Anak Ayah dan Ibu

5.5K 547 7
                                    

Menjadi bungsu dari 7 bersaudara terkadang membuat orang lain menganggap hal tersebut hanyalah omong kosong. Di jaman sekarang, siapa orang tua yang memiliki banyak anak? Jawabannya adalah keluarga Alwira. Meskipun bukan satu-satunya keluarga dengan banyak anak, tetapi keluarga ini kerap di sorot oleh tetangga. Ibu berkali-kali menjelaskan, anak adalah titipan Tuhan. Meskipun sudah di KB, jika Tuhan berkendak Ibu bisa apa selain menerima dan menyangi mereka.

Bukan karena banyak anak banyak rezeky Ibu rela melahirkan 7 kali dengan jarak yang berdekatan, Ayah dan Ibu percaya bahwa setiap rizky anak sudah di atur oleh Yang Maha Kuasa. Anak-anak di Keluarga Alwira berfikir, mereka tidak akan mempunyai adik selain Hamas. Namun setelah Hamas bisa merangkak, Ibu diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk kembali megandung.

Lahirlah Yesha Braga Alwira si bungsu yang menjadi pelengkap sebagai anak ke-7. Saat Ibu hamil, Ibu sering mengidam untuk pergi ke Braga entah sekedar untuk makan atau jalan-jalan, jadi ketika Yesha lahir nama Braga langsung di sematkan Ayah, katanya sebagai kenang-kenangan. Bersyukurnya setelah kelahiran Yesha sampai anak itu tumbuh dewasa, predikat anak bungsu resmi di sandang olehnya.

Anak Ayah dan Ibu ada 7 dengan rentang usia 1-2 tahun, sedekat itu memang jaraknya. Anak pertama Ibu baru saja menyelesaikan masa koas demi menjadi seorang dokter, Kenan Okta Alwira yang sekarang sedang menjadi dokter intern di sebuah Rumah Sakit di Bandung. Ke-6 adiknya memanggil Mas, Kenan itu orangnya lembut sekali tapi sifatna tegas dan bisa memimpin juga bisa di andalkan membuat seluruh keluarga mengakui jika Kenan pantas di manggil Mas dari pada Kakak atau Abang.

Di nomer 2, Tresna Abimana Alwira yang sama-sama di panggil Mas namun alasannya di panggil Mas supaya tidak ribet, begitu kata si bungsu. Sontak membuat Tresna pundung. Tresna baru saja menyelesaikan magang di perusahaan Pertamina, nasib baik dia di tempatkan di Padalarang, meskipun cukup jauh dari rumah, dia bersyukur tidak di tempatkan di luar kota. Meskipun harus rela bermacet-macetan dan berangkat subuh, selama dia tidak jauh dari keluarga Tresna ikhlas melakukannya.

Winar Cahya Alwira, mahasiswa yang masih menunggu kapan wisuda tetapi sudah magang di sebuah Perusahaan di Kota Bandung. Selain Kenan, Winar juga paling di andalkan adik-adiknya. Tegas tapi tidak galak, Winar bisa berperan sebagai Kakak maupun Adik, sebagai anak penengah dia yang selalu menjdi prantara adik-adiknya jika terjadi sesuatu. Wajahnya lucu tapi tenaganya kuli, maklum pemegang sabuk hitam karate.

Anak Ayah dan Ibu paling bongsor, Lucas Satya Alwira. Satu-satunya yang berbadan tinggi, suaranya ngebas seperti Ayah, kebiasaannya jika tertawa pasti memukul orang. Orang paling sibuk setelah Kenan, menjabat sebagai Ketua Himpunan kadang membuat Lucas jarang di rumah. Kuliah-rapat kuliah-rapat begitu terus kegiatannya. Sekalinya ada di rumah, tidur. Yesha sebagai anak bungsu kadang tidak terima, pasalnya jika dia yang tidur pasti Ibu akan mengomel.

Di antara 7 bersaudara ini Arjuna Wayang Alwira adalah manusia paling kalem. Kalem tapi bukan berarti tidak banyak bicara, dia adalah tipe manusia yang menghadapi sesuatu dengan santai, di fikirkan baik-baik baru di selesaikan. Tidak pernah tergesa-gesa dan selalu menyiapkan segala sesuatu sebelum bertindak. Selalu menjadi tempat curhat Yesha, karena Juna sapaan akrabnya tidak pernah ember, kecuali dalam situasi tertentu. Paling penting, dia yang ikhlas mengantar-jemput Yesha jika ada waktu.

Bungsu kedua, Hamas Bagja Alwira. Jika Juna definisi dari kalem, maka Hamas adalah kebalikannya. Petakilan sekali, sering rusuh, mencari topi yang lupa di simpan saja bisa membuat seluruh penghuni rumah ikut ribut. Mahasiswa baru yang asal memilih jurusan. Entah sial atau beruntung, dia diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung, terkenal pula. Padahal dia hanya cap cip cup kembang kuncup, tau-tau lolos seleksi SBMPTN. Partner Yesha jajan.

Lalu terakhir, Yesha Braga Alwira. Satu-satunya anak Ibu yang masih memakai seragam. Jika Kakaknya sudah kuliah dan bekerja, tersisa dirinya yang masih duduk di kelas XII SMA Negeri di Bandung. Jarak dari Kenan ke Yesha memang terpaut jauh, kerap membuat di bungsu merasa kesepian. Hanya hari libur keluarganya bisa berkumpul lengkap, tapi itu juga jarang. Hari-hari biasa yang sering dia temui hanya Juna, Hamas atau kadang Winar. Sementara yang lain memiliki kesibukan masing-masing termsuk Ayah dan Ibu.

Meskipun Ayah sudah tidak lagi muda, beliau tetap mengajar di Universitas Negeri di Bandung. Ibu juga sama, hanya berbeda kampus. Keduanya bekerja sebagai dosen. Jadi hari-hari mereka pun sama-sama sibuk meskipun tidak sesibuk anak-anaknya. Menyisakan si bungsu yang kadang harus rela pergi ke kampus Ayah, Ibu atau Kakaknya jika lupa membawa kunci atau tidak ada yang mejemput. Memang... nasib anak bungsu.

Diary Yesha || Liu YangyangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang