Namanya Aley, siswi kelas 10 SMAN Angkasa Bogor. Tubuhnya mungil, tinggi badannya hanya 153 cm namun ia selalu mengaku 155 cm. Kulitnya putih bersih, matanya sipit walaupun ia tidak berdarah tionghoa, bola matanya coklat pekat, bibirnya pink alami dengan pipi yang selalu merah merona. Tepat satu minggu lalu, ia memutuskan untuk mengenakan hijab. Cantik? Iya, parasnya seperti bidadari. Namun satu hal yang menjadi perbedaan antara Aley dan bidadari adalah bidadari tidak jorok.
Pagi itu, adalah hari terakhir Masa Pengenalan Lingungan Sekolah atau MPLS. Aley bangkit dari kasurnya, meneguk segelas air putih lalu bergegas mandi. Namun ia kembali mengurungkan niat untuk mandi saat ia merasa cuaca Bogor hari ini sedang sangat dingin. Aley turun ke lantai dasar lalu menuju ruang makan dengan seragam putih biru lengkap dengan pita merah putih yang terpasang di kanan kiri rambutnya. Matanya belum terbuka sepenuhnya walaupun ia sudah cuci muka, tetapi tangannya dengan sigap mengambil roti selai coklat kesukaannya lalu melahapnya dengan satu suapan.
"Engga mandi ya, Kak?" tanya Zilla, adik Aley yang hanya berbeda dua tahun darinya. Dewi; Mama Aley langsung memandang anak pertamanya seakan menunggu jawaban dari Aley.
"Mandi," jawab Aley yang kemudian langsung melirik Mamanya, "Semalem hehehe" tawanya canggung.
"Kebiasaan banget kamu jadi anak, joroknya gak ilang."
"Dingin Ma."
"Ya kan bisa pakai pemanas air, gak usah banyak alasan gitu deh."
"Hmm," ujar Aley seraya meminum segelas susu hangat yang ada di depannya lalu melirik jam di ponselnya dan langsung berdiri mengambil tas lalu mencium kedua tangan orang tuanya. "Aley berangkat."
"Bareng Pap-" sahut Mama nya.
"Gak boleh dianter, Aley naik angkot aja."
Aley sudah berada di depan gerbang sekolah barunya, tak banyak yang ia kenal karena rata-rata teman SMP nya memilih untuk masuk SMA lain yang jaraknya sangat jauh dari rumah Aley.
"Ayo sekarang gugus 3 masuk, nanti duduknya di lapangan tengah ya!" perintah ketua OSIS yang sedari tadi memasang muka galak.
Aley dan dua puluh sembilan orang lainnya menuruti perintah OSIS lalu duduk sesuai arahan. Sekitar 15 menit kemudian, seluruh siswa baru dari 9 gugus sudah berada di lapangan, lalu dilanjutkan dengan pembagian kelas.
"Aida Hana Fadhillah, 10 IPA 4."
"Aleyya Zara Kamila, 10 IPA 4." Aley berdiri menuju kelas yang sudah diarahkan OSIS. Namun pandangannya terhenti ketika melihat sosok lelaki berkulit sedikit gelap, rambut ikal, bulu mata lentik dengan bola mata coklat dan bibir merah muda memandang ke arahnya.
"Fathiir!" teriak Aley sambil melambaikan tangannya ke udara. Senyumnya mengembang seperti anak kecil yang kegirangan ketika diberi hadiah. Lelaki itu tak kalah senangnya, matanya membulat tanda tak percaya, senyum manisnya terpatri di wajah tampannya yang diiringi tawa renyah.
"Gue duluan ya," ucap Aley yang lebih terlihat seperti isyarat. Tangannya mengarah ke arah kelas tujuannya. Lelaki itu masih tersenyum, lalu mengangguk.
Ah senyum itu-gumam Aley. Senyum yang pernah menjadi candunya saat kelas 3 SD.
"Gak berubah, tetep manis." Ucapnya dengan sisa senyum yang masih mengembang.
Hai! Sumpah udah lama banget gua gak nulis disini jadi maklum ya kalo agak berantakan. Pls kalo kalian suka sama cerita ini vote yayayaya biar gua gak males lanjutinnya soalnya jujur gua gabut bgt lagi libur kenaikan tingkat hehehehe enjoy semua! - Manda
YOU ARE READING
Rumah
Teen FictionPerihal rumah yang bukan sekedar ruang, tetapi lebih dari tempat untuk selalu merasa pulang.
