1. Voting

26 4 0
                                    

"Abidzar sah!"

"Nadira sah!"

"Abidzar sah!"

Guru perempuan itu terus membuka setiap gulungan kertas kecil yang bernamakan dua calon ketua kelas XI B dan mencatat skornya di papan tulis.

Semua murid begitu antusias dalam pemilihan ketua kelas itu. Ada yang berharap Abidzar dan ada pula yang berharap Nadira. Semua mereka suarakan lewat gulungan kertas kecil yang sekarang sedang Bu Andita buka satu persatu.

Dalam hatinya, Nadira terus melafalkan doa agar ia yang terpilih menjadi ketua kelas. Begitupun dengan lawannya---Abidzar. Pria berperawakan atletis itu berharap agar Nadira saja yang menjadi ketua kelas. Abidzar merasa menjadi ketua kelas adalah hal yang merepotkan, lagi pula ia tidak menginginkan jabatan itu. Ia hanya ingin menjadi murid biasa yang pintar. Sudah itu saja.

"Nadira sah!"  Bu Andita menunjukkan kertas terakhir pada semua murid lalu menuliskan skornya di papan tulis.

Akhirnya, Nadira mendapat nilai yang jauh lebih unggul dibandingkan Abidzar. Ia begitu senang dengan hasil akhir di papan tulis. Begitu pun para pendukungnya yang bersorak gembira.

Melihat itu, Abidzar hanya bisa mendesah. Jujur saja, meski senang karena dirinya terbebas dari tuntutan seorang ketua kelas. Namun, entah mengapa, raut kekecewaan di wajahnya tidak bisa ia sembunyikan. Abidzar sedikit kecewa karena ia kalah oleh seorang wanita. Bukan hanya itu, yang ia sesalkan, ia juga harus rela menjadi wakil dari seorang gadis cerewet seperti Nadira.

Andita---guru berkacamata itu mengucapakan selamat pada Nadira dan Abidzar. Artinya, Ketua kelas dan Wakil ketua kelas sudah dibentuk. Pemilihan bendahara, sekretaris dan divisi lainnya pun ditunjuk oleh Nadira.

Gadis berambut panjang diikat satu itu menunjuk Rindi---sahabat sebangkunya sebagai sekretaris kelas. Ana sebagai bendahara, Zuleha sebagai sie kebersihan dan Cinta sebagai sie peralatan. Ia sengaja memilih keempat teman dekatnya agar lebih mudah diajak diskusi, pikirnya.

Sistem Organigram pun resmi dibentuk.

Cecep---pria jangkung yang selalu duduk di pojokan kelas pun bergegas mengendap-endap menghampiri Abidzar yang duduk di bangku kedua.

"Don, lo pindah dulu bentar!" usirnya pada Doni---teman sebangku Abidzar. Doni si culun mengangguk dan dengan polosnya menuruti perintah Cecep.

Keadaan di kelas sedikit ricuh karena banyak pendukung Abidzar yang tidak terima dengan kemenangan Nadira. Mereka saling berbisik dan menjelek-jelekkan Nadira. Terutama geng Missqueen. Mereka adalah geng yang beranggotakan empat orang gadis centil. Risa---adalah pemimpin geng. Gadis berambut panjang sebahu itu selalu saja merasa iri dengan kehadiran Nadira.

"Pokoknya gue gak setuju, si Nadir yang jadi ketua kelas," gumamnya yang hanya dapat didengar oleh teman-teman se-gengnya.

"Gue juga," timpal Asma dan Zia.

"Gue ada ide, gimana kalau kita bikin si Nadir gak betah jadi ketua kelas?" saran Risa.

"Caranya?" tanya Kia.

"Gampang. Kita jangan nurutin peraturan yang dia buat. Pas jadwal piket, kita gak usah piket dan pulang lebih awal. Satu lagi, kita gausah bayar uang kas."

Asma---gadis dengan rambut berponi itu tersenyum licik. "Wah, ide lo bagus banget, Ris. Gue setuju."

Perkataan Asma diangguki Kia dan Zia.

***
Di sisi lain ... Cecep kukuh tidak terima dengan kemenangan Nadira. Pasalnya sejak masih di kelas sepuluh, ia dan Nadira pernah satu kelas juga, hal itu membuatnya tahu betul sikap Nadira seperti apa. Menyebalkan dan ... songong. Aturan kelas akan dibuat seenak jidat oleh Nadira. Ah, Cecep tidak terima. Sangat tidak terima.

"Dzar! Lo yakin mau jadi wakil?"

"Hah? Maksud lo?" tanya Abidzar bingung dengan arah percakapan Cecep.

"Lo ,kan, cowok. Masa lo mau jadi wakil? Nih, gue denger si Epul pernah ceramah, katanya dalam Islam, pemimpin itu harus cowok. Gak boleh cewek. Apalagi cewek sengklek kayak si Nadir. Males gue," cerocos Cecep.

Abidzar menggedikkan bahunya tak acuh. "Yah, mau gimana lagi. Gue, kan, emang udah kalah. Lagian, gue juga ogah jadi ketua kelas. Ribet."

"Ah, lo!" ketus Cecep kesal. Ia mendelik, mengarahkan pandangan pada Andita yang sedang sibuk dengan laptopnya di depan kelas. "Bu!" sahutnya sembari mengacungkan tangan. Andita melirik. "Ada apa Cecep?"

"Saya boleh usul, Bu?"

"Usul?" Andita mengangkat satu alisnya bingung. "Usul untuk apa?"

"Bagaimana kalau posisi ketua kelas diganti aja sama Abidzar. Biar Nadira yang jadi wakil," ucap Cecep nekad. Abidzar sedikit tertohok dengan usul Cecep.

Nadira yang tengah mengatur jadwal piket pun bangkit, emosinya tiba-tiba tersulut saat mendengar penuturan Cecep. "Lho? Gak bisa gitu dong! Yang dapet suara terbanyak saat voting, kan, gue. Lagian lo kenapa pengen Abidzar yang jadi ketua kelas? Lo nganggep gue gak becus mimpin kelas?" sungutnya pada Cecep.

"Sudah ... sudah. Nadira kamu duduk! Biar ibu yang bicara!"

"B-baik, Bu. Maaf." Nadira duduk dengan kesal.

"Sabar, Nad, sabar." Rindi teman sebangku Nadira pun mengelus-elus pundak sahabatnya itu, mencoba menenangkan Nadira.

"Cecep, kenapa tiba-tiba kamu usul demikian?" tanya Andita tenang.

Cecep yang diberi kesempatan oleh Andita merasa bangga. Begitupun geng Missqueen. Mereka senang sekali Cecep mengeluhkan hal yang sama. "Begini, Bu," ujar Cecep menghela napas. "Saya pernah dengar, dalam Islam, kan, pria adalah pemimpin. Jadi, menurut saya yang lebih cocok jadi ketua kelas, ya Abidzar," jelasnya sok bijak.

"Setuju, Bu," sorak geng Missqueen hampir bersamaan, diikuti oleh beberapa orang yang sama-sama tidak menyukai Nadira.

"Iya, Bu saya juga setuju."

"Saya juga!"

"Setuju ...!"

"Sudah! sudah! Jangan ribut. Kalian ini bagaimana. Sebelum kita memilih ketua kelas, ibu kan sudah tanya, mau pakai sistem apa? Voting atau sistem tunjuk. Yang terpilih, kan, sistem voting. Artinya siapa pun yang mendapat suara terbanyak, ya itu dia yang menang. Tidak ada negosiasi setelah voting. Sudah, jangan ribut lagi. Ibu sudah putuskan Nadira tetap menjadi ketua kelas dan Abidzar adalah wakilnya. Mereka berdua adalah satu tim. Abidzar dan Nadira akan saling bekerja sama dalam mempimpin kelas ini. Kalian paham?"

"Aahh ...." Sebagian siswa mendesah kesal. Sedangkan Nadira menyunggingkan senyumnya merasa menang. Dalam hatinya, ia mulai menandai siapa saja orang-orang yang tidak suka terhadapnya.
"Awas, lo Cecep, Risa, Asma, Zia, Kia!" batinnya sembari mengepalkan tangan di bawah meja.

***

#Cerita ini dibuat hanya untuk hiburan semata.
Vote dan comment. Terima kasih sudah membaca.

Ketua Kelas TeladanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang