Zilfia membeku memegang selembar kertas,tangannya bergetar tatapannya kosong.
"Tuhan mengapa engkau tidak mengasihani diriku?"
"Tuhan mengapa aku ingin hidup tenang saja sepertinya tidak bisa?"
"Tuhan takdir yang kau torehkan kepada jiwa ini sangat tidak memiliki keberuntungan sedikit saja"
Pundak Zilfia bergetar hebat,ia terisak didalam terpaan angin malam diatas rofftop rumah sakit.
"Sepertinya aku hidup saja sudah salah ya"Zilfia tersenyum masam. Sejak kecil ia hanya hidup bersama Ayahnya dia punya kakak tapi kakaknya tidak suka akan dirinya dia benci Zilfia karena membuat bunda tercinta meninggalkan dirinya.
Zilfia yang masih kecil tidak mengerti kenapa kakaknya ini bersikap seperti itu,ketika Zilfia semakin dewasa dia mengerti kenapa kakaknya bersikap demikian Zilfia akui dia tidak menyangka, tidak hanya kakaknya benci melihat dirinya dia pun benci melihat dirinya sendiri dia alasan kenapa bundanya meninggal dia alasan kakaknya menjadi benci ketika melihat Zilfia ,tapi Zilfia tidak menginginkan kejadian itu bukankah itu sudah ditakdirkan oleh sang pencipta? Kenapa Zilfia yang disalahkan?
Zilfia masih berdiri diantara hembusan angin malam atap rumah sakit ini yang menusuk-nusuk kulitnya.
"Bunda Zilfia ingin bersamamu menjadi tidak terpisahkan bersama bunda" Zilfia memejamkan mata air mata perlahan keluar sedikit demi sedikit membanjiri pipinya.
Dia pasrah mulai kehilangan keseimbangan pada tubuhnya,dia siap menerima konsekuensi apapun dia hanya ingin bersama bunda sesosok ibu yang belum pernah ia peluk sama sekali.
Ketika ia mulai kehilangan keseimbangan pada keseluruh tubuhnya sesuatu yang hangat menarik pergelangan tangannya sangat cepat.
"Apa kau gila?!"
YOU ARE READING
The Bitterness
Teen FictionKatanya kita sama. Sama-sama berjuang,tapi dirinya tidak mengetahui dia berjuang untuk apa?. Zilfia terus membantah kita beda! Tapi lagi dan lagi dia berkata tidak kita sama Zilfia, sama-sama berjuang. (Original) No Plagiat! Author tidak pandai buat...
