HUJAN DAN RINDU DI BULAN DESEMBER
Desember, aku menyukai bulan Desember. Apalagi, saat hujan pertama kali mulai turun. Aku suka itu. Karena aku menantikanya. Walaupun sebelumnya aku mempunyai kenangan buruk dibulan Desember, sejak ada dia aku mulai merindukan Bulan Desember dan Hujan.
Hujan tahu kapan ia harus turun dan kapan ia harus berhenti. Hujan juga tahu kapan ia harus datang dan kapan ia harus berpulang. Mugkin karena itu, Hujan selalu dirindukan oleh mereka, orang-orang yang menyukai akan sebuah kenangan. Karena, bagi setiap orang, Hujan memiliki kenanganya masing-masing. Baik kenangan yang buruk, ataupun yang indah.
Begitupun dengan aku. Ketika melihat Hujan yang mulai turun dengan derasnya, kenangan dan Hujan selalu berputar dipikiranku. Menimbulkan rasa yang selalu muncul saat aku mulai mengingatnya, rasa itu yang kusebut dengan rindu. Ya, perasaan rindu yang datang dengan tiba-tiba ketika hujan yang juga datang dengan tiba-tiba.
Aku meniup mie yang ku angkat meggunakan sumpit dari cup sambil sesekali mataku melirik ke arah luar jendela, mengamati hujan yang secara perlahan-lahan membasahai jalanan, rumah, bahkan pepohonan. Di luar, hujan turun begitu derasnya hingga membuat orang-orang yang berlalu lalang memutuskan untuk berhenti dan berteduh sejenak karena hujan. Hmm..., aku jadi teringat dengan laki-laki yang telah mencuri hatiku tepat satu Dua tahun yang lalu. Di sini, di minimarket ini aku pertama kali bertemu dengan dirinya.
Entah dimulai darimana aku bertemu dengan dirinya, yang aku ingat saat itu aku menangis tersedu-sedu di luar minimarket ini dengan badan yang sudah basah kuyup. Saat itu adalah hari paling buruk yang pernah aku alami. Hari itu adalah dikedatangan Hujan pertama kali. Hari di mana saat aku menyaksikan kedua orang tuaku yang duduk berhadapan dengan orang-orang yang berseragam seperti jubah. Dan di depan salah satu lelaki tersebut terdapat sebuah palu yang terbuat dari kayu. Palu itu yang telah membuat orang tuaku berpisah. Entah, aku tidak tahu harus menyalahkan siapa, menyalahkan palu itu, atau pria memakai jubah yang memisahkan mereka atau kedua orang tuaku. Yang aku tahu ketika sebuah ketukan palu dan kata ‘Cerai’ mulai terdengar, aku tidak pernah lagi melihat kedua orang tuaku bersama-sama sampai saat ini. Aku yang waktu itu syok dan stress memutukan untuk keluar dari ruangan menyeramkan itu. Sampai hujan turun dengan derasnya, aku yang sudah lelah lalu memutuskan untuk berteduh di minimarket ini. Aku menangis tersedu-sedu, rasanya hidupku sudah hancur dan aku bahkan ingin menyerah pada saat itu juga. Aku menangis dengan sekerasnya tanpa memperhatikan orang-orang di sekitarku yang mulai menatapku dengan pandangan aneh. Aku tidak peduli. Pikiranku kacau balau saat itu.
Dan tiba-tiba saja dia datang menghampiriku, lalu memakaikan jaketnya untukku dan ia bahkan memberikanku sebuah payung. Dengan menangis tersedu-sedu aku terkejut dengan apa yang telah ia lakukan. Dia tersenyum ramah kearahku lalu berkata, “Aku tahu apa yang telah kamu alami. Pasti sulit kan? Tetapi, tidak peduli sebesar apapun masalahmu ini, aku ingin kamu bangkit dan tetap semangat. Dan aku juga ingin kamu sadar bahwa akan ada pelangi yang indah, bahkan seteljah hujan badai sekalipun.” Aku tertegun dengan apa yang telah ia katakan. Saat itu aku bahkan baru mengenalnya dan bertemu denganya untuk yang pertama kali. Dan dia seolah-olah mengerti apa yang telah aku alami saat ini. Bagaimana dia bisa tahu? Lalu dia tertawa seperti tahu apa yang ada di pikiranku “aku tahu kamu pasti bingung kan? aku memang tidak tahu apa masalah kamu, dan apa yang sedang kamu hadapi. Wajah kamu terlihat stress dan sepertinya butuh semangat. Makanya aku semangatin” katanya lagi dengan diiringi sebuah tawa yang canggung darinya. Mungkin saja dia mencoba untuk menghiburku.
Dan saat itu, aku mulai jatuh hati padanya. Dari sekian banyak orang yang aku kenal, tidak ada yang peduli. Tetapi dia? Aku bahkan mengenalnya tidak begitu lama, tetapi dia begitu peduli denganku. Aku yang saat itu mulai luluh kepadanya kemudian tersenyum lalu berkata “Terimakasih telah memberikanku semangat” kataku dengan tulus. Dan saat itu juga, aku mulai lebih mengenalnya, dan mulai menunggunya sampai saat ini. Dulu, ia telah berjanji kepadaku bahwa ia akan kembali saat dikedatangan hujan pertama kali. Karena ia harus pergi ke Gaza sebagai Dokter relawan di sana. Entah mengapa aku mempecayainya begitu saja dan menunggunya hingga sampai saat ini. Aku sungguh ingin berterimakasih kepada dirinya. Berkatnya, aku mulai melanjutkan hidupku dan terus bersemangat untuk menjalani kehidupan sendiriku sehari-hari.
Dua tahun, aku mulai menunggunya di minimarket ini. Dan aku selalu datang ke sini dikedatangan hujan pertama kali. Aku selalu menunggunya. Entah kenapa aku menunggunya, dan aku juga berharap ia datang menemuiku disini sesuai dengan janjinya. Dan saat ini aku berfikir bahwa dia tidak mungkin akan datang. Dan tentunya dia berbohong kepadaku. Sama seperti semua laki-laki kepadaku dulu yang penuh akan janji manis. Aku juga lelah telah menunggunya. Dua tahun. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat bagiku. Mungkin aku bodoh, telah pecaya kepada orang yang baru aku kenal saat itu. Haha, ingin rasanya aku menertawai diriku sendiri. Dengan polosnya percaya begitu saja.
Aku yang sudah meghabiskan mie ku, memutuskan untuk beranjak keluar dari minimarket ini. Tetapi langkahku tiba-tiba berhenti ketika berada di depan pintu.
Aku menahan nafas. Jantungku terasa berdetak begitu kencang. Kakiku terasa begitu lemas ketika lelaki itu berdiri tepat berada di hadapanku dengan membawa sebuket bunga dan payung yang ia gunakan untuk perlindungan dari hujan.
“Kita bertemu lagi Angel” katanya seraya tersenyum ke arahku. Aku sempat berdiam sejenak untuk mengatur degupan jantungku yang berdetak lebih keras dari biasanya. Mencoba mempercayai semua yang aku lihat. Memastikan apakah yang aku lihat memang benar atau tidak. Bagaimana dia bisa mengingatku? Apakah memang benar-benar dia? Itulah yang pertama terlintas dibenakku.
Setelah memastikanya. Aku melangkah pelan-pelan menuju arahnya. Saat tepat di hadapanya, aku berdiam, mematung. Aku tidak tahu harus bagaimana aku bersikap. Tetapi, tiba-tiba saja dia memelukku, dan aku membalasnya. Ia dan aku tak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitarku, yang aku tahu kini aku benar-benar merindukanya.
“Maaf telah membuatmu meunggu selama itu” katanya seraya mempererat pelukanya begitu erat. “Aku sungguh merindukanmu. Aku bahkan tidak percaya kamu sampai rela menungguku" katanya sekali lagi yang benar-benar membuat rasa rinduku ini terobati. Dan untuk saat ini aku berterimakasih kepada hujan karena membuat kenangan baru ini, kenangan yang menurutku kenangan paling terindah setelah kenangan-kenangan buruk itu ada.
YOU ARE READING
ini cerpen
Teen Fictionini adalah kumpulan cerpen yang pernah aku ikutin lomba, siapa tau ada yg pengen baca2 walau cerita absurd dan penuh khayalan
