I Would

127 1 0
                                        


Disinilah aku, terjebak dikerumunan orang yang sudah lama tidak aku temui mencoba mengingat kembali dan berinterkasi lagi.
Jika bukan karna Dinda teman semasa SMA ku yang merengek meminta ku untuk datang ke acara ini mungkin aku tidak ada disini malam ini.

“Al” sebuah teriakan menginterupsi ku
Ku arahkan wajah ke sumber suara berasal
“Loe Almirano kan?”
“Iya” ku jawab sembari mengingat-ingat siapakah orang yang ada di hadapanku sekarang ini.
“Gue Khalid, lu pasti lupa sama gue kan. Kita pernah sekelas di kelas dua belas”
“Ahh, lu yang pernah jadi ketua kelas itu kan” tambahku
“Iya, How’s life ? udah lama banget gue ga pernah ketemu loe”
“It’s been seven years and everything is good” ucapku.
“Loe ke sini sama siapa?” Tanyanya lagi
“Gue kesini sama Dinda, loe sendiri ?”
“Gue kesini sama istri gue, itu dia ada di ujung sana” jawab khalid sembari mengarahkan jarinya ke tempat istrinya berada.
“Wah, loe udah nikah. Congrats ya gue ga tahu loe udah nikah”
“Thanks bro, wajar aja loe ga tahu selama ini keberadaan loe bagaikan tenggelam di telan bumi. Jujur gue ga nyangka ketemu loe disini, di acara reuni ini. Btw gue ga bisa lama-lama gue harus ke tempat istri gue, seneng melihat loe sehat dan baik-baik aja bro” pungkas Khalid dan ia pun berlalu menuju ketempat istrinya berada.

Aku tak menampik akan jawaban khalid itu, selama tujuh tahun ini keberadaan ku memang bagaikan tenggelam di telan bumi hingga tak menyadari jika satu persatu teman ku sudah memiliki kehidupan dan keluarganya sendiri.

Tujuh tahun lalu sebuah peristiwa membuatku lari dari ibu pertiwi ke negeri orang yang aku sendiri tak tahu pasti.

Tepatnya di tahun 2013 saat ia mengirimi ku pesan untuk datang ke sebuah kedai kopi yang menjadi langganannya. Di hari itu ia mengatakan ingin mengakhiri semuanya, menyudahi sebuah hubungan yang sudah dua tahun kita jalani. Dia bilang aku egois dan tak mengapresiasi akan hal kecil yang ia lakukan dan ia lelah akan sikap ku ini. Di detik itu aku menyadari, selama ini kata maaf dan terima kasih begitu sulit untuk ku katakan. Sebuah kata yang begitu sulit untuk dikatakan lambat laun menyakiti hatinya.

Pada hari itu ia memilih untuk pergi karna sudah tak tahan lagi, pada hari itu pula seharusnya aku menghentikan mu dan kini sekencang apapun aku mengatakannya kamu takkan bisa mendengarnya.

Berusaha menyembuhkan hati dan ingin introspeksi diri membuatku meninggalkan ibu pertiwi dan melanjutkan hidupku di Sydney, barangkali dengan tindakan yang kulakukan ini bisa membuatku menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Tak terasa hari demi hari berlalu dan tahun pun berganti. Di tengah menyembuhkan hati dan introspeksi diri terkadang hati masih merindukan mu dan menginginkan mu kembali. Sebuah permintaan dari dasar hati bisakah kita kembali lagi ke hari itu, ke hari dimana kamu memilih untuk pergi. Sekali saja kembali ke waktu itu lagi, jika bisa aku akan mendekapmu erat hingga kamu takkan pernah pergi dan semua kata maaf dan terima kasih yang sulit untuk ku katakan harusnya ku katakan, Anindiya.

Hingga sebuah suara dan tepukan menyadarkanku “Al, gue lihat dia” ucap Dinda
“Siapa?” jawabku
“Anindiya, dia ada disana” ucap Dinda sembari mengarahkan jarinya membantuku untuk melihat objek yang dia maksud.
Di detik itu aku hanya diam dan melihat nya dari kejauhan, sudah tujuh tahun berlalu dan dia masih tampak cantik dan imut diwaktu yang bersamaan. Hanya pipinya yang tampak lebih berisi dan menjadi chubby. Selang beberapa menit seorang laki-laki yang sedang menggendong balita datang menghampiri.
“Al, laki-laki itu suaminya”
Ucapan Dinda itu seketika menghentikan ku melihat sosok yang sudah lama tidak pernah kutemui dan membuatku tersadar akan sebuah permintaan dari dasar hati yang sudah tidak bisa aku penuhi.

Anindiya ku sudah bahagia dengan keluarga kecilnya dan seharusnya aku juga tahu tujuh tahun yang lalu saat ia memilih untuk pergi disaat itu juga kesempatan ku sudah tenggelam.

Sebuah Catatan HarianStories to obsess over. Discover now