"Kan, gue bilang juga apa?"
Trisha tetap berjalan tanpa menghiraukan teman di sampingnya yang ikut menyusuri koridor kelas 10 bersamanya.
"Kalau udah gini, lo mau nyalahin siapa? dia? mantannya? gue?" Trisha berhenti berjalan. Temannya tersontak kaget dan berjalan mundur selangkah agar sejajar dengan Trisha.
"Yan, lo tuh,"
Trisha memotong pembicaraannya sendiri dan memalingkan pandangannya ke temannya tadi, Iyan.
"Bacot deh, kesel. Iya-iya gue ga denger perkataan lo. Cape deh gue yan. Kenapa harus gue yang jadi korban PHP-nya dia? pake disangka PHO lagi. Ada-ada aja si tu senior," lanjut Trisha kesal dan melanjutkan jalannya ke depan kelas 10 IPS 2.
"Heh, gitu-gitu dia temen gue juga. Yaudah, biar gue yang ngomong sama mereka berdua nanti biar ga ganggu lo lagi. Dah bocil, selamat belajar!" Iyan mengacak rambut Trisha lalu pergi.
"Ishhh Iyan! rambut gue," Trisha kesal, rambut rapihnya diacak Iyan.
Sebenarnya mereka berdua bukan teman dekat. Mereka berteman karena 'Mantan gebetan' Trisha adalah teman dekat Iyan. Waktu itu, Iyan menghampiri Trisha yang sedang duduk sendirian di UKS dan menanyakan prihal perasaannya terhadap Razzan. Razzan dan Iyan ini bukan anak bandel. Mana mungkin, seorang Trishaqila Viel At Thariq, tertarik dengan seorang 'Fakboi'? Oh, tidak mungkin dan tidak akan mungkin.
Razzan memang belum menyatakan cinta kepada Trisha. Namun, perilakunya terhadap Trisha tidak bisa diragukan lagi kalau Razzan benar-benar tertarik dengan Trisha. Kalau bukan karena mantan Razzan yang masih gamon, mungkin mereka sudah menjalin hubungan yang lebih serius. Kalau bukan karena Razzan yang masih cinta dengan mantannya, mungkin mereka sudah sama-sama mengaku salinh suka. Huh, kalau bukan karena itu semua, mereka berdua akan selalu pulang bersama dan jalan berdua di koridor sekolah.
...
Trisha menaruh tasnya di atas meja. Ia mengeluarkan isi tasnya dan memasukannya kedalam loker meja. Ia menatanya dengan rapih. Buku-buku pelajaran yang harusnya ada di rumah, Trisha membawanya semua ke sekolah. Alasannya selalu sama. Ia tidak mau memikul beban tas yang terlalu berat. Lagi pula ini bukan bidangnya, walaupun ia cukup bisa menguasai beberapa pelajaran.
"Loker meja lo udah kayak perpus, cha. Buku semua isinya, stok mah makanan gitu kek,"
Suara khas yang selalu membuat Trisha kesal muncul lagi dari mulut seorang pemain gitar yang mulai akrab dengan Trisha sejak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah. Siapa lagi kalau bukan Fredi.
"Brisik lo, mending lo molor aja deh dari pada minta makanan mulu ke gue. Nih ambil nih,"
Trisha memang selalu sedia satu cemilan di tasnya untuk teman akrabnya itu. Ya, jaga-jaga dari pada ia harus kehilangan bekal yang sudah disiapkan Ibunya untuk makan siang.
"Si Kate selalu tau apa yang Raja Singa mau ya. Oiya, btw gimana Ka Razzan?"
Kate.
Iya, ayam Kate. Itu panggilan akrab Fredi ke Trisha. Karena rambut Trisha sering dijepit pakai jeday, jadi sisa rambutnya mirip buntut ayam kate.
"Kandas sebelum memulai," Trisha menjawab masih sambil mengeluarkan buku mata pelajaran pertama dan membuka buku tugasnya.
"HAHAHA aneh aja lo, ko bisa?" Fredi menghinanya sambil memasukan kripik singkong ke mulutnya.
"Tiba-tiba balikan sama mantannya. Ya, kaget si gue tapi gapapa lah," Jawab Trisha sudah mulai santai. Padahal, dalam hatinya masih sangat sakit untuk diingat.
"Ada-ada aja lo naksir senior sampe dibilang PHO," hina Fredi lagi sambil mendekatkan wajahnya ke kepala Trisha.
Fredi melirik Trisha yang sedang menunduk. Ia melihat Trisha seperti mengerjakan tugas.
"Cha, lo sibuk banget nulis dari tadi. Tugas apa sih?" tanya Ferdi yang mulai kepo.
"Demi apa? jangan bilang lo belom ngerjain?"
Trisha kaget akan reaksi Fredi yang tidak tau apa-apa tentang tugas ekonomi yang harus dikumpulkan pagi ini.
"Enggak jir, apaan sih?" tanya Fredi semakin panik.
"Ekonomi. Bego lu cepet kerjain!" Fredi tampak kaget.
Guru bidang studi ini dikenal cukup sadis. Entah karena ia orang batak atau memang sifat killernya ini sudah mendarah daging. Fredi segera membuka bukunya dan mengerjakan tugas Bu Johan dengan sisa-sisa waktunya.
...
Bel istirahat bukan suara yang merdu untuk Trisha. Jam istirahatnya pasti ia gunakan untuk menonton drama atau tidur. Begitu setiap harinya. Kisah klasik di masa SMA yang kata orang-orang seru, mungkin tidak akan dialami Trisha semasa sekolahnya di putih abu-abu ini. Baginya, 3 tahun bukan waktu yang sangat lama. Ia yakin, bisa melewati masa-masa sulitnya untuk 3 tahun kedepan.
Seseorang membuka pintu kelas. Menghampiri meja Trisha dan menaruh paperbag berisi cheeseburger kesukaannya.
Pradita Maheswara Atma Wijaya adalah sahabat dekat Trisha sejak SMP. Pradita menjadi dekat dengannya karena hal konyol yang terjadi di kafe sebenarnya. Bisa dibilang, mereka sempat saling suka. Tapi memilih hanya untuk menjadi sebatas sahabat dekat. Pradita adalah orang yang selalu perhatian dengan Trisha. Apalagi kalau Trisha patah hati, ia siap siaga menelfon Trisha agar tidak menangis terlalu lama. Atau langsung ke rumah Trisha untuk menghiburnya. Tidak jarang orang yang menyebut mereka sepasang kekasih. Tidak jarang juga pacar Pradita cemburu dengan Trisha yang lebih di prioritaskan dari pada dirinya. Lagi pula, Pradita tidak peduli akan hal itu. Ia tidak ingin kehilangan sahabatnya hanya karena pacarnya.
"Sibuk banget si nontonnya,"
Pradita masih berdiri di depan Trisha yang tengah serius menonton drama china kesukaannya.
"Woi!"
Trisha masih tidak sadar dengan kehadiran cheeseburger dan Pradita. Pradita yang mulai kesal mencopot airpods dari telinga Trisha dan mengantunginya. Trisha yang kaget langsung menoleh ke arah Pradita. Muka yang sudah mau marah itu mereda saat Pradita mengangkan paperbag yang berisi cheeseburger tadi.
"Kesambet apa lo?" tanya Trisha yang langsung merebut paperbag itu.
Ia mengeluarkan isinya dan memakannya.
"Gue tu peka ya. Semalem lo nelfon gue nangis-nangis gajelas kayak orang gila tau ga?"
Pradita menoyor kecil jidat Trisha yang sedang melahap cheeseburgernya seperti anak kecil.
"Iya-iya makasih ya, sayangku yang dikira pacarku padahal amit-amit aku punya pacar kayak kamu,"
jawab Trisha masih sambil melahap cheeseburgernya.
"Inget cha, dulu lo pernah naksir gue kan?" ledek Pradita.
"Yeh, lo juga naksir gue duluan. Sampai bela-belain jauh banget beli satu tangkai buka mawar putih buat gue kan? Mau aja disuruh Faris. Padahal gue ga suka bunga tapi kasian kalau ga gue terima," ledek Trisha balik.
"Dasar bocil. Btw, itu siapa cha?"
TBC—
YOU ARE READING
Elleve
RomanceCerita ini berdasarkan cerita nyata yang aku bumbui dengan beberapa drama. Hanya ingin berbagi, bagaimana sebuah cinta yang belum bertemu bisa bersatu. Rasa penasaran yang menyelimuti, terasa hangat walaupun belum pernah ada kata temu. Kalian, haru...
