Prolog ¦01

15 1 0
                                        

Raisya berjalan dengan membawa rasa penat luar biasa setelah bekerja. Sebuah helaan napas panjang sekali lagi berhasil lolos dari bibir tipisnya, melampiaskan tentang betapa penat dan betapa beratnya hari ini.

Karena lelah yang terasa tak lagi dapat dibendung, ia sampai melangkah tanpa mengangkat seincipun kakinya dari tanah. Menjadikan sepatu hak tinggi yang tampak serasi di bawah sepasang kakinya beregesekan dengan permukaan lembab trotoar karena hujan yang telah reda beberapa saat lalu. Tanpa peduli sepatu kerjanya itu akan rusak bahkan lebih buruk saat ia sampai di rumah nanti.

Perpaduan khas antara bau jalanan yang basah, dedaunan basah, dan udara malam yang terasa lebih dingin dari biasanya membuat Raisya setidaknya merasa lebih baik. Hujan sore tadi membuat malam ini terasa lebih sendu, tapi suasana sendu dan bau khas hujan inilah yang sekarang telah menjadi candu baginya.

Sekarang, Raisya telah menghentikan langkah kakinya hanya untuk sekedar menikmati udara khas nan sendu di sekitarnya.

Lalu ia mendongak, menghirup dalam-dalam aroma segar setelah hujan yang lagi-lagi telah menjadi obat baginya. Untuk sepersekian detik, Raisya dapat melupakan sejenak semua bebannya hari ini dan juga seluruh tubuhnya yang masih terasa begitu berat.

"Hei, bukankah kau anaknya si Steffan?"

Raisya sedikit terlonjak ketika perungunya tiba-tiba menangkap nama sang ayah, sementara di satu sisi ia sama sekali tak siap menerima sepatah katapun yang dilontarkan untuknya.

Wanita yang masih cukup muda itu akhirnya hanya diam sembari memperhatikan pria asing di hadapannya. Maka wajah datar khas yang hanya dimiliki oleh seorang Raisya telah menjadi ekspresinya saat ini. Menandakan ia sama sekali tak berminat menanggapi pertanyaan barusan.

"Aku baru saja pergi dari restoran Steffan, sepertinya ia telah mempunyai banyak pelanggan. Restorannya bahkan sudah tutup sementara saat ini masih pukul 7 malam," racau pria itu lagi, kali ini sembari memperhatikan jam tangan miliknya.

"Lalu?"

Raisya menjawabnya, tanpa basa-basi walaupun masih menggunakan nada yang sopan. Hawa pembicaraan kali ini seolah tidak direspon begitu baik oleh tubuhnya sendiri.

"Tidak. Aku hanya beruntung, kebetulan sekali bertemu denganmu seperti ini. Berkenan menemaniku makan malam, Araisya?"

"Mungkin lain kali. Kalau begitu aku permisi."

Raisya juga menundukkan sedikit kepalanya sembari tersenyum tipis sebelum melanjutkan kembali langkah kakinya yang masih terasa begitu lelah dan berat.

Sampai di detik Raisya sudah hampir berjalan berlawanan arah melewati pria asing itu, sebuah tangan yang lumayan besar dan terasa dingin mencekalnya, mencegah satu lengan beserta seluruh tubuhnya untuk tidak melangkah lebih jauh lagi.

Ah, tubuhnya memang lebih baik dalam mengirimkan sinyal bahaya daripada dirinya sendiri. Hawa pembicaraan yang tadi tidak direspon baik oleh tubuhnya, kini seolah sedang membuktikan kebenarannya dalam satu waktu yang mencekam.

Raisya menelan ludah dengan susah payah. Ia sangat mengerti akan ada hal yang lebih buruk sedang menantinya. Maka tanpa berpikir panjang, Raisya menundukkan kepala, memperhatikan lengan kanannya yang sedang ditahan entah apa tujuannya.

"Lepaskan aku."

"Setelah tadi menawarimu secara baik-baik, kau pikir aku akan rela ditolak secara tidak sopan seperti itu? Maaf, tapi sayangnya aku tidak akan melepaskanmu. Aku tidak bisa menerima penolakan, nona. Terima saja ajakanku yang baik-baik ini, santai saja karena aku juga teman Steffan."

Tidak membutuhkan waktu yang panjang untuk membuat Raisya menjadi orang linglung seperti sekarang. Ia pusing, tubuhnya berat, kakinya lelah, dan pikirannya penat. Apa yg bisa dilakukannya? Raisya hanya mengedarkan pandangannya menyapu keadaan sekitar.

Yang pertama ia perhatikan adalah jalanan, lebih tepatnya jalanan yang kosong tanpa terlihat adanya tanda-tanda seseorang akan melewati mereka dengan kendaraannya. Meskipun tergolong jalanan besar, tidak banyak orang berkendara pada malam hari. Hanya ada beberapa pejalan kaki yang tanpa peduli melewati mereka.

Dengan setengah putus asa dan merasakan pusing yang semakin menyeruak menguasai tubuh, Raisya sekali lagi menyapu keadaan sekitar. Berharap kesuciannya masih utuh hingga esok hari, atau dia akan menyesal hingga liang lahat karena lengah pada satu waktu.

Tuhan sepertinya telah berpihak pada Raisya hari ini. Ada cctv berlogo kepolisian Kanada pada salah satu jejeran rumah di sebelah kanannya. Sayangnya cctv itu tidak mengarah padanya, ia harus maju sekitar 6 meter dari tempatnya berdiri sekarang untuk terjangkau oleh kamera cctv.

"Kubilang lepaskan!"

Dengan segenap energi yang tersisa. Raisya menggunakannya untuk melepaskan tangan yang dicekal dan berlari sekitar 6 meter ke depan sampai terjangkau kamera cctv.

BRAKK!

Tubuhnya jatuh pada saat ia sampai pada tujuan. Tubuhnya telah kehabisan tenaganya hanya untuk sekedar berdiri. Lalu, siapa yang seharusnya disalahkan jika kejadian seperti ini menimpanya?

Tak perlu mengeluarkan banyak energi bagi pria asing itu hanya untuk mengejar Raisya. Bahkan saat matanya menangkap Raisya yang terjatuh di hadapannya seperti sekarang, dia tahu semuanya akan berjalan sangat mudah.

Pria itu berjongkok perlahan di depan tubuh Raisya yang sudah terduduk di tanah, bersamaan dengan kedua tangannya yang mencengkram dan menarik kerah mantel Raisya seolah tak ingin memberi ampun.

"Bisakah kau datang sekarang?" tanya Raisya sembari melayangkan tatapan tajam pada pria itu seolah ia juga menantangnya.

Pria itu mengeluarkan smirk, lalu ia sengaja berbicara dengan suara berat, "Aku bisa saja datang sekarang jika kau mau. Tapi apakah kau tidak berpikir jika kau malu? Kita bisa... "

Raisya memotong ucapan pria itu dengan terbahak-bahak. Lalu ia mengeluarkan handphone yang sedari tadi tersimpan manis di dalam tas kecil miliknya. Menunjukkan nama yang tertera di layar. Menunjukkan bahwa ada orang yang mendengarkan pembicaraan mereka entah sudah berapa lama. Menunjukkan nama kantor kepolisian terdekat di sebelah nama kontak yang tertera di layar.

Gadis ini menelepon polisi tidak melalui telepon darurat. Dan yang pasti, polisi akan datang sebentar lagi. Setidaknya, begitulah yang dipikirkan pria asing di hadapan Raisya.

"Dasar licik. Ternyata rumor tentangmu memang benar. You're really soft, like a snake."

Dengan sekali hentakan, pria asing itu melepaskan kerah mantel Raisya yang membuat tubuhnya sedikit terjengkang ke belakang.

"Kau mau ke mana? Say hi!" Raisya kemudian melambaikan tangannya pada cctv yang telah menolongnya itu. "Kira-kira ada 7 orang yang sedang melihat kita. Tunggu apa lagi? Lambaikan tanganmu!"

"Urusan kita selesai," pria asing itu mengakhiri pertemuan dengan kata singkat, kemudian ia segera beranjak pergi.

Raisya menempelkan ponselnya ke sebelah telinga kanan untuk mendengarkan suara orang yang berbicara di seberang secara lebih jelas.

"Dia sudah pergi? Hei, jawab aku. Aku sedang perjalanan ke sana. Tetap diam di tempatmu."

Terdengar suara khawatir dari Alex, satu-satunya kakak sepupu Raisya di Kanada. Ia merupakan kepala tim detektif polisi di daerah itu.

Raisya malah terkekeh kecil sekarang.

"Kenapa, ada masalah?"

"Kau bodoh? Tangkap pria itu dulu atas percobaan pelecehan seksual. Kenapa malah mengkhawatirkanku?"

"Aku membawa beberapa orang untuk menangkapnya juga. Aku ke sana sebagai kakakmu. Bukan kepala detektif polisi."

"Oh, kalau begitu cepatlah. Kau terlalu lambat."

Raisya mengakhiri panggilan setelah mengucapkan kalimat terakhirnya. Ia hanya terlalu lelah tentang hari ini untuk harus berdiri. Jadi ia hanya menunggu kakaknya dengan posisi ini, masih terduduk di tanah.

Meninggalkan Alex di perjalanan yang sebenarnya sedari tadi tengah berada di kecepatan 80 km/jam.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 10, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

bcm fgtrStories to obsess over. Discover now