"Selama ini kau masih merasa aku selalu menantimu. Dua minggu kau tak menghampiri karena kau dengan yang lain. Ibanya hatiku sayang karena pikiranmu salah selama ini. Setiap kau tak datang sayang padahal aku tak pernah ada di rumah."
Potret- Salah
______
Aku mencebik saat nama Amir muncul di layar telepon. Entah sudah keberapa kali dia absen datang setiap malam Minggu. Huh, mau kasih alasan apalagi dia kali ini? Pikirku sambil mengangkat telepon dan mendengarkan tanpa benar-benar menyimak. Nah, bener, kan? Basi banget!
"Enggak apa-apa lagi, Yang. Gue maklum, kok," jawabku mencoba meyakinkan. "Percaya, Yang. Percaya. Oke, baik-baik ya, di sana. Jangan ganjen sama anggota baru." Aku mematikan telepon sambil menjulurkan lidah. "Jangan pikir gue enggak tahu lo sama siapa dan ngapain aja selama ini. Makan itu cewek tipis." Setelah memasukkan ponsel ke tas dan memastikan penampilanku sekali lagi lewat cermin, sambil bersenandung aku keluar rumah, menghampiri Roy yang sudah menunggu.
YOU ARE READING
Random
Short StoryWork ini berisi tulisan-tulisan yang kubuat untuk mengatasi Writer's Block yang kerap kualami akibat kesibukan dunia nyata, yang kadang membuat aku kehilangan ide atau kemampuan berimajinasi. Kemunginan idenya bisa dari lagu atau instrumen musik yan...
