Satu

105 20 10
                                        

"SHIT!!"

Aku menendang beberapa kerikil di sepanjang jalan sambil berteriak memaki hidupku yang terlampau menyedihkan.

Kau tahu?

Di dunia ini terlalu banyak kesempatan yang luar biasa untuk mereka disana. Tapi hanya sedikit yang berusaha menemukannya. Termasuk aku.

Hanya saja dunia tak selalu berpihak padaku. Semua usaha itu tak pernah berbuah manis untukku. Dan terlampau manis bagi mereka yang memiliki harta berlimpah.

"Cih, kalian pikir aku bodoh apa?! Aku tahu kalian menggunakan berbagai koneksi untuk mendapatkan apapun itu!

Aku? Aku tak punya apa-apa. Uang pun tak sebanyak kalian. Hidupku sudah menyedihkan sejak aku lahir. DAN KALIAN MASIH SETEGA ITU PADAKU?!!

ARGGHH..!!"

Aku menendang minuman kaleng hingga menimbulkan suara gaduh.

"Hei! Kalau mabuk, pergi sana! Jangan bikin onar disini! Payah!"

Seorang pria paruh baya meneriakiku dari jendela rumahnya.

Aku tak peduli. Karena mereka bahkan tak pernah peduli dengan orang sepertiku.

Aku melirik jam di pergelangan tanganku. Yang terlihat hanya angka 01.--, entahlah. Mungkin aku terlalu banyak minum soju tadi. Kepalaku terasa berat. Pandanganku pun kabur.
Aku tak tahu apakah aku bisa pulang ke apartemenku malam ini. Aku lupa memberi tahu Junsu untuk menjemputku.

Dan sekarang, aku berjalan gontai seperti gadis payah. Tapi memang benar bahwa aku payah.

Umurku 20 tahun. Tapi masih belum mendapatkan surat penerimaan dari universitas manapun. Ini cukup memalukan untukku. Aku menyesal karena tidak belajar dengan sungguh-sungguh saat SMA.

Aku sudah muak dengan buku-buku itu. Tak satupun membuahkan hasil.

***

Akhirnya aku sampai di depan gedung apartemenku. Biaya untuk tinggal di tempat ini pun tidak murah. Tentu saja aku punya uang. Orangtua angkatku kaya, tahu.

Tapi aku tak berani menyebut diriku chaebol. Karena aku bukan anak kandung mereka tentu saja.

Aku masuk ke dalam lift dengan bantuan penjaga gedung. Saat penjaga gedung itu bertanya padaku, aku sudah benar-benar mengantuk.

"Anda tinggal dilantai dua, kan? Kamar nomer berapa nona?"

"..ashdjjf, hoammm.."

Entahlah. Yang kuingat, aku menyebut nomer kamarku dengan sisa tenagaku.

***

Readers, author buat cerita ini tanpa ngelirik cerita siapapun. Karena author termasuk orang baru disini.

Mohon bantuannya, love 😙

Let me in [TREASURE]   Stories to obsess over. Discover now