#writingmarathonancalakpli
BAHAGIAN 1
04:30
Beep beep beep
Suara dari benda berwarna kuning keemas-emasan yang terletak dinakas sebelahku berbaring itu, mengeluarkan suara yang begitu nyaring, rupanya ini sudah waktunya untukku bangkit dari alam mimpi dan menjalankan kegiatan sehari-hari di alam yang nyata.
Kubukakan perlahan mataku yang mulai rabun ini, dengan hati-hati kusibakan selimut merah ke oren-orenan ini dan mulai mengumpulkan nyawa-nyawa yang sempat beristirahat dari penatnya dunia ini.
Dengan cekatan lengan kananku mencari dimana keberadaan lampu tidurku dan sesegera mungkin kunyalakan lampunya, setelah terang menyinari area sekitarnya buru-buru kuambil jam waker yang sedari tadi meronta-ronta ingin disentuh olehku, kutekan tombol merah yang berada dibelakang benda itu dan kukembalikan kembali benda itu pada tempatnya
Dengan lunglay kulangkahkan kakiku menuju stop kontak lampu kamarku, tepat diatas nakas samping suami ku berbaring stop kontak itu berada
Ceklek
Terang sudah ruangan ini kubuat. kuedarkan pandanganku keseluruh ruangan ini, entah kenapa rasanya tak lama lagi aku akan pergi dari sini,
"Hoammm" suara uapan suamiku yang membuatku tersadar dari rasa tak karuan ini, kutatap dengan lekat wajah suamiku, entah apa rasa yang muncul didalam benakku, ah sungguh membuatku bingung.
Setelah puas aku memandang suamiku, kembali kulangkahkan kaki ini menuju kamar mandi pribadi kami yang terletak didalam kamar kami.
Kubuka pintu kamar mandi ini, kulangkahkan kaki ini menuju wastafel, yang berada dilorong menuju kamar mandi utama, kuambil sikat gigi sekaligus pasta gigi yang biasa kugunakan untuk membersihkan gigiku, setelah ritual gosok mengosok itu selesai kubuka kran air yang berada dihadapanku, segera kucuci muka ini dengan bersih agar wajahku tetap terlihat bersih dan bersinar
Setelah selesai ritual mencuci wajah ini, entah mengapa rasa takaruan itu muncul kembali, dengan bayang-bayang saat aku dan suamiku sedang canda tawa disini, entah mengapa itu selalu berjalan-jalan dibenakku dengan rasa yang takaruan, samar-samar kudengar suara adzan berkumandang dari masjid komplekku, segera kuberjalan menuju kamar mandi utama dan mulai mengambil wudhu
Selesai wudhu terlebih dahulu kubangunkan suamiku yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Mas, mas," kucoba membangunkan suamiku dengan sehalus mungkin
"Mas ini sudah waktunya sholat subuh, mas gak mau sholat emangnya" sekali lagi kucoba membangunkannya
"Hemm iyh Sha, sebentar dulu Sha, mas ngantuk," jawabnya dengan suara parau
"Ya sudah aku kebawah duluan ya, nanti kamu jangan lupa nyusul ya mas," kataku dengan selembut mungkin
"Iya Sha, sebentar aja kok, cuma 5 menit aja" timpalnya masih dengan suara parau
Kuayunkan kaki ini menuju mushola rumah yang berada dilantai bawah, dan meninggalkan suamiku- mas Aakif sendirian dikamar.
Satu persatu anak tangga kulalui dengan hati-hati, sesaat pertengahan anak tangga, entah mengapa rasa itu tiba-tiba datang kembali tanpa diundang, ingin rasanya kubuang jauh-jauh perasaan ini tapi aku takut jika nanti aku tak akan melihat seluruh ruangan ini lagi, takut jika benar hari ini adalah hari terakhirku dirumah ini,
Satu persatu, air mata ini lolos dari tempatnya saat mengingat kembali bayang-bayang moment dimana aku, suamiku, anakku dan cucu-cucuku sedang berkumpul menikmati canda tawa
Kualihkan tatapanku pada setiap sudut ruangan ini, dan beralih keruangan lain yg berdekatan dengan anak tangga, saat asik-asiknya kunikmati moment ini sendiri, tiba-tiba ada lengan yang menyentuh pundak kananku hingga aku tersentak dan hampir tergelincir dianak tangga yang kupijak sedari tadi
"Eeeeeeee astagfirullohalazim" reflek aku beristighfar dengan keras sehingga membuat seluruh penghuni rumah ini terbangun dan menghampiriku dan mas Aakif
"Astagfirullah ada apa ini pak, Bu" Rangga- anak laki-laki satu-satunya milikku itu menghampiriku dan mas Aakif dan disusuli khidayah-menantuku dan juga Zoya anatasya-cucu sulungku,
"Ada apa nek!" Rizki pramudita atau yang sering disebut Kiki-cucu bungsuku itu mengahampiri kami yang sedang sama-sama tegang sekaligus terkejut
"Aduhh, gak apa-apa kok, tadi nenek cuma terkejut aja, habisnya tadi kakek dateng tiba-tiba," dengan rintihan kecil dan menahan kesakitan kucoba menegarkan diri ini agar tak terlihat lemah didepan seluruh keluargaku
"Aghh nenek, sudah tau kenapa-kenapa masih aja bilang gak papa, malah sok soakan sok tegar lagi, emang Kiki gak tau apa kalo nenek itu lagi kesakitan, sini biar Kiki obatin" moment ini lah diamana aku harus meneteskan air mata disaat cucuku tahu bahwa diriku sedang kesulitan
"Ya sudah ayok nek biar Kiki bantu kesofa" tawarnya dengan lembut
"Gak usah, nenek mau sholat subuh dulu"
"Ya udah, sini biar khidayah bantu kekamar sholat Bu, kebetulan juga khidayah belum sholat jadi sekalian mau sholat"
"Ya sudah ayuk nduk, maaf ibu selalu merepotkan kamu" ada rasa tak enak sebenarnya jika harus meminta pertolongan terus menerus pada anak, menantu dan cucu-cucuku
"Biar Zoya, bantuin ya Bu, nek" dengan senyum merekahnya cucu sulungku mengulurkan tangannya dan bersiap ikut memapahku keruang sholat
"Maafkan nenek ya nduk, nenek selalu merepotkan kalian, nenek ... Nenek ... Minta maaf hiks ...." Dengan terbata-bata kukuatkan hati ini untuk mengucapkan kata-kata selanjutnya tapi hati ini terlalu rapuh untuk mengeluarkan satu patah katapun
"Ibu... Jangan menangis Bu sudah ya Bu, kami sama sekali tak merasa direpotkan kok, ibu tenang saja selama Kami bisa membantu ibu, insyallah kami selalu ada untuk ibu," timpal menantuku-khidayah dengan sedikit suara direndahkan
"Iyah nek, Zoya juga merasa tak direpotkan kok nek, nenek tenang aja ya nek, Zoya akan selalu ada disisi nenek, ya sudah sekarang kita cepat-cepat keruang sholat ya, nanti keburu siang ayo,"
"Nah Iyah benar kata Zoya, nanti keburu siang terus telat sholat deh kan sayang waktunya terbuang sia-sia ya kan hehe ..."
aku tahu bahwa cucu dan menantuku itu sedang tak mau larut dalam kesedihan ini dan mencoba mencairkan suasana
The end
KAMU SEDANG MEMBACA
I'am a former old Grandmother
Aksiholla hallo teman-teman, aku disini akan menulis kisah seorang nenek tua yang mendapatkan keajaiban tetapi sayangnya ditengah-tengah ia menikmati keajaiban yang diberikan Tuhan, dia malah diberikan cobaan yang amat besar sehingga membuat dirinya fru...
