Mendiang ibunya pernah berkata jika hari-hari sekolahmu ingin terasa menyenangkan, berangkatlah lebih pagi dan jangan pernah sekali pun terlambat dan Joochan sebagai anak yang berbakti selalu melaksanakan hal itu. Itu lah mengapa kehidupan masa SMP nya terasa sempurna.
Berhasil membawa sebuah piagam penghargaan dan mendapatkan beberapa buket bunga dari saudara-saudaranya. Ditambah tepat satu minggu setelah kelulusannya dia diterima di SMA Sellim. Sekolah elit dengan fasilitas terlengkap di kota tempat tinggalnya.
Joochan yakin, dia sudah mengatur alarmnya tepat waktu tapi saat ayahnya membangunkannya hanya tersisa 30 menit lagi sebelum gerbang utama tertutup rapat.
Joochan menuruni dua anak tangga sekaligus, sedikit terpeleset beruntung refleksnya cepat jadi dia tidak sampai terjatuh. Joochan langsung melesat cepat saat pintu kamar mandi terbuka. Tak mengiharukan kakaknya yang mengomel marah.
Jangjun mengambil sepotong roti tawar melapisinya dengan selai kacang favorit dan bersiap memasukkannya kedalam mulut. Dengan mulut terbuka dan mata yang terpejam membayangkan empuknya permukaan roti yang menyentuh lidahnya lalu selai kacang yang turut lumer seiring dengan koyakan-koyakan dari gigi gerahamnya. Jangjun mengangkat sepotong roti menuju mulutnya. Hanya tinggal beberapa centi ujung roti menyentuh lidahnya tapi tiba-tiba hilang dari tangannya.
"Ya!! Hong joochan!!"
Joochan berlari kearah pintu depan dengan roti yang diambilnya dari sang kakak berada dimulutnya.
"Aku tidak punya banyak waktu. Aku berangkat kak!"
Joochan sudah berlari dengan segenap kemampuan yang ia punya tapi takdir sedang tidak berada dipihaknya. Jadilah dia untuk pertama kali dalam kehidupan persekolahannya terlambat datang.
Joochan berjalan pelan saat gedung aula hanya berjarak beberapa meter darinya. Tempat dimana masa pengenalan sekolah bagi siswa baru dilaksanakan. Berdasarkan informasi yang dia peroleh. Pantang bagi siswa baru untuk terlambat. Dan joochan sudah melanggarnya. Tamat sudah...
Sebuah tangan menahan pundak joochan. Memaksanya untuk berhenti memasuki gedung aula.
"Apa dirumahmu tidak ada jam?"
Joochan menatap kakak kelas yang menahannya. Seorang anak laki-laki yang joochan perkirakan 2 atau 3 tahun lebih tua darinya menatap joochan dengan wajah datarnya. Hari buruknya akan dimulai dari sekarang
"Maaf kak tadi.."
Joochan menghentikan ucapannya saat seorang anak lain seusianya datang dengan nafas tersengal.
"Maaf kak."
Kakak kelas ber name tag Lee Daeyeol menatap sengit dua anak baru yang berdiri didepannya.
"Baiklah. Putari lapangan 11 kali! Kalian baru boleh masuk."
Joochan melebarkan matanya. Anak yang berdiri disebelahnya juga melakukan hal yang sama. Yang benar saja.. hari pertama di sekolah favoritnya...
"Kak, ini hari pertama mereka, biarkan mereka masuk. Maklumi saja."
Joochan menoleh saat suara lain masuk ke indera pendengarannya.
"Tapi Dong. Peraturan tetaplah peraturan."
Daeyeol menatap rekannya yang baru datang dengan tatapan tidak suka.
"Kalian masuklah. Tidak apa-apa." Ucap kaka kelas itu tersenyum.
Joochan merasa waktunya berhenti seketika. Seperti ada efek cahaya matahari saat kakak kelasnya yang satu ini tersenyum kearahnya.
Joochan dan anak lelaki disampingnya membungkuk, mengucapkan rasa terima kasih dan sebagai tanda hormat kepada kakak seniornya lalu melangkahkan kakinya menuju kedalam gedung.
"Kau terlalu baik."
"Haha aku hanya melakukan yang biasa ku lakukan."
Daeyeol menggeleng mendengar jawaban dari adik kelasnya.
"Terserah kau saja Kim donghyun"
Sayup-sayup joochan mendengar percakapan kedua kakak kelasnya sebelum pintu gedung tertutup.
Kim donghyun. Nama yang bagus. Joochan akan ingat itu.
Pikirannya kembali mengingat perkataan sang ibu. Senyum joochan kembali muncul. Tak harus berangkat pagi dan tepat waktu untuk mendapatkan hari yang menyenangkan. Datang terlambat juga merupakan hal yang bagus. Buktinya sekarang. Dirinya terlambat dan bertemu dengan kakak kelas tampan yang baik.
Joochan bermonolog dalam hati. Ibu.. kurasa perkataan ibu tidak sepenuhnya benar. Aku beruntung hari ini terlambat.
Sebuah senggolan pada lengan kirinya memaksa joochan menoleh.
"Mau berteman?"
Joochan sedikit kaget dengan ajakan yang tiba-tiba. Mengamati anak disebelahnya dari atas sampai bawah.
"Aku jibeom."
"Hong joochan."
"Joochan. Chan. Itu lebih singkat. Boleh kan?"
Joochan mengangguk. Yah ini juga merupakan hal baik. Mungkin jika mereka tidak sama-sama terlambat joochan tidak akan punya seseorang untuk diajak ngobrol saat beberapa sambutan dari guru serta kakak kelas yang membosankan berjalan.
Benarkan.. mau tepat waktu atau terlambat berangkat tidak ada hubungannya dengan kehidupan sekolah tapi dengan siapa kau bertemu itu yang paling penting. Joochan rasa dia bertemu dengan orang-orang yang tepat. Jibeom dan kak kim donghyun. Joochan yakin kehidupan SMA nya akan lebih sempurna dari masa SMP.
HEY!! HEY!!! HEY!!! HEY!!! HEY!!!
ku coba buat cerita cast anak-anak kesayanganku.
Ngga tahu si tiba-tiba kepikiran.
Lanjut? Apa delete??
Tolong komen ya. Jangan lupa vote
Salam sayang dari emaknya joochan 😘
YOU ARE READING
Salah Surat
FanfictionJoochan yang menyesal kenapa dari sekian banyak siswa yang diterima di SMA Sellim, Kim Jibeom yang harus jadi temannya. "beom, dia datang..dia datang.. gimana udah rapi belum?"-joochan. "yakin udah kamu kasih kan?" -joochan "jibeom, diam ditempat...
