Chapter 01

5 0 0
                                        

"Hi... Eunbi-ya..."

Suara itu menggema di telingaku, menimbulkan perasaan aneh yang mengusik hatiku.

'Mengapa harus sekarang?' tanyaku dalam hati. Mataku masih tak percaya pada apa yang aku lihat.

Taehyung, mantan kekasihku 6 tahun lalu. Kami memiliki hubungan yang singkat di bangku sekolah. Kini aku kembali melihatnya dengan versi yang jauh lebih dewasa. Ia menggunakan jas rapi sambil menjinjing tas koper berwarna hitam.

Ia sudah menjadi pria yang mapan. Tapi aku tidak melihat cincin melingkar di jarinya. Apakah ia melepasnya? Atau memang ia belum menikah?

Aku mengedipkan mataku beberapa kali. 'Tidak! Aku tidak mengenalnya. Aku tidak akan peduli pada apa yang sudah terjadi dalam hidupnya setelah kami terpisah.'

Aku... Tidak peduli...

.
.
.

"Ah!"

Aku membuka mataku dan menghela napas seakan aku kehabisan udara. Jantungku seperti di tekan dari luar. Mataku mengelilingi pemandangan sekitar.

Ternyata aku ada di kamar.

'Rupanya hanya mimpi...' aku menghembus napas tenang.

"Tapi... Kenapa tiba-tiba aku memimpikannya?" tanyaku. Tanganku bergerak menyentuh dadaku. Debarannya begitu kuat, membuatku menarik napas beberapa kali lewat mulut agar membuatnya normal.

Aku melihat keluar jendela. Ternyata di luar tengah hujan deras. Rasanya mimpi dan hujan itu seperti bernostalgia.

Aku bangkit dan membuka jendela. Membuat suara rintik-rintik hujan semakin keras terdengar. Ku lipat tanganku pada daun jendela lalu menyandarkan kepalaku di sana. Hanya diam dan terpejam sambil mendengarkan alunan suara hujan mengantarkan ketenangan.

Walau pesan dan memori yang ia bawa bukan sesuatu yang indah, tapi aku tak bisa membenci hujan. Sama seperti anak laki-laki itu...

Sepahit apapun lukanya, ia pernah menjadi kenangan indah masa remajaku.

.
.
.

"Baik... Baik bu saya mengerti... Baik saya segera ke sana." Aku menutup telpon sebelum bangkit dri kasur dan segera berkemas.

Keesokan harinya aku mendapat kabar jadwal privat baru dri lembaga tempatku mengajar. Seorang siswa kelas tiga sekolah menengah bernama Kim Yeonjun. Ia memliki kesulitan dalam matematika 3 minggu sebelum ujiannya dimulai.

Aku mendapat alamat lengkap dan rincian lainnya lewat email sebelum berangkat dengan motor listrik-ku. Rumahnya tidak terlalu jauh, jadi aku masih berani menggunakan sepeda motor yang satu ini.

Deg-degan bercampur senang tak bisa aku gambarkan. Aku tak sabar untuk segera kembali mengajar privat setelah sebelumnya 5 bulan aku hanya mengajar kelas umum di tempat les dan menjadi pelayan restoran. Kupikir aku layak mendapatkan sedikit refreshing dari penatnya keramaian.

Aku berhenti di sebuah gedung apartemen dan berjalan kaki menuju alamat tempat tinggalnya. Tak jauh, nomornya ada di lantai tiga hingga hanya membutuhkan beberapa detik untuk lift membawaku naik ke sana.

Aku terus melihat ke arah kotak kecil di genggamanku sesekali melihat jumlah lantai di atas pintu otomatis. Oh iya, aku tak lupa membeli kue kecil sebagai awal pertemuan. Salah satu pelayanan khusus lembaga kami saat pertemuan pertama dengan murid privat. Kue itu ada di kotak kecil ini.

Tentu saja aku membelinya dengan uang kantor. Aku bukan orang yang punya banyak uang untuk menraktir orang lain. Untuk berkumpul dengan teman lama di restoran saja aku harus berpikir dua kali.

Setelah memencet bel untuk ketiga kali, akhirnya seseorang membukakan pintu. Jantungku rasanya mau copot. Aku juga harus tetap memberi kesan yang baik.

'Jangan lupa tersenyum Eunbi~' ingatku dalam hati.

Pintu tersebut terbuka dan memperlihatkan seorang anak laki-laki dengan rambut yang masih berantakan sedikit terlihat dari kupluk jaket putihnya.

Matanya berkedip beberapa kali melihatku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Mungkin ia tengah mengidentifikasiku. Secara, aku adalah orang asing.

"Siapa ya?" tanya-nya dengan suara agak serak.

'Apa ia baru bangun tidur? Ini sudah jam 3 sore.' pikirku menilai kebiasaan buruk anak ini.

"Halo, saya Kang Eunbi. Tutor baru." Aku menunduk sedikit kepalaku membuat ia refleks mengikuti gerakanku memberi hormat.

'Hm, tata krama-nya lumayan.' Aku mengamatinya.

"Kau pasti Kim Yeonjun ya? Salam kenal!" Aku berusaha semaksimal mungkin untuk ramah.

"Benar." Jawabnya singkat berusaha menghindari kontak mata.

'Uh? Pemalu? Atau sifatnya dingin? Atau jangan-jangan dia introvert?' Aku memang suka sekali menerka sifat orang lain sebelum berhubungan dengan mereka. Terutama murid baruku.

"Boleh aku masuk?" tanyaku setelah ia sedari tadi hanya mengamatiku dalam hening. Mungkin ia belum terbiasa menerima tamu. Atau memang jarang orang bertamu ke rumahnya.

"Silahkan," balasnya melebarkan pintu dan membiarkan aku masuk ke dalam rumahnya.

"Permisi~"

Aku melihat sekitar, dekorasi ruangan yang simple dan modern langsung menarik perhatianku, apalagi untuk seseorang yang hanya tinggal berdua. Setelah sampai di ruang tengah, aku berbalik menghadap Yeonjun.

"Aku membawakan kue sebagai ucapan salam~" Tanganku naik ke depan menunjukkan box kue berwarna putih di hadapannya. Tapi Yeonjun hanya melirik sekilas sebelum berjalan melewatiku.

'Apa ia tidak suka?'

Tapi aku salah, mataku mengikuti ke mana arah ia pergi. Ternyata Yeonjun berhenti di depan kulkas dan membukakan pintunya untukku.

"Taruh di sini kak, agar tidak meleleh." Ia mengarahkanku dengan nadanya yang paling datar.

Aku hanya berjalan ke arahnya dan meletakkan box kue di salah satu rak yang kosong. Nyatanya hampir semua rak kosong. Kurasa tidak ada yang memasak di rumah ini.

Aku bangkit diikuti Yeonjun yang kembali menutup pintu kulkas. Wajahku kembali tersenyum hangat padanya.

"Kau siap untuk belajar?"

.
.
.

Aku berjalan ke luar kamar setelah selesai waktu mengajar, diantar oleh Yeonjun.

"Aku akan kembali besok di jam yang sama karena ini kelas intensif." ujarku berbalik menghadap Yeonjun dan memakai sepatuku di depan pintu.

"Baik kak," balas Yeonjun menunggu di depanku.

"Oh iya!" Ia kembali bersuara membuatku mendongak dari sepatuku. "Besok sebaiknya jangan membawa kue lagi ya kak. Hyung-ku tidak begitu suka kue coklat. Walau kue-nya kecil, aku tetap tidak bisa menghabiskannya sendiri karena kami tidak begitu suka makanan manis." Pesan Yeonjun sembari bergeser membukakan pintu untukku.

Aku begitu menyukai kue dan makanan penutup secara umum. Jadi mendengar ada orang yang tidak menyukai hal manis membuatku sedikit kecewa. Tapi indra pengecap tiap orang berbeda dan aku menghargai pilihannya itu.

"Baik! Aku akan mengingatnya di kepalaku. Kalau begitu... Aku pamit permisi." seruku melambaikan tangan dan melangkah ke luar pintu. Yeonjun membungkukkan kepalanya sebelum menutup pintu.

Aku menghembuskan napasku pelan dan pergi berjalan di koridor sembari membayangkan kegiatanku di akhir hari. Pekerjaanku sudah selesai, kupikir sedikit hadiah manis akan membuat inner child-ku senang.

Sudah kuputuskan, aku akan pergi ke toko roti malam ini. Membayangkan wangi adonan yang keluar dari pemanggang saja sudah membuatku tersenyum lebar.

-The End of Chapter

A Whole New Chapter [Kim Taehyung FF]Stories to obsess over. Discover now