Ini cerita islami dan wattpad pertama aku. Jadi kalau ada kurang berkenan mohon diberikan masukan yah! Aku hanya seorang pelajar yang akan tetap belajar. Aku hanya berusaha untuk tidak menjadi penikmat saja, namun aku berusaha juga untuk memberikan kenikmatan buat para reader✌
***
Seoarng wanita berparas cantik nan lembut sangat indah tuk dipandang. Menyusuri jalan yang kian sepi, hatinya pun turut berdesir tuk mengucapkan asma allah. Takut akan keadaan dirinya yang seorang diri di sebuah gang yang amat sepi tanpa adanya kendaraan yang berlalu lalang. Pandangan matanya pun tak terarah kabut akan cairan bening yang betah di kedua bola matanya. Ia menangis akan nasib dirinya yang kian tak terarah. Yang ada dipikirannya, mengapa ia sangat mencintainya? Mengapa ia tak ingin melepaskannya? Meskipun ia tau lelaki itu telah berkali-kali menyakitinya.
“brugh”
Wanita itu tumbang di sebuah gang yang amat sepi. Karena sudah tak mampu tuk menahannya. Seorang lelaki dari arah belakang wanita itu yang telah memperhatikannya sejak tdi tampak kaget dan panic. Dia adalah ABI PRAYOGA, teman serta sahabat dari wanita itu. ZAHRAH ALIFATUL MU’MIN. dengan wajah yang penuh kepanikan ia berusaha mencari pertolongan karena bagaimanapun zahrah bukanlah mahramnya. Ia takut tuk menyentuhnya meskipun mereka telah bersahabat dari sd. Abi berlari menuju beberapa halte.
“bu tolong teman saya!!!”
“memangnya kenapa? Ada apa?”
“dia pingsan bu, dan saya bukan mahramnya, tolong bu”
Sekelompok ibu-ibu pun menghampiri Zahra yang tergeletak di sebuah gang dalam kondisi yang begitu buruk. Beberapa dari mereka pun menelpon grab untuk segera datang. Zahrah pun dibopong menuju rumah sakit. Beberapa dari mereka pun ikut bersamanya, terkecuali Abi. Ia takut untuk bertemu dengan Zahrah ketika ia sadar nanti.
~~~~~
Beberpa jam setelah ia limbung dalam sebuah gang, akhirnya ia sadar dengan mengerjapkan matanya. Ia merasa asing dengan tempat ini, apakah ia berada di rumah sakit? Bukankah tadi ia berada di sebuah gang yang sepi?. Arrgh apa yang terjadi dengan diriku ini? Ucapnya dalam hati. Ia pun melihat kesamping dan menemukan seorang wanita paruh baya. Fatihah mu’min. ibu dari Zahra.
“ibu?”
Suasana hening, tak ada jawaban.
“apakah ibu yang mengantarkanku ke sini?”
Masih tidak ada jawaban.
“Apakah ibu mendengarku?”
Ruangan itu pun di kelilingi oleh keheningan. Selang beberapa detik
“hmhm”
Hanya dengungan itulah yang keluar dari bibir sang ibu. Zahrah pun merasa senang meski respon ibunya hanya seperti itu, yah setidaknya ibunya masih memberinya sedikit respon daripada tidak sama sekali. Ia pun merasa canggung entah apa yang pantas ia lakukan untuk memecah keheningan dalam ruangan ini.
****
Semua bayangan yang tadi kembali menghampirinya, seorang lelaki yang sangat ia cintai dan ia sayangi memilih wanita lain ketimbang dirinya. Sahabatnya pun menghianatinya padahal ia telah menganggap sahabatnya itu sebagai kakak baginya. Ternyata sahabatnya berbeda selama ini ia menyimpan perasaan pada Zahra, ia tak menyangka sahabatnya itu akan berkhianat padanya. Bukannya menjadi penasehat dan penguat Zahra, namun ia malah membuat perasaan Zahra semakin hancur.
"Maafkan hamba ya allah, karen telah melanggar laranganmu, maafkan Zahra yang begitu buruk ini" ia menangisi kebodohannya yang telah menanam rasa begitu dalam pada seorang lelaki penghianat. Fatih Al Maghfiroh. Lelaki itulah yang telah menorehkan benih cinta pada Zahra, namun dengan mudahnya pula ia berpaling. Satu kalimat yang selalu terpikirkan oleh Zahra sejak ia sadar.
"Kamu bodoh, kamu lemah, kamu serba kekurangan cuman bisa buat reputasi aku turun, aku malu sama teman aku. Aku dan kamu itu memang berbeda dan takkan bersama".
kalimat itulah yang terakhir kali di ucapkan oleh Fatih dan masih terngiang-ngiang di kepala Zahra.
"Aku bisa, aku bisa, aku bisaaaaaaaaa"
****
Jangan lupa vote and coment yah guys! :). Kamu senang aku juga. Iyh kita sama:")
YOU ARE READING
WithoutYou
Teen FictionMenjadi sekian dari sekian kalinya pun tak mengapa. Meski aku selalu tersakiti dan tersendiri. Asal kau tetap berdiri disampingku itu sudah lebih dari cukup untuk tetap bertahan, walau sangat melelahkan.
