Aku harus berani! Aku harus berani! Aku pasti bisa! Pasti! Semuanya pasti akan berjalan lancar! Iya, kali ini nggak boleh menghindar lagi.
Aku terus melafalkan kalimat itu di otakku. Sejujurnya aku masih sedikit gugup tentang keputusan yang kuambil sekarang ini. Tapi, keputusanku sudah bulat, aku takmau hanya berdiam diri di dalam cangkang seperti yang sebelum-sebelumnya.
Kakiku terus melangkah melewati tiap-tiap kelas. Berjalan menyusuri koridor dengan perasaan yang entah bagaimana. Kakiku membawaku saimpa di kelas XI IPA 2, kelasnya Gion, sahabatku.
Aku dan Gion sudah hersahabat sejak kecil, mungkin hampir sepuluh tahun. Diantara jutaan orang, selain keluargaku, hanya Gionlah satu-satunya orang lain yang aku tidak meninggalkanku ketika aku susah.
Gion adalah tipikal cowok perhatian. Sifatnya dewasa, anaknya juga mandiri. Terkadang, Gion bisa menjadi abang buatku, menjadi ayah, atau bahkan menjadi adik yang manja. Gion itu "sesuatu". Menurutku dia istimewa. Itulah kenapa, sehari tanpanya rasanya duniaku hampa.
Tapi ... sekarang aku akan melakukan sebuah kesalahan, yang aku sadari pasti akan menimbulkan jarak di antara kami. Aku menyukainya! Sejak lama. Dan hari ini, aku ingin mengungkapkan perasaan yang sejak lama kupendam ini ke padanya.
Lututku melemas, aku ingin berputar saja, berbalik menuju kelasku, kemudian melupakan rencana gila yang ingin kulakukan ini. Tapi ... rasanya kakiku seperti ditahan. Seperti ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa di gerakkan.
Aku mengintip lewat pintu kelas XI IPA 2 yang terbuka sedikit. Gion di sana! Dia tengah duduk di atas meja bersama dengan kedua temannya. Tidak ada guru yang mengajar, aku tahu, karena hari ini guru-guru sedang menadakan rapat.
Aku memberanikan diri untuk mendorong daun pintu yang berwana cokelat tua itu. Bunyi deritan khas pintu tua yang di buka pun terdengar cukup kuat. Perhatian orang-orang yang saat ini ada di kelas itu seketika tertuju ke arahku. Dia juga menatapku! Untuk sepersekian detik, mata kami bertatapan, dan itu membuat lututku semakin melemas.
"Gi--Gion." Aku memberanikan diri untuk memanggil Gion. Aku tidak bisa masuk ke dalam ruangan kelas itu, takut kalau-kalau aku tiba-tiba saja pingsan.
"Adel? Ngapain?" tanya Gion.
"Hai, Adel," sapa salah satu teman Gion, dan aku hanya membalasnya dengan senyuman sopan.
"A--aku mau ngomong."
"Ngomong apa? Ngomong aja kali."
"Eeeeee. Enggak di sini."
Gion diam. Aku bisa melihat kerutan samar di dahinya, "O--oke."
Kulihat Gion membisikkan sesuatu kepada teman-temannya itu, kemudian, dia melangkah ke arahku, yang membuat jantungku menari-nari seketika.
"Ayo," kataku saat Gion sudah berada di dekat pintu. Kami berjalan beriringan. Melewati koridor kelas sebelas, seraya menjawab sapaan dari beberapa orang yang kami kenal.
Gion bersenandung pelan. Sesekali dia terlihat menendang kerikil-kerikil kecil yang berserak sebiji-sebiji di koridor kelas sebelas itu. Semua kegiatan kecilnya tak luput dari pandanganku. Bagiku, itu adalah sebuah tontonan yang menarik. Lebih menarik dari film yang ditayangkan di bioskop.
Sampailah kami di rooftop. Pemandangan dari atas rooftop selalu menjadi pemandangan kesukaanku dan Gion. Gedung-gedung yang dibangun berderet, pohon-pohon yang hanya beberapa, dikombinasikan dengan langit biru yang cerah, sungguh benar-benar pemandangan yang sangat indah.
"Kamu tau, nggak, Del?"
"Hah? Eh? Apa?" Aku tersentak kaget, karena Gion tiba-tiba saja berbicara.
"Kamu tau, nggak, kata orang, kalau kita sering-sering ngelihat pemandangan indah, hidup kita juga bakalan lebih indah lagi nanti."
Aku tersenyum. Iya, itu benar, Gion. Kamu adalah pemandangan yang indah, dengan melihatmu setiap saat, itu sudah cukup membuat hidupku terasa lebih indah. Aku menyimpan kalimat itu di hatiku, biar saja hanya aku yang tahu, pikirku. "Masa, sih?"
Gion menggedikkan bahunya, "Nggak tau, tuh. Tapi kata orang, sih, gitu. Kita iya iya aja, ya, ha ha ha."
Aku ikut tertawa. Dasar Gion, selalu saja bisa membuat aku tertawa, bagaimana aku bisa nggak suka?
Gion tiba-tiba menyentil hidungku. Bukannya kesal, hatiku rasanya malah seperti berbunga-bunga, "Ketawa kamu aneh, kayak suara kucing kejepit."
"Heh! Enak aja ngatain suara ketawaku kayak suara kucing kejepit," ucapku sambil menjewer telinganya.
"Aduh, aduh, sakit, Del. Woy, Del! Sakit--ah! Adel udah, dong. Sakit nih--aw!"
"Ampun, nggak?"
"Ampun, Del, ampun," ucap Gion sambil menyatukan kedua telapak tangannya.
"Janji jangan ngatain suara ketawaku mirip sura kucing kejepit lagi?" ancamku berpura-pura garang.
"Janji, Del! Sumpah!"
Aku melepaskan jeweranku pada telinga Gion. Kulihat telinganya memerah. Haha. Rasakan!
"Gimana? Sakit? Makanya jangan suka ngatain orang mulu."
"Nggak asik, Kamu, Del. Sakit nih, kuping aku."
"Bodo amat, wle," ucapku sambil menjulurkan lidahku kearahnya.
Kami berdua diam untuk beberapa saat. Sibuk dengan pemandangan di depan kami. Tuhan itu baik, ya, tanpa pamrih memberikan segala sesuatu ke pada manusia. Kadang kita lupa untuk mensyukuri nikmat Tuhan yang selama ini kita rasakan. Kebanyakan dari kita hanya bisa mengeluh, mengeluh, dan mengeluh tanpa ada niatan sedikitpun untuk bersyukur.
Kadang kita juga sering berpikir, hidup kita itu terlalu monoton. Terlalu abu-abu. Terlalu suram. Menyedihkan. Tapi, tahukah? Hidup kita sebenarnya tidak semonoton itu. Tidak seabu-abu itu. Tidak sesuram itu. Tidak semenyedihkan itu. Kita hanya lupa caranya untuk bersyukur, yang membuat semuanya menjadi sebuah beban pikulan yang sangat berat.
Kalau di tanya, "apa nikmat Tuhan yang telah kamu rasakan hari ini?", jawabannya hanya, "kesempatan untuk menapaki bumi yang sama seperti kemarin", sesederhana itu kita bersyukur.
"Kamu tadi mau ngomong apa, Del?" tanya Gion tiba-tiba. Akhirnya pertanyaan itu muncul. Jantumgku kembali lagi berpacu dengan cepat. Aku tiba-tiba saja kehilangan kata-kata. Bibirku seketika terasa seperti dibungkam. Hah, sekarang harus bagaimana?
"Ah, ehm! Anu, eeee ...." Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. Aku bingung harus mulai mengatakannya dari mana. Apakah aku harus menceritakan bagaimana aku bisa menyukainya? Atau aku langsung saja menyatakan perasaanku kepadanya.
Kamu tahu, sebuah pengungkapan perasaan kelihatannya memanglah mudah. Tapi saat kamu diperhadapkan dengan situasi seperti itu, pastilah kamu gugup, selayaknya aku sekarang ini.
"Ngomong aja kali, Del. Kayak ke siapa aja," ucap Gion yang diakhiri dengan kekehan.
Aku meneguk ludah. Menarik napas dalam-dalam. Mengumpulkan segenap kekuatan yang tersisa pada diriku. Aku harus bisa! Harus berani! Ini kesempatan emasku! Jangan takut ditolak! Aku pasti bisa! Harus! Ayo, Adel, ayo! Pasti bisa! Nyatakan saja perasaanmu, semuanya akan berjalan seperti biasanya.
"A--aku, anu ... sebenarnya aku ... aku ... aku suka sama kamu, Gion."
Gion nampak terkejut, namun kemudian segera menguasai ekspresinya, "Sejak kapan?" tanya Gion.
"Udah sejak lama. Lamaaaa banget."
Gion menghela napas, sementara aku menahan napas, "Maaf, Adel. Tapi aku suka Kaina, dan kamu tahu 'kan, cinta nggak bisa di paksakan?" katanya. Aku mengangguk.
"Kita temenan aja, ya," ucapnya sambil tersenyum. Gion menepuk-nepuk pelan kepalaku, kemudian berjalan meninggalkan rooftop.
Ah, sesederhana itu dia menghancurkan hatiku.
BẠN ĐANG ĐỌC
Pupus
Teen FictionMenyatakan perasaan memanglah tidak mudah namun mencoba tidak mengapa supaya kita tau ujungnya.
