Terimakasih, Je...

15 2 3
                                        

Wendy menatap lurus, jauh ke ujung lautan. Teriknya matahari bahkan sudah tidak lagi dihiraukannya.

Detik berikutnya, air matanya luruh.

Kedatangannya ke tempat ini adalah karena tempat ini tercantum dalam bucket list sepupunya, Sea. Sea yang pergi bahkan sebelum sempat mendatangi semua tempat yang ada dalam daftar itu.

Dan Wendy memutuskan untuk mendatangi beberapa tempat yang belum sempat didatangi Sea.

Di sinilah Wendy sekarang.

Mewakili Sea.

Setiap kali berhasil mendatangi salah satu tempat dalam daftar itu, Wendy selalu mengabadikan momen dengan mengambil beberapa gambar dirinya dengan latar tempat yang didatanginya. Foto-foto itu kemudian ia cetak dan simpan.

Tidak hanya itu, Wendy juga selalu membuat catatan dari setiap perjalanannya—mewakili Sea.

Ia bahagia melakukan apa yang sedang dilakukannya.

Namun, ada saat-saat ketika hatinya terasa seperti tersayat.

Seperti hari ini.

Tempat ini adalah tempat terakhir yang tercantum dalam bucket list Sea.

Mungkin itulah yang membuat Wendy begitu emosional hari ini.

Hujan turun tanpa aba-aba, seolah mengetahui suasana hati Wendy.

Atau...

Mungkin Sea meminta Tuhan menurunkan hujan untuk menemani Wendy menangis.

Yang pasti, Wendy sangat bersyukur karena hujan turun. Ia tidak perlu repot-repot menyapu air matanya.

Wendy menengadahkan wajah, berniat menatap langit yang saat ini masih semangat menyerang bumi. Padahal, belum genap lima menit yang lalu, langit masih begitu cerah. Tidak semendung dan semuram ini.

Hujannya sangat deras. Membuat Wendy tidak dapat membuka mata dan menentang hujan terlalu lama.

Matanya terpejam.

Namun bulir-bulir bening itu terus mengalir deras dari pelupuk matanya—tidak mau kalah dengan hujan yang turun saat ini.

"Ya... Sea, aku ada di sini."

Kedua sudut bibir Wendy terangkat.

"Kamu bisa lihat aku, nggak?"

Ia tertawa kecil di sela isakannya.

"Ya, udah selesai, nih. Semuanya udah keceklis dan aku masih nggak tahu harus ke mana lagi setelah ini."

Wendy menjeda kalimatnya. Senggukannya membuat kedua pundaknya bergetar.

"Ya, kamu bahagia, kan, di sana?"

Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan.

"Aku tahu kamu pasti lagi ngetawain aku, kan, sekarang?"

Senyum kecil kembali terukir di wajahnya.

"Bahagia terus, ya, Sea..."

Wendy menyelesaikan kalimatnya dengan senyuman yang begitu indah.

Cantik.

Ketika membuka mata, Wendy dikagetkan oleh kehadiran seseorang.

"Je, sejak kapan di sini?" tanyanya, penasaran menunggu jawaban dari lelaki berkacamata di hadapannya.

"Sejak lo nutup mata."

Je mengalihkan pandangannya dari wajah Wendy ke hamparan laut di hadapannya, lalu melanjutkan,

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 23 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

One Shot's StoriesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang