Livania memiliki segala hal. Rupa yang menawan, pekerjaan sesuai minatnya, keluarga yang harmonis, serta pacar yang super baik dan pengertian. Namun hal itu tidak berlangsung lama, hingga suatu saat sebuah kesalahan fatal yang telah sang kakak perbu...
Oups ! Cette image n'est pas conforme à nos directives de contenu. Afin de continuer la publication, veuillez la retirer ou mettre en ligne une autre image.
Semilir angin yang berembus sedikit kencang malam itu, berhasil menuntun tanganku untuk menaikkan kaca jendela yang sejak tadi sengaja dibiarkan terbuka. Sesekali netraku melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri, ternyata sudah sekitar lima belas menit menumpangi taksi ini untuk sampai menuju rumah. Pacarku tiba-tiba mengabari bahwa ia tidak bisa datang menjemput, ada urusan katanya. Aku tipikal orang yang bisa dibilang ... tidak terlalu kepo terkait urusan pasangan, karena kepercayaan yang kubangun begitu kuat. Aku menyimpan ponselnya ke dalam tas setelah membalas pesan dari Radin -pacarku- yang tampaknya sedikit khawatir, karena jam segini dirinya belum sampai juga. Sesaat setelahnya, Aku beralih menatap ke arah jendela, dengan maksud menghilangkan rasa bosan yang sedari tadi menghantui.
"Mbak, sudah sampai." Ucapan supir taksi yang ditumpanginya berhasil membuatku tersadar dari lamunannya.
"Ah iya." Aku melepas seatbelt, kemudian mengeluarkan sejumlah uang. "Ini ya, Pak. Sisanya untuk Bapak," ucapku menyerahkan sejumlah uang sebelum keluar.
Sang Supir tersenyum ramah, "Terima kasih banyak, mbak. Semoga rezekinya lancar," ujarnya lagi.
"Aamiin, semoga doanya balik ke bapak," balasku kemudian tersenyum.
Adis menyampirkan tas selempang yang biasa ia gunakan sehari-hari. Cukup berat bawaanku hari ini, karena berisi lembaran-lembaran materi yang harus kupelajari di rumah akibat tidak sempat mengerjakannya di kantor.
Mataku memicing ketika mendapati pagar yang dibiarkan terbuka saat menginjakkan kaki ke halaman rumah. Kulihat ada sebuah mobil sport hitam yang tentu aku sudah hapal betul siapa pemiliknya. Kak Nareswara --biasa kupanggil dengan sebutan Ares-- karena sedikit eum ... panjang? Toh, orang yang bersangkutan pun tidak begitu mempermasalahkan. Balik lagi ke Ares, dia itu pacar sekaligus calon suami kakakku, Adisti. Sebenarnya, mereka berdua itu dijodohkan, namun tampaknya mereka berdua saling suka ... dan pada akhirnya Kak Adis menerima perjodohan ini. Padahal yang kutahu, Kak Adis memiliki pacar yang sangat ia sayangi sejak bangku kuliah. Tapi untungnya mereka sudah putus sejak beberapa bulan lalu, lagipula tidak mungkin kan seorang wanita yang akan segera menikah masih memiliki hubungan dengan mantan pacarnya?
"Eh Ares, tumbenan?" tanyaku sesaat setelah melepas heels dan menyimpannya di rak sepatu di dekat pintu masuk.
Pria yang merasa dipanggil itu menoleh, menurunkan ponsel yang sedari tadi ia mainkan. "Biasa ... jalan," jawabnya santai.
"Jalan mulu, kayak ABG."
Ares berjalan mendekat, kemudian mengacak rambutku sehingga membuatnya menjadi berantakan. Kasihan rambut indahku ... sudah lepek, berantakan pula.
"Iri bilang." Ia balas mencibirku, kemudian berjalan meninggalkanku menuju dapur.
Aku mengerucutkan bibir, mengikutinya dari belakang. Kulihat Mama sedang asyik memotong buah-buahan, hingga tak sadar ada aku dan calon menantu kesayangannya di sana.