Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

capable

6 1 0
                                        

"Do, lo pernah dapet ipk kecil ga? Atau yang gampang deh. Pernah ga lo dapet hate dari orang lain?" tanya Ara pada cowok gondrong menyesap sepuntung rokok yang katanya punya rasa mentol sedang duduk disebelah cewek cantik yang pipinya berwarna oranye.

"Napa? Ipk lo kemaren kecil?" tanya cowok bernama Edo itu.

"bukan"

"berarti lo barusan dapet hate komen" kata Edo memutuskan.

Ara melihat jauh pemandangan di depan dengan mata berwarna almonnya. Mereka berdua sedang duduk di sebuah warung yang memberikan pemandangan indah di daerah payung.

Similir angin sejuk membuat Ara menggigil dan mengelus lengannya mengharapkan kehangatan.

"bukan sih. Gue ngerasa ga capable, ga cocok buat di titik yang sekarang

Ipk gue semester kemaren ga setinggi semester sebelumnya. Gue khawatir kecewain orang yang sayang sama gue" kata Ara.

"capek ga sih Do. Capek gue dituntut atau dilarang buat ngelakuin apa yang gue suka. Bahkan gue suka mempertanyakan diri gue waktu ngelakuin hobi gue.

Pantes ga sih? Gue ngelakuin ini bener ga sih? Gue ngelakuin ini buat apa sih?" lanjut Ara.

Bahu Ara pelan-pelan merosot sejalan dengan ceritanya yang terus berlanjut.

"Do, perasaan gue campur aduk. Jenuh banget. Gue pikir gue dah kebal sama lingkungan toxic dan caci-maki. Gue pikir gue kuat bisa ubah semua kebencian jadi acuan buat terus berusaha"

Isakan pelan Ara terdengar Edo.

Ini yang disukai oleh Ara kalau lagi 'deep talk' bareng Edo. Ia bakal dengerin Ara sampe selesai cerita tanpa memotong apa yang Ara mau sampein.

Biarkan Ara bercerita sampai akhirnya lega.

"lo butuh istirahat Ra. Butuh istirahat dari dunia. Paham ga maksud gue?"

Ara menggeleng tanda tidak mengerti. Istirahat dari dunia? Mati maksudnya?

"istirahat bentar dari dunia. BUKAN MATI. lakuin hal buat diri lo sendiri. Ga buka socmed dan ga ketemu manusia."

"lo butuh menjadi sosok Ara."

"cukup dengan Ara yang mengerti buat orang lain. Cukup dengan Ara yang selalu semangatin orang sekitar meski hatinya juga butuh semangat. Secukupnya aja. Lo ga perlu nunjukin sisi hancur lo ke semua orang, dan lo healing dengan cara lo sendiri aja"

Edo membuang puntung rokoknya sebelum melanjutkan.

"don't be bother about the hate because we can't makes everyone happy. Kita cuman ada satu mulut dan dua tangan jadi ga bisa menutup dan bilangin orang lain apa yang mereka katakan itu jahat."

"tapi kita punya dua tangan buat nutup telinga kita sendiri agar ga denger kata kebencian dari mereka."

"kita punya jalan kita sendiri buat ngelakuin kerjaan kita. Kita punya kecepatan sendiri dalam belajar. Cuman lo yang tau seberapa besar usaha yang lo lakuin buat berada dititik sekarang."

"masalah ipk..." kata-kata Edo menggantung dan tak kunjung dilanjutkan membuat Ara tidak sabar.

"Masalah Ipk kenapa Edo?" kata Ara menepok lengan Edo agak kencang.

"Jangan khawatir Ra. Ipk ga kepake buat ngelamar kerja. Jadi jangan masalahin ipk kecil atau besar, ga menunjukkan kesuksesanmu dimasa depan" kata Edo akhirnya.

Tak tau kenapa perasaan Ara lebih lega setelah mendengar perkataan Edo.

"WOY! Ayo makan mienya dah jadi gede-gede itu nungguin lo nangis ga dimakan-makan" kata Edo menyodorkan sumpit pada Ara.

acakStories to obsess over. Discover now