Matahari sudah tenggelam di ufuk Barat, menjadikan bumi gelap, cahayanya digantikan dengan cahaya redup bulan, bintik-bintik bintang, dan lampu-lampu bangunan di seluruh kota. Angin musim dingin berhembus, sedikit menggerakan pohon-pohon di sepanjang jalan. Orang-orang yang berjalan di trotoar lebih mengeratkan jaket tebal yang sedang digunakan, karena temperatur semakin menurun dengan bertambahnya waktu yang semakin larut.
Lelaki dengan jas lengkap yang membalut tubuhnya memperhatikan asap yang mengepul dari kopi yang dia pesan. Mata bulatnya mengalihkan perhatiannya pada orang-orang yang berlalu lalang melalui kaca jendela besar di sampingnya. Dia sedang berada di salah satu kafe di pusat kota untuk menikmati segelas kopi hangat dan sepotong carrot cake.
"Jangan membohongi perasaanmu, bilang padanya jika kamu masih menyayanginya," ujar seseorang yang duduk di hadapannya.
Lelaki yang sedang memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang itu menoleh pada sumber suara, tersenyum tipis. "Aku akan melepasnya dengan keren," jawabnya, ada kekehan kecil di akhir kalimat yang dia katakan.
Lelaki itu, Kim Junmyeon, seorang direktur salah satu perusahaan di kota ini, mengehembuskan nafasnya panjang, matanya melirik sekilas pada seorang gadis yang sibuk melayani pelanggan kafe ini. Dia berharap senyum yang terlukis di wajahnya tidak akan pernah hilang.
"Jika kamu ingin melepasnya, kenapa kamu rajin datang ke sini?" tanya pemuda itu lagi, pemuda bernama Oh Sehun, asistennya dan teman dekatnya sejak kuliah.
"Aku hanya ingin kopi dan kopi ini yang paling dekat dengan kantor," jawabnya tak mau kalah. Matanya menangkap gadis itu yang berjalan dengan nampan berisi dua cangkir kopi dan dua potong kue. dia berjalan ke arahnya, atau mengantar pesanan ke pengunjung yang duduk di kursi yang ada di belakangnya?
Junmyeon menolehkan kepalanya ke samping, memperhatikan seseorang di pantulan jendela yang tidak terlalu jelas. Kedua sudut bibirnya ditarik, membentuk senyuman hangat saat mendengar suara lembut gadis itu saat mengatakan 'Selamat Menikmati' pada pelanggan yang pesanannya dia antar.
"Dan kenapa seperti itu? Jika kamu ingin melepasnya, jangan seperti ini," ujar Sehun setelah Gadis itu kembali ke tempat asalnya.
"Seperti ini seperti apa?"
"Kamu terus memperhatikannya," tegas Sehun sekali lagi, Sehun tahu Junmyeon belum bisa melupakan gadis itu, gadis yang menemaninya sejauh ini. Jika Junmyeon ingin terus bersamanya terus kejar dia, jika Junmyeon siap berpisah dengannya lupakan dia, tidak seperti ini, tidak mengejar juga tidak melupakan. Bagaimana bisa menemukan titik terindah di akhir kisah nanti.
Junmyeon menyesap kopinya, terasa sangat pahit di mulutnya meskipun kopinya sudah diberi banyak susu dan gula. Ya, sebenarnya dia tidak terlalu suka kopi. Selama hampir dua bulan gadis itu meminta berpisah dengannya, selama itu juga dia rajin mengunjungi kafe ini setelah pulang bekerja.
***
"Kamu jadi peminum kopi berat ya?"
Junmyeon mengangkat kepalanya, menatap manik mata seorang gadis yang ada di hadapannya. Gadis itu memakai seragam seperti biasa, seragam kafe. Ini seminggu setelah kunjungannya dengan Sehun. Gadis itu membawa nampan berisi kopi dan carrot cake, pesanan yang biasa Junmyeon pesan.
"Ah.. ya," Jawabnya singkat, lalu kembali memainkan ponsel ditangannya. Dia hanya berpura-pura tidak peduli, hatinya ingin sekali memperhatikan wanita itu lebih lama.
Alih-alih hanya menyimpan pesanan Junmyeon lalu kembali bekerja, gadis itu malah duduk di kursi yang ada dihadapannya. "Berhenti minum kopi, aku tahu kamu tidak suka kopi," ucapnya.
YOU ARE READING
Heaven (Suho Fanfiction, Oneshoot)
FanfictionDia menangis sangat kencang, mengeluarkan semua rasa sakit yang ada di hatinya, tetapi menangis seberapa keras pun tidak bisa menghilangkan sesak di dadanya meskipun hanya sedikit. "Aku yang tidak mengenalmu." KUMPULAN SUHO FANFICTION, ONESHOT
