa aku benci pada sebuah penyelewengan. Tapi rupanya, dia tak benar-benar memahami. Dan aku, hanya bisa menelan kecewa ini seorang diri.
Takan kupungkiri cinta untuknya masih besar membumbung tinggi dalam hati. Tapi rasa yang bertahta dengan nama cinta itu ibarat segelas air, jika sudah terdapat racun tak seharusnya diteguk, bukan? Kecuali jika ingin mati. Mati? Tidak! Cukup hatiku yang mati rasa padanya.
Kulihat wajahnya nampak kaget dengan nada kerasku, tak pernah aku kehilangan kendali. Aku tak sangat jarang membentak, tak suka dengan perdebatan yang membuat suara naik pitam. Aku, menyukai ketenangan.
"Belajarlah menyelesaikan masalah dengan menghadapinya, Saga. Bukan malah mencari kenyamanan untuk melupakan dan mengabaikan. Menikah bukan sekedar naik pelaminan, lalu memiliki anak dan selesai. Ada perjalanan yang sangat panjang yang harus kita tempuh, jika kamu berbelok arah dari tujuan, apa mungkin kita bisa sampai pada tujuan dari pernikahan?" Kusampaikan kalimat itu sebagai penutup.
Aku akan menyampaikan keputusanku pada Ibu dan keluargaku yang sudah menjadi saksi dan ikut bahagia dengan pertunangan kami dulu. Setelah itu, aku akan mengabari orangtua Saga. Ah, akan banyak hati yang dikecewakan atas putusnya ikatan ini.
Kusampirkan tas kecil yang ada dipangkuanku, berisi ponsel, kunci motor dan beberapa lembar uang serta KTP. Kusapu rambut sebahuku kebelakang telinga dan berdiri dari kursi plastik berwarna marun dengan hiasan bentuk bunga disandaran berwarna kuning. Ku tatap lelaki berperawakan sedang dengan kulit sedikit gelap yang masih tertunduk dalam. Diabaikannya cincin emas yang kukembalikan.
"Aku pamit," Kataku, meninggalkan dia yang masih terduduk lesu. Kususuri lahan kecil diteras rumah kontrakan dan keluar pagar menuju motor Vario-ku yang terparkir di depan pagar. Menaiki motor dan melajukannya dengan kecepatan sedang. Meninggalkan lelaki yang memiliki keraguan dihatinya, menuju keyakinaku akan keputusan yang ku anggap benar.
SELESAI
Jangan lupa jejak bintang di setiap cerita.
Ikuti akun saya dan baca cerita lainnya juga, ya.
Thank's for reading my story ☺️
YOU ARE READING
TEMAN MESRA
Romancekalau hanya berteman saja tak masalah, tapi kalo mesra sama temen? ya, jelas masalah. Karena Saga sudah bertunangan dengan Raina.
