Gubuk

30 0 0
                                        

17 derajat bayangan ke arah barat, kolibri itu menghisap suatu bunga. Beberapa bunga  polypetalous corolla khususnya ornithopily  menempelkan serbuk sari sebagai ganti nektar yang telah diambil. 80 kepakan maksimum per detik menerbangkan beberapa serbuk ke bunga jantan terdekat. Menakjubkan sedikit contoh ini, sebuah hubungan makhluk hidup dalam bagian kecil ekosistem di hutan yang dapat terganggu jika salah satu bagan kehidupan ini pincang sebelah. L.E Waterman terheran sudut pandang bocah itu. Sebagai ukiran suatu pena di sakunya, tak banyak yang dapat diperbuat. Beberapa lembar kertas kotor di map kulit dengan tetes air belerang  sedikit terserap, cukup mengacaukan entropi putih kertas di beberapa bagian. Nilai sebuah kertas berbeda di zaman itu. Bahkan masih perihal tabu. Ini sebuah kisah ketika kata kolibri sendiri masih sebuah mitos rakyat.  

Sambi menutup catatan-nya, sedikit meregangkan sendi-sendi yang sedari tadi terpaku dan terlanjur nyaman. "Lihat! tubuh mu sudah mulai berjamur dan karat! bunyi 'krek' 'krek' semakin keras di beberapa bagian. harusnya kita sampai ke eldia beberapa jam lalu!", sahabatnya merusak suasana. "Aku hanya ingin sedikit bersantai kali ini,nu. Sesuatu sekitar sini lebih menarik dari permintaan penduduk desa itu." Beberapa pohon pinus terlewati, bayangan sejauh 500 meter di depan menandakan lokadi desa tidak jauh lagi. Infrastruktur desa yang berdiri kokoh dan lupuk dengan jejak garis di jalan menandakan bangunan kecil ini sering menjadi tempat persinggahan orang-orang berkepentingan menunggu hampiran. "Wah, nampaknya ada juga tempat lebih mewah dari posisi tidurku biasanya." cletuknya.  Papan membentang empat meter persegi satu meter di atas tanah disertai atap daun jagung didapat tidak jauh dari sini. Nampak jejak segar sebuah garis dan hewan berkaki empat baru saja melintas beberapa saat kemudian. Lelaki itu memperhatikan beberapa corak warna kegelapan dari kendaraan tersebut yang tidak asing. Semakin menjauh pelan tapi pasti pengamatan makin tidak dapat dijangkau lagi. Mengarah ke pemandangan lain, "Jadi apa yang kamu dapat dari gubuk ini makhluk pintar?" 'Ah, kalau itu sih sejuk, nyaman dan suram' "suram ?" 'yup, suram, sekali aku melewati tempat ini nyawaku benar benar dipertaruhkan, coba lihat peluru yang terjatuh di bagian itu, sudah pasti banyak pemburu yang menggunakan tempat ini sebagai singgahan berburu berikutnya untuk dijual hasil buruannya.' "Ah, menarik, cukup teliti juga, hanya saja aku lebih tertarik dengan sepotong kain tersangkut dan bagian tertentu yang lebih kering dari yang lainnya,nu".  Tak jauh beberapa ratus meter kedepan memang terlihat gapura sederhana bercorak merah legam dengan ornamen meander

Kota itu cukup sederhana. Tak banyak yang mengatakan kalau daerah itu sering disebut desa. Namun, ketika mereka melihat dimana kepala desa untuk administrasi maka akan berpikir dua kali. Tepat 50 meter setelah gerbang masuk di sebelah kanan jalan merupakan wilayah pasar. Memang daerah ini merupakan pertengahan antara ibu kota provinsi dan pesisir pantai, banyak pelancong menawarkan barang teknologi terbaru untuk perabotan hingga kumpulan buku yang tak mudah didapatkan di kelontongan. Sebaliknya pelancong dapat banyak untung terhadap barang-barang zaman kuno yang masih dapat dikatakan antik.

Memasuki kelontong itu, ada bapak bapak paruh baya, selisih umur beberapa taun hampir seumuran dengan mendiang ayah nya. "Cik barang baru apa yang datang kali ini?". "Eh Sudah berapa kali purnama kau tak mampir? Beberapa minggu ini banyak pelancong cantik mampir menanyakan kehadiran mu". -- "Seperti kau belum tau sejak lama aja cik, ku tak banyak permintaan kali ini tenang, hanya sepucuk surat atau buku yang pernah mampir ke sini?".
Mengerutkan dahinya dan memandang sudut meja coklat gemerlap seakan pernah meninggalkan barang di atas meja itu.
"Kau selalu saja begitu, apakah setidaknya ada variasi tiap bertemu seperti meja yang baru datang itu, pemilik nya bilang entah takdir ingin berkata apa, kurun waktu beberapa ratus tahun berganti kepemilikan ada satu motif yang terukir.". --"Ah, meja itu ya, aku pernah melihatnya di suatu tempat, memang menakjubkan". Alih-alih selama penjaga kelontong itu mencari, ia memperhatikan buku-buku yang sepertinya baru datang. Agak asing dibandingkan terakhir kali datang ke kelontong ini, tapi jarang juga ada yang ingin menjual buku di zaman ilmu pengetahuan sebagai indikator orang kaya. Ada lima buku di rak itu, satu buku biru, tiga buku hijau, dan satu buku merah.  Di negara ini, memang wajar untuk menandai kategori buku berdasarkan warna, tujuan nya jelas agar mudah dibedakan. Merah biasa digunakan dalam warna sampul buku-buku yang berkaitan dengan sejarah, ideologi, ataupun filosofi. Biru digunakan pada buku yang membahas sastra, musik, atau seni. Sedangkan hijau biasa digunakan untuk kedokteran, farmasi, ataupun anatomi. Ilmu psikologi masih menjadi hal yang tabu kala itu. Menilik buku satu-persatu,  ada kedua buku hijau yang sudah dimiliki beberapa tahun lalu. Kali ini memang berbeda, salah satu buku kedokteran kali ini merupakan terbitan baru. Tampak angka romawi IV tersanding di sebelah kanan judul. Di awali dengan kata appendix , bahasan yang menarik untuk ukuran organ manusia. Sesaat kemudian, pemilik kelontong kembali muncul membawa amplop krem bersegel stempel lilin emas.  "Ah, maaf kalau kau menunggu lama, banyak kiriman koran dan pos akhir-akhir ini.  Surat ini ku terima sekitar tiga minggu yang lalu.  lalu Dua minggu kemudian ada pos kotak tanpa tanda pengirim yang ditujukan padamu.  Kadang aku habis pikir apakah kau memang se-terkenal itu".  -- "Cik, Lagaknya orang-orang paling tahu aku. Selama ini pun hanya pakai inisial saja."  Perlahan memeriksa keaslian amplop itu, jaga-jaga jika klien mencari harga murah segala cara.  Hal itu biasa ditandai dengan cap timbul logo kerajaan di pojok kanan bawah.  Sedangkan, di kanan atas terdapat tulisan "Kerajaan Gunadarma".  "Kau cermat melihat buku baru itu ya, kata orang setia kedua yang ketiga lebih bagus dibandingkan seri keempat ini." -"Tentu kedua seri sebelumnya menarik. Aku sudah membacanya pula. Yang keempat baru ku sempat ingin ku beli. Isi nya bisa jadi  membosankan karena kebanyakan berisi hipotesa  dan thesis. Tapi sepertinya ada sudut pandang lain yang bisa ku dapat dari buku ini, kalau begitu berapa harga nya  cik?". -"Begitu ya, harga nya sepuluh dilgam*. beberapa bulan stok barang sedang tidak bagus. apalagi banyak nya insiden perampokan kurun dua Minggu , mengakibatkan penjual lebih memilih menyimpan sebagian barang dagangannya agar tak rugi." "Iya cik tidak apa apa, kebetulan masih ada rezeki juga." -"Terimakasih, ini yang kusuka dari kau, tidak menawar dalam hal pendidikan. Semoga tuhan melapangkan rezeki mu. " "Ah, justru aku yang terimakasih cik, sudah mau direpotkan. Sampai jumpa lagi, cik"
Penjaga kelontong itu melambaikan tangan dan tersanjung, tak sempat membalas kata-kata disebabkan melayani pelanggan toko lainnya.

"Argh ! Kau lama sekali di toko itu. Ku hampir mati kepanasan menunggu mu di atas genteng." Pemuda itu tersenyum kering tak habis pikir, sambil memberi nya kue gasi. "Hem, kali ini ku maafkan. " Beberapa blok dari pasar, sampailah mereka di penginapan Regaldi. Penginapan tua berlantai dua yang dimiliki janda veteran tua dengan mata buta kiri nya. Gadis resepsionis itu merupakan cucu dari regaldi.   Beberapa foto tokoh terkenal terpajang setelah memasukin pintu masuk penginapan. Sebagai tanda mereka pernah mampir di tempat bersejarah.  Interior nya tidak mewah, dan tidak sederhana, cukup menjelaskan bahwa penginapan ini layak. Masyarakat luas mengenal Regaldi sebagai salah satu ikonik kota. Berletak diantara jalur ibu kota dan bekas kota bersejarah, tidak banyak mengandalkan sumber alam sebagai ekonomi pokok. Banyak pundi-pundi kesejahteraan rakyat bergantung pada dagang, seni, serta pelancong.  Hampir semua barang andalan kota terpajang di ruang-ruang penginapan. Sambil menengok ke arah jam, --"Hai Annie, apa kabar ? ibu mu bagaimana kesehatannya ? masih memberi cerita heroik nya tiap minggu ?". Gadis itu teralihkan dari urusan administratif. "ah mas, iya, alhamdulillah sehat. kurang lebih ya kayak gitu. duh, tumben juga mampir ke sini mas. maaf ini tadi lha kok minggu minggu ini banyak request dari pengunjung." --"ah iya iya, maaf kalau ku mengganggu kerja mu. kamar yang biasanya ada yang menginap kah ?". "iya mas, untuk kamar itu kebetulan ada yang menginap.  minggu kemarin memang cukup banyak pengunjung akhir akhir ini. tapi syukurnya masih ada ruang kosong mas, di nomor 315. Dan ini untuk kunci kamar nya." setelah mengucapkan terimakasih, tiba lah di kamar. model kamar nya tidak terlalu jauh dibanding kan ruang biasanya.  Matahari sedikit menyongsong ke barat menyinari sebagian ruangan. Sedikit menyinari meja di ruang itu. Dengan paket kotak yang diterima, setelah dibuka cukup terkesan dari apa yang dipesan. Paket itu berisi alat pemancar coklat dikhususkan menerima pesan dalam bentuk titik garis. Desain sudah 2 tahun lalu dikirim kan, namun tak habis kagum dapat berjalan yang diinginkan. "aarrgghh, tempat nya lumayan juga. ay, alat itu apa aman digunakan ? kau yakin dengan hasil kerjaan mereka ?". --"sudah lah, nanti malam bakal kita tau bagaimana hasil kualitas kerja mereka."  

Hampir tengah malam, gedung gurbernur masih sepi. Tak banyak orang berkeliaran karena tak ingin cari masalah. Apalagi, ada beberapa polisi yang berjaga di depan pintu masuk yang hampir setengah gosong. Pria itu menghampiri penjaga dengan menyerahkan surat. Seolah sudah tau tabiat nya, langsung mengizinkan memasuki area kejadian. Memang hebat koneksi petinggi dalam mengatur masalah agar bisa beres secepatnya. Pria itu membuka penutup muka. --"heem, memakai masker ini selalu membuatku sumpek. apa gak ada cara lain buat menutupi wajah." --"aarrgghh, kau kira ini jaman apa, masih beruntung kau bisa gak ketahuan dengan mudah." sejenak mengambil nafas dan meletak kan kamera. Melihat kondisi sekitar, tidak banyak yang bisa dilakuka. Informasi dari sipir mengatakan kejadian berlangsung pada dini hari, sekitar pukul satu minggu lalu. Hanya ada satu korban jiwa, sang gurbernur yang terpanggang di atas kasur. Sanksi mengatakan seoalah olah ada yang menahan gubernur di tempat tidur nya. Namun, setelah diotopsi, yang terlihat adalah orang terpanggang tanpa ada bekas memar atau penahan di bagian tubuhnya.  Benar benar analisa yang tidak memuaskan malam itu. Terdapat beberapa barang yang hilang. Dugaan, beberapa hari setelah kebarakan sepertinya perampok melihat kesempatan dan memanfaatkan peluang ini. Emas, baju mewah, dan beberapa perhiasan. Buku di rak samping kamar gubernu itu, hampir semua nya terbakar.  Beberapa menyisakan ruang kosong. Selama analisa, pria itu terus menekan tombol yang dia siapkan, sebagai ganti bukti catatan. "aarrgghh, bukti kejadian apa malam ini, tampak kecelakaan, atau memang ada niatan balas dendam?". --"yah kita lihat saja nanti. " 

Keesokan harinya, dia bergegas meninggalkan ruangan. Annie membalas salam jumpa lagi  lagi menatap heran karena setiap orang itu ke penginapan selalu ada gagak yang hinggap ketika berada di luar. Sambil menjalani jalan keluar kota itu, banyak skenario yang memungkinkan dalam kasus kebakaran itu. Namun seperti ada informasi yang kurang. Ada yang terlwatkan. Dan sampailah pria itu di sebuah gubuk, tempat tunggu wagon antar desa ditemani seorang laki-laki kecil yang sedang menunggu juga. 

*Mata uang kerajaan Gunadarma

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 28, 2022 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

MATENGGAWhere stories live. Discover now