We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

PROLOG

4 1 0
                                        


Memandang ke luar jendela, tersorot fajar yang sudah cukup lama menyingsing dari balik bukit—menyaksikan angsa-angsa menjelajahi danau kecilnya. Titisan malaikat saling bertukar cerita tentang apa yang mereka lihat seharian lalu. Dalam tentramnya dunia dengan bergugurnya dedaunan, angin berbisik hangat membawa kabar bahwa mereka akan segera tiba. Jauh dari negri yang berdiri di timur raya, mereka akan datang untuk menghadiri pesta kecil-kecilan kami. Untuk itu, sebelum kecolongan aku harus bersiap lebih dini dari mereka. Siapa tahu saat aku membuka jendela kayu ini, tiba-tiba sekumpulan wajah seram mengejutkanku lalu terkekeh akan responku.

Dari jendela ini juga aku melempar senyum, tepat sebelum seseorang mendekat dari samping; membawa dua cangkir putih bercorak merpati seraya memberi kode padaku untuk berhenti menatap dunia luar dan tataplah apa yang ada di hadapanmu sekarang. Perempuan berambut perak mengkilap seperti serigala di bawah sinar bulan purnama. Kuambil darinya teh rasa mint yang dijulurkannya untukku. Berdua—duduk saling hadap seperti ini; manisnya lekuk senyuman yang kupandang dalam-dalam, mengingatkanku akan sosoknya yang dulu.

"Ada apa? Kenapa kau menatapku begitu?" tanyanya menaruh cangkir.

"A, tidak, tidak apa-apa."

"Ada yang kurang dengan tehnya?"

"Sudah kubilang tidak ada apa-apa." jawabku meyakinkan. "Hanya saja ...."

Sudah tiba masanya pergantian musim. Hawa dingin mulai datang penuh sesak di tiap sudut ruangan. Merambati tubuh yang memilih singgah di dekat jendela dibanding perapian. Aku kembali menyimak langit jingga. "Sudah lima tahun, ya." lirih wanita itu. Mengambil jeda beberapa detik, "hm," balasku singkat. "Sekaran ini, aku pasti sedang berjalan pulang dari pantai." Mencoba membuka kembali memori yang tersimpan dan tertata rapi di rak ingatan jangka panjang, dia melanjutkan lebih jauh lagi.

Saat kami tenggelam dalam kepingan masa lalu, ponsel yang sedari tadi siaga di meja pun akhirnya bergetar. Terkesiap kami berdua dibuatnya. Memecahkan situasi romantis yang tengah dibangun. Namanya tampak jelas di layar, panggilan masuk datang dari salah seorang yang sudah kami tunggu-tunggu kabar terbarunya. "Apa itu dari Paman?" reaksinya cepat. Jelas sekali kalau bukan dia lalu siapa lagi. Pamanlah yang diamanati menjadi ketua rombongannya, pun sebagai koordinator. Wajarlah dengan gawainya ia yang menghubungi kami.

Kuusap ikon hijau ke kanan menghubungkan kami via udara. Belum juga aku mengucap hallo, pria itu sudah menyerobot saja. "Oi, Paku! Apa maksudnya ini!?" teriaknya memekikkan telinga. Karenanya aku harus menjauhkan telingaku dari lubang suara. Gendang telingaku serasa ditusuk jarum—tidak sampai membuat berdengung memang, tapi tetap saja nylekit. "Apa ada masalah, Paman ziz?" balasku. Aku tidak tahu apa yang sedang dan akan terjadi. Sekalipun paman terbiasa bersuara berat dan lantang, tapi kali ini nada yang sering kuterima dulu. Gerangan apa yang membuat emosinya tersulut?

"Aku—kami memang merasa senang diundang kemari, tapi tidak begini juga, 'kan?"

"Paman tenanglah! Aku tidak paham dengan maksud Paman." rayuku.

"Penghinaan macam apa ini? Jangan pura-pura tidak tahu!" sekali lagi paman menyentak.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 03, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Ibu Kos Kami Laki-LakiStories to obsess over. Discover now