Telapak kakinya yang telanjang terasa menusuk saat menyentuh permukaan tanah yang kasar. Pohon-pohon rindang menjulang tinggi menutup pandangannya yang penasaran. Hawa putih tak terlihat seperti menyelimuti gadis yang hanya mengenakan dress putih selutut itu. Rambut gelapnya yang terurai pun tak mau diam di tempat. Matanya benar-benar berkelana, menantikan apa yang akan ada di depannya.
"Ugh, hutan?" Ia meringis pelan saat jari kakinya tak sengaja menendang krikil sambil melebarkan pandangannya mencari dalang yang membawanya ke sana. "Kali ini siapa lagi?"
Dengan mangut-mangut, ia tetap berjalan menelusuri tempat asing seorang diri. Berharap ada potongan petunjuk bahwa ia sedang berada di tempat yang benar.
Namun, langkah kakinya sirna begitu saja saat suara besar menggema menusuk gendang telinganya. Siluet hitam tak berbentuk menghampiri gadis itu yang masih sibuk membersihkan dressnya setelah terjatuh karena kaget.
Siluet itu melangkah dengan pelan, bayangannya mendekat menampilkan sesosok makhluk yang besar memanjang. Jubah hitamnya berkibar-kibar seolah-olah menyapa gadis kecil yang sedang membeku tanpa kata. Kainnya tipis hingga menutupi kepalanya, melayang tanpa suara dengan membawa hawa dingin. Seakan-akan, semua cahaya di sekitar terserap dalam kegelapan jubah miliknya itu.
"Ah!" Gadis itu berteriak kesakitan, seseorang menarik lengannya paksa untuk menghindari makhluk tadi. Tanpa jeda, matanya menangkap seluruh adegan tadi berpindah cepat ke tempat dingin yang bernuansa putih. Kakinya seperti menginjak keramik es, di samping kanan dan kirinya ada pegangan transparan seperti jembatan. Namun, dinginnya tidak seperti tadi, tidak sampai menusuk jantung, malah terkesan lebih sejuk.
Belum lama gadis itu mencerna semuanya, ia tersentak. Dari arah samping kanannya, terdengar decakan pelan, nyaris seperti bisikan ketidaksabaran. Mata coklatnya beradu pandang dengan mata hazel milik laki-laki muda yang masih saja menggenggam lengan kanannya. Baju putih polos dengan celana sepanjang lutut melekat pada tubuh tegap miliknya. Sama sepertinya, tanpa alas kaki.
"Kau siapa?" Tanya gadis itu bingung, tapi yang lebih membingungkan. Kenapa ada orang yang bisa melihat dan menyentuhnya di alam ini.
Laki-laki itu melepaskan tangannya dan mengusap wajahnya kasar. "Kamu yang membangunkan Umbra?"
Tercetak jelas bahwa alis gadis itu bertautan mendengar tuduhan yang tidak ia ketahui itu. "Jangankan membangun, Umbra saja aku tidak tahu."
Lagi, laki-laki itu mendecak pelan kepadanya. "Mahkluk tadi itu, Umbra! Makhluk yang hampir memakan cahaya kehidupanmu."
Bibir mungil milik gadis itu terbuka lebar menampilkan gigi gingsulnya yang kecil. "Makhluk tadi hanya perwakilan dari rasa trauma seseorang dari pemilik mimpi tadi. Ah, mungkin kamu tidak tahu tapi ini dunia mimpi. Alam bawah sadar." Ia menjelaskan dengan mudah bahwa ini sudah menjadi makanan sehari-harinya.
"Beda, sekarang berbeda. Ini memang alam bawah sadar tapi makhluk tadi bisa melukaimu yang sadar akan alam ini. Apa kamu gak merasakan sesuatu saat bertemu dengannya?"
Gadia itu terdiam, mengingat semua hal yang baru saja ia alami tadi. Pantas saja ia merasa ada yang berbeda, bahkan sekarang ada seorang manusia biasa yang bisa menyentuhnya di sini bahkan berbicara padanya dengan sadar. Apakah ini alam mimpinya dia? Lalu, apa maksud tuduhannya tadi. Gadis itu tidak pernah merasa bahwa ia membangunkan makhluk itu.
Laki-laki itu kembali berbicara setelah melihat lawannya masih termenung, "kamu sudah membangunkan Umbra, Eluni. Keseimbangan dunia mimpi akan terganggu." [25:0902]
🌛🌜
𝓣𝓱𝓪𝓷𝓴𝔂𝓸𝓾, 𝓶𝔂 𝓢𝓾𝓷𝓼𝓮𝓮𝓭𝓼 🌻
VOUS LISEZ
Lunisolace
FantasyApa jadinya bila seorang siswi biasa memiliki kemampuan untuk masuk ke dalam mimpi orang lain dan mengubah mimpi buruk mereka menjadi kebahagiaan? Namun, saat bayangan gelap mulai muncul di mimpi-mimpi yang ia masuki, Eluni menyadari bahwa tindakann...
