We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

I. IGNIS

27 0 0
                                        

Hari beranjak senja. Matahari mulai menenggelamkan diri. Aku beranjak dari tempat tidurku dan berjalan menuju dapur. Tak ada siapa-siapa di sana. Segera kuraih tempat lilin dari atas lemari kayu reot di ujung dapur. Masih ada lilin yang tersisa di sana bekas kemarin malam. Aku memejamkan mata dan mengepalkan telapak tanganku, merasakan sensasi hangat yang menjalar mulai dari pangkal lengan terus turun hingga ke telapak. Saat aku akan membuka kepalan tanganku, tiba-tiba tanganku dicengkeram dengan kasar, "Hentikan! Nyalakan saja dengan korek api biasa," tegur seseorang dengan suara tajam. Aku mendengus kesal dan membalikkan tubuhku menghadap ke si pemilik suara yang tak lain adalah ayahku. Ia memandangku dengan tatapan marah. "Sudah aku bilang berkali-kali, jangan bertindak aneh-aneh," lanjutnya. Wajahnya nampak lelah sehingga kerutan di wajahnya terpampang jelas. Rambutnya yang mulai memutih terlihat berantakan dan keluar dari ikatannya. "Tapi tidak ada siapa-siapa di sini, Ayah," jawabku membela diri. Ia melotot kepadaku, "Kau lupa pada apa yang terjadi dengan keluarga Alden?" tanyanya. Seketika aku terdiam, tubuhku menggigil bila mendengar nama keluarga itu. Tanpa sadar aku menyilangkan kedua tanganku ke pundak, memeluk diriku sendiri yang ketakutan mengingat peristiwa mengerikan yang dialami keluarga Alden.

----------

Keluarga Alden adalah tetangga kami yang paling dekat. Mereka adalah keluarga sederhana yang hidup dari bercocok tanam. Tuan Alden adalah pria separuh baya yang bertubuh tinggi dan kurus. Ia sering membantu ayahku melakukan berbagai pekerjaan pertukangan di rumah kami, karena ayahku sendiri kurang cakap dalam melakukannya. Nyonya Alden berbanding terbalik dengan suaminya. Ia adalah wanita gemuk dengan tubuh tak terlalu tinggi. Namun, mereka sama-sama orang yang baik dan ramah. Tuan dan Nyonya Alden memiliki dua anak yang begitu mereka banggakan, Mary dan Louis. Mary adalah gadis cantik berambut pirang dengan mata biru yang indah sedangkan Louis adalah bocah berumur dua tahun yang menggemaskan. Pipinya gembil dan kemerahan. Mary seumuran denganku, maka tak heran kami sering bermain bersama.

Sore hari saat kejadian itu, kira-kira dua bulan yang lalu, Nyonya Alden datang ke rumah kami membawakan seloyang pie arbei buatannya yang terkenal lezat. Aku, ibuku dan Nyonya Alden pun duduk di beranda rumah kami sambil menikmati teh dan pie arbei. Ketika ibuku dan Nyonya Alden sedang asyik berbincang, Tuan Alden datang tergopoh-gopoh dan meminta Nyonya Alden untuk segera pulang. Ia nampak begitu kalut bahkan tak sempat menyapa kami – hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Nyonya Alden segera berpamitan dengan ibuku dan bergegas pulang bersama suaminya dengan setengah berlari.

Ketika akhirnya kami akan memasuki rumah, sayup-sayup terdengar teriakan-teriakan orang dari arah pusat desa. Rumah kami memang terletak di pinggir desa, tepat sebelum jalan masuk ke hutan. "Itu dia rumahnya! BAKAR! BAKAR!". Ibu langsung menarikku masuk ke dalam rumah dan mendekapku erat di balik pintu. Aku dapat merasakan degup jantungnya yang kencang, berlomba dengan detak jantungku sendiri. "KELUAR KALIAN, PENYIHIR!" seru seseorang dan disambut dengan teriakan orang-orang yang lain. Aku semakin merapatkan diri ke ibuku. Aku sangat ketakutan. Tak lama aku mendengar Tuan Alden membalas teriakan mereka, "KAMI BUKAN PENYIHIR. PERGI KALIAN DARI SINI!" hardiknya. Kerumunan orang-orang semakin liar dan tiba-tiba terdiam. Tak berapa lama terdengar suara dalam yang menakutkan memecah keheningan. Suara milik pria yang paling dihindari oleh kami para penduduk desa. Pria bengis dan kejam sekaligus kepala desa kami, Sir Alexander Counterburry. walau "Biarkan kami masuk dan meyakinkan diri kami sendiri bahwa kalian bukanlah penyihir," katanya. "Tidak. Bila aku izinkan kalian masuk, kalian akan mencari-cari celah dan menjatuhkan barang yang bahkan bukan milik kami untuk dijadikan sebagai alat fitnah. Persis seperti apa yang kalian lakukan pada keluarga Walter!" jawab Tuan Alden. Suaranya terdengar bergetar. Nampak sekali bahwa ia berusaha tegar walau begitu ketakutan. Hening lagi lalu terdengar suara tawa. Tawa yang meledek dan memuakkan berasal dari Sir Alexander. "Ah, jadi kalian mau dipaksa saja? Baiklah," lanjutnya dingin. "TANGKAP MEREKA!" serunya dan terdengar kegaduhan. Ibu mendekapku sangat erat hingga bahuku sakit. Aku menangis tersedu-sedu apalagi saat mendengar Nyonya Alden berteriak minta ampun, "Lepaskan kami, Sir! Ampuni kami! Mary! Louis! Oh, anak-anakku yang malang! Lepaskan mereka, mereka tidak bersalah!"

WASA - TAKDIR AKAN MENEMUKAN JALANNYAStories to obsess over. Discover now