Velove Audy Anderson

10 0 0
                                        

Ini adalah kehidupanku. Lantas kenapa aku tak bisa memilihnya sendiri. Selama ini bukankah aku selalu menuruti keinginan Papa dan Mama ? Tetapi kenapa aku masih harus berkorban sekali lagi untuk keluarga ini? Batin Velove Audy Anderson.

Gadis itu termenung mematung tanpa ingin menjawab pertanyaan yang dilontarkan kedua orang tuanya. Dextone Peter Anderson dan Adriana Patrick Magdalena.

"Hanya kau satu-satunya harapan kami. Keluarga Anderson, mengertilah Ove." Menatap tajam gadis yang bernama Velove atau yang akrab dipanggil Ove. Gadis itu hanya mampu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Enggan untuk menatap kedua netra abu-abu milik papanya.

"Tapi Bukankah selama ini aku juga menuruti semua keinginan papa. Kenapa bukan kak Angela saja yang haeus menemui laki-laki itu? " ucap Lirih gadis itu. Namun tanpa diduga sebuah tamparan mendarat di pipi kanannya.

Velove pun terhenyak kaget. Kemudian dia menatap kedua netra abu-abu milik mamanya, Adriana. Benar, Adrianalah yang menampar pipi kanan milik Velove. Kedua bola mata Velove pun terlihat berkaca-kaca. Tak hanya pipi bagian kanannya yang terasa perih tapi hatinya pun terasa perih. Bagaimana tidak, sang Mama menatapnya dengan penuh amarah.

"Kau mengatakan Angela yang seharusnya berada di posisi mu? Apa kau tidak tahu bahwa kau hanyalah benalu dirumah ini? Kau bukan Putri kandung kami berdua!" ucap Adriana penuh dengan penekanan. Kedua matanya pun berkilat seakan menunjukkan amarah yang selama ini ditahannya.

Tentu saja pernyataan dari Adriana membuat Velove terkesiap kaget. Namun berbeda dengan sikap Dexton dan Angela. Keduanya hanya diam mematung tanpa ingin membantah.

"Apa maksud Mama? Jadi aku bukan anggota keluarga Anderson yang asli? Apa benar itu Papa tolong jangan bermain tentang hal ini. Ini sungguh lucu." Velove pun kini mulai terisak. Dengan tubuh gemetar nya Gadis itu menjatuhkan bokongnya di atas sofa seakan tenaganya hilang entah kemana. Rasa sakit hati yang menyerang saat ini mengalahkan pertahanan yang dibangun oleh Velove. Kenyataan yang sungguh pahit memang. Delaan belas tahun dirinya dibesarkan dan tumbuh sebagai seorang putri dari keluarga Anderson. Sebagai putri bungsu keluarga itu.

"Sudahlah kau jangan memasang wajah kasihan seperti itu. Aku sebenarnya sangat ingin menendang mu keluar dari keluarga Anderson. Karena hanya akulah putri dari keluarga Anderson yang asli. Kau Hanya anak pungut, jadi posisikan dirimu sebagai mana mestinya. Anggap aja sebagai balas budi mu kepada Papa dan Mama ku. Karena merekalah yang telah memungut mu dari tong sampah depan rumah." sarkas Angela Prilly Anderson, Putri sulung di kediaman Anderson.

Luruh sudah pertahanan dari Velove. Gadis itu tak hanya terisak. Kini air matanya seakan banjir membasahi kedua pipinya.

"Katakan padaku, apa saja kebenaran tentang diriku yang selama ini kalian sembunyikan."

"Kalau kami mengatakan yang sebenarnya apakah kau akan menuruti keinginan Papa? Tenanglah hanya satu malam saja kau hanya perlu menemani pak tua itu." kata Adriana dengan penuh penekanan. Seakan memberikan peringatan bahwa hanya inilah satu-satunya jalan bagi Velove untuk membalas budi kepada keluarga Anderson.

"Jika memang apa yang kalian inginkan adalah bentuk balas budi ku pada keluarga ini. Maka aku akan melakukannya. Tapi tolong katakan apa saja yang kalian ketahui tentang bagaimana kalian menemukanku."

"Seperti yang kami katakan. Kami menemukan mu di dekat tong sampah depan rumah kami 18 tahun yang lalu. Di tanggal itulah kami membuatnya sebagai hari ulang tahunmu. Kau hanya mempunyai satu buah selimut dan sebuah kalung liontin yang kami temukan di tubuhmu." ucap Dextone Peter Anderson menimpali.

"Kalau begitu di mana kalung liontin itu?" Velove mengusap air matanya. Aku harus tegar bagaimanapun mereka sudah memberikan 1001 kebaikan untukku. Meskipun saat ini aku harus mengorbankan masa depanku hanya untuk satu malam ini saja.

"Kalau kau sudah menyelesaikan apa yang mereka inginkan, maka aku akan memberikan kalung liontin itu kepadamu. Maka dari itu lebih baik Bersiaplah untuk menyambut utusan Tuan Mike."

"Cepat bersiaplah dan pakai ini. Jangan membuang waktu atau keluarga kita akan dibantai habis oleh orang-orang mereka." Angela melemparkan sebuah paperbag mengenai wajah Velove. Angela tersenyum sinis. Dasar bodoh memangnya siapa yang mau mau melayani orang tua seperti Tuan Mei dasar-dasar menjijikkan sudah lah lebih baik kita nikmati permainan ini kau tamat Velove karena Smith pasti akan meninggalkanmu. Kata Angela dalam hati. Gadis itu tersenyum puas saat melihat Velove bangkit dari tempat duduknya berjalan gontai menuju kamarnya di lantai dua.

Malam Kian beranjak jam dinding pun tak terasa sudah menunjukkan pukul 8 malam. Velove tampil menawan dengan balutan Gaun merah menjuntai kebawah hingga mata kaki. Dengan sedikit menampakkan paha dan bagian dadanya. Gadis itu terlihat risih, namun apa daya dirinya hanya mampu mengikuti alur permainan yang disajikan oleh keluarganya beserta orang sialan itu.

"Berhentilah merengek Velove! Hanya satu malam saja. Setelah ini kau bebas. Bukankah banyak gadis modern ini yang bahkan sudah tak perawan lagi? Kau hanya akan kehilangan mahkota itu. Tetapi kau bisa melarikan diri dari jeratan keluarga Anderson. Ya Allah pantas saja Papa dan Mama begitu dingin kepadaku. Tapi jika kepada Angela, mereka sangat bersikap hangat dan terbuka. Ya ampun Velove kamu ngapain sih? Tolong air mata  jangan jatuh begini dong. Bukankah Kamu gadis yang kuat? Terus kenapa sekarang cengeng?" Degup jantung Velove berdetak lebih cepat. Saat terdengar suara panggilan dari Adriana wanita paruh baya itu terlihat begitu terburu-buru Ingin menggapai Velove dengan segera.

"Kamu ngapain sih masih di sini? Lihat di bawah utusan Tuan Mike sudah datang. Dan kau masih tetap di sini? Apa kau ingin membuat kami malu? Bahkan kami sudah tak memiliki muka sekarang. Apa kau bahagia melihat kami menderita?" Sentak Adriana sembari mencengkram kedua bahu milik Velove. Gadis itu hanya mampu meringis kesakitan.

"Iya Ma ini Velove baru selesai dandan," jawab Velove dengan Lirih.

"Cepat!" Adriana segera menarik tangan Velove dengan kasar. Gadis itu sedikit berlari untuk menyamai langkah kaki Adriana.

"Pak Effendi ini dia hadiah pertukaran dari kami." Adriana pun segera melemparkan tubuh Velove dengan kasar. Laki-laki paruh baya itu menangkapnya dengan gesit. Kemudian menatap penuh arti kepada Adriana.

"Baiklah kalau begitu kami permisi Tuan, Nyonya mari ikut dengan saya Tuan sudah menunggu." Supir paruh baya itu pun segera berjalan lebih dulu mendahului Velove. Kemudian Velove menyusul nya dengan langkah kaki yang gontai. Seakan gadis itu tak memiliki tenaga sedikitpun.

Sepanjang perjalanan Velove mengalihkan pandangannya kearah luar jendela seakan pemandangan disana jauh lebih menyenangkan. Sedikit melupakan rasa sakit yang menggerogoti hatinya.

One Night LoveStories to obsess over. Discover now