Puluhan tahun pasca perang nuklir terjadi. Ada empat pemuda yang ingin bertahan hidup dari dunia yang penuh virus dan radiasi akibat nuklir. Eden, Ryu, April, dan Sagita. Mereka berusaha mencari kehidupan yang tersisa dari rusaknya dunia ini. Perang tersebut mengakibatkan banyak kerusakan pada ekosistem, hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan hampir punah. Jika ada pun tak sedikit yang sudah terkontaminasi. Bangunan-bangunan pun runtuh hampir sejajar dengan tanah yang mereka pijak. Mereka yakin akan ada tempat yang layak untuk dihuni.
"Lihat! Di depan ada toko, ayo kita hunting!" Seru Eden sang pemimpin yang sedang menunjuk ke arah toko yang sudah tidak ada penghuninya. Mereka berlari menuju toko tersebut dengan secepat kilat. Sesampainya di toko mereka berempat dengan cepat mencari dan mengambil barang-barang yang ada seperti obat-obatan, makanan, minuman, pakaian bahkan alat-alat yang sekiranya mereka butuhkan.
Saat sibuk mencari keperluan, Eden mendengar jeritan dari seseorang yang tak jauh dari tempat ia berdiri.
"Tolong! Tolong aku!" Jeritan seorang laki-laki yang mengeluh sakit karena kakinya yang terluka. Eden langsung menghampiri orang tersebut sambil mencekram pedang yang siap menusuk tubuh siapapun yang mengganggunya. Saat melihat laki-laki tersebut Eden langsung kaget dan menodongkan pedangnya ke arah laki-laki malang tersebut.
"Tolong aku nak! Aku terluka!"
"Kau siapa!? Kenapa bisa kau sendirian disini?"
"Aku sedang mencari obat untuk anakku nak."
ketika Eden sedang menolong laki-laki tersebut, Eden dikejutkan dengan luka kaki dari laki-laki tersebut yang seperti terkena luka bakar. Eden pun langsung menjauh karena melihat luka itu. Tak lama Ryu, April, dan Sagita menghampiri Eden.
"Hati-hati Den! Dia udah kena radiasi" Ryu dengan cepat memegang pundak Eden sambil menarik mundur temannya itu.
"Ada apa Ryu? Kau tau darimana dia kena radiasi?"
"Tadi aku liat rekaman cctv, beberapa menit lalu ada Black Rain di sekitar sini."
Semua terdiam dan tiba-tiba saja laki-laki itu berbicara dengan lembut karena sudah tidak kuat menahan luka yang dideritanya.
"Tolong bawakan obat ini kepada anakku, distrik kita tak jauh dari sini" Ucap laki-laki itu seraya memberi kotak obat kepada Eden.
Tak lama kemudian, laki-laki itu mati. Mereka berempat menarik nafas dalam-dalam dan memelas karena kematian laki-laki itu. Eden yang memiliki pesan dari laki-laki itu terheran-heran. "Apa benar ada distrik di sekitar sini?" Ucapnya dalam hati sambil mengerutkan kedua alis tebalnya.
"Jadi gimana kita sekarang?" Tanya Sagita.
"Aku harus memberi obat ini kepada anak dari laki-laki itu, kita akan cari tahu apa benar yang dikatakan oleh laki-laki itu benar atau tidak. Yang pasti keep your eyes open!"
Setelah itu mereka berjalan menuju perbukitan yang tidak jauh dari toko, mereka ingin melihat ada apa dan kepada siapa mereka pergi. Dan bingo! mereka menemukan cahaya yang terang benerang seperti kota besar yang hanya tersisa di Bumi ini.
Butuh 15 kilometer untuk sampai ke distrik yang mereka tuju. Malam pun tiba. Sejauh ini mereka tidak menemukan hal yang aneh sampai mereka bertemu seperti segerombolan orang yang cara jalannya seperti orang mabuk. Apakah benar orang mabuk? Tapi kenapa harus ramai-ramai? Pelan-pelan mereka mendekati segerombolan orang tersebut karena mungkin saja mereka memiliki kepentingan hal yang sama, sampai akhirnya mereka sadar itu bukan segerombolan orang mabuk, tapi...
"Sebentar, aku rasa ada yang gak beres deh." Tiba-tiba Eden berhenti dan menyinari kearah segerombolan orang itu menggunakan senter.
"Ada apa Den?" Jawab Sagita yang tiba-tiba juga menajamkan penglihatannya.
"Aku rasa kita lagi ngedeketin orang yang salah."
Begitu sudah lumayan dekat, apa yang mereka ekspetasikan bertolak belakang dengan apa yang mereka lihat. Mereka sedang melihat para Snaper yang sedang mencabik-cabik tubuh dua orang laki-laki. Snaper adalah manusia yang sudah berubah menjadi makhluk menyeramkan karena terkontaminasi oleh virus. Eden dan teman-temannya dengan refleks menodongkan senjata-senjata mereka untuk melawan para Snaper.
"Sial! Benar dugaan ku, mereka adalah Snaper!"
Tanpa berfikir panjang Eden menyuruh Ryu dan April untuk lari secepat mungkin, karena melihat Snaper yang sedang kelaparan.
"April ayo cepat lari denganku!" Ucap Ryu sambil memegang keras tangan April.
"Pergi dari sini! Aku bakal sedikit nahan mereka."
"Aku tepat di sampingmu." Sagita yang juga ikut melawan para Snaper menggunakan samurai yang ada di tangannya.
Mereka lari menuju distrik yang dari kejauhan sudah terlihat lampu-lampu terangnya. Sedangkan Sagita dan Eden sibuk melawan para Snaper dengan senjata mereka masing-masing.
Sliiingg!!! Tebasan pedang Eden berhasil membuat kepala Snaper itu lepas dari badannya. Darah hitamnya mengalir deras sampai membuat wajah dari laki-laki pemberani itu kotor. Sagita yang memegang samurai ikut menebas juga kepala para Snaper layaknya Zoro di serial One Piece. Sangat kencang sekali. Tiba-tiba Snaper itu menggigit pergelangan kakinya. Fyuh! Sangat beruntung ia memakai pelindung kaki yang sangat tebal. Setelah pertarungan tersebut Eden pun meminta Sagita untuk lari terlebih dahulu. Mereka tidak sanggup melawan banyaknya makhluk menyeramkan itu. Mereka berdua pun lari secepat kilat menyusul Ryu dan April yang terlebih dahulu lari menuju distrik yang mereka tuju.
Saat sedang lari menuju distrik, tiba-tiba saja ada sekelompok tentara elit yang mencoba membantu empat pemuda ini. Mereka melumpuhkan para Snaper dengan menggunakan cahaya. Eden menyadari hal yang baru saja ia lihat bahwa kelemahan makhluk menyeramkan itu adalah cahaya. "Kenapa ga kepikiran ya? Padahal aku bawa senter." Para tentara itu pun membawa mereka berempat ke dalam distrik yang dikelilingi oleh tembok yang sangat tinggi menjulang ke atas. Begitu mereka masuk, mereka langsung disambut oleh pemuda yang telihat seperti menunggu seseorang. Ya, benar, pemuda tersebut bernama Aro. Dia adalah anak dari laki-laki misterius yang mati di toko.
"Siapa kalian? Kenapa bisa sampai kesini?"
"Jadi kami bertemu seorang laki-laki di toko, ia memberi tahu kami ada sebuah distrik yang tak jauh dari toko itu, dan ia menitipkan sebuah kotak obat untuk anaknya, sayangnya dia mati karena radiasi dari Black Rain. Bisakah kau memberi tahu kami siapa anak dari laki-laki tersebut?"
Tiba-tiba Aro langsung merebut kotak itu dengan wajah melas. Semua tentara yang mendengar pun ikut kaget karena ucapan Eden.
"Kalau boleh tahu siapa laki-laki itu?" Tanya April.
"Laki-laki itu adalah pemimpin kami, sekaligus ayah dari anak itu." Sambung komandan tentara sambil membuka perlengkapannya. Ternyata laki-laki misterius itu adalah pemimpin dari distrik ini. Dia sedang mencari obat untuk anaknya yang juga terkena radiasi dari Black Rain, dia ditemani pergi oleh dua tentara elit yang mati karena serangan dari segerombolan Snaper tadi.
"Menurut rekaman cctv toko, ayahmu terkena radiasi dari Black Rain yang cukup parah. Setelah itu kami melihat dua orang yang tengah mati diserang oleh Snaper." Jelas Eden.
"Hmm mereka adalah Rolls dan Beems." Sambut komandan.
Akhirnya mereka berempat diizinkan tinggal oleh Aro yang kini memegang kendali distrik ini.
Happy reading all :)
Stay tuned terus ya! bakal update terus kok.
KAMU SEDANG MEMBACA
BLACK WORLD
Fiksi IlmiahMenceritakan tentang wabah virus dan petualangan sekelompok pemuda yang bertahan hidup pasca perang nuklir. Eden dan tiga temannya berusaha mencari kehidupan di Bumi yang rusak. Di sisi lain ada distrik yang bisa membantu dunia ini kembali menjadi p...
