Satu

33 3 0
                                        

Bandung
Agustus 2020

Tiga tambah empat tambah  satu tambah  Satu tambah tiga,  diturunkan jadi  Delapan,  titip yang dua ...

Malika Quera Menjumlahkan baris  baris  angka untuk  ke empat kalinya, mendapatkan hasil yang sama dengan tiga kali sebelumnya,  dan  ia mengerang.
Saat ini ia mendongak, tiga wajah murung menatapnya---wajah tiga orang adiknya.
"Ada apa, kak Era?" tanya Lea yang berumur sembilan tahun.
Quera tersenyum lemah sambil mencari tahu cara menyisihkan cukup uang untuk tagihan listrik bulan depan. "Kita,  eh ... Aku khawatir kita tidak cukup dana." Elda yang berusia enam belas tahun mendekati usia Era,  mengernyitkan dahi "Apa kau benar-benar yakin? kita pasti punya sesuatu, waktu papa masih hidup kita selalu... ."
Era mendiamkanya dengan tatapan mendesak. Mereka punya harta benda saat ayah mereka masih hidup, namun ayah mereka tidak mewariskan apapun selain satu rekening bank yang jumlahnya sedikit. Tidak ada penghasilan tidak ada properti. Dan kenangan-kenangan itu bukanlah kenangan yang menghangatkan hati.
" Keadaan berbeda sekarang." katanya tegas, " Kau tak bisa membandingkan keduanya"
Lea menyeringai "Kita bisa menggunakan uang yang disimpan Niel dikotak puzzelnya.
Daniel atau biasa dipanggil Niel, adalah anak laki-laki satu satunya dalam keluarga Quera memekik "Apa yang kau lakukan dengan barang barangku" ia berpaling pada Era dengan ekspresi yang bisa disebut "melotot" seandainya tak menghiasi wajah anak usia delapan tahun " Apa dirumah ini tidak ada kebebasan pribadi? "
"Tampaknya tidak," ujar Era setengah melamun,  sambil menatap angka-angka didepannya ia membuat tanda dengan pensilnya sambil berusaha mencari metode penghematan lainya.
"Dasar saudara perempuan." gerutu Neil.
Elda mengintip ke buku kas Era,  " Bisakah kita memutar sebagian uang itu? Melakukan sesuatu untuk lebih menghematnya? "
"Tidak ada yang bisa dihemat. Syukurlah sewa rumah sudah dibayar, atau kita pasti sudah diusir."
"Seburuk itukah?" bisik Elda. Era mengangguk. "Kita punya cukup uang untuk sisa bulan ini, dan sedikit tambahan lagi setelah menerima gaji dari nyonya Alyssa, tapi setelah itu.... " kata katanya menghilang dan ia berpaling, tidak ingin Lea dan Niel tahu air mata yang sedari tadi menusuk nusuk matanya. Ia sudah mengurus ketiga saudaranya selama Lima tahun. Mereka mengandalkannya untuk makanan, tempat tinggal dan yang terpeting, kestabilan.
Lea menyenggol Neil, dan  lalu, ketika anak itu tidak menjawab,  menendang ditulang kaki.
"Apa?" bentak Niel "itu sakit"
"Apa? Itu tidak sopan ujar Ela otomatis.
" Maaf' lebih baik. "
Niel terngagah marah, " Dia tak sopan menendangku seperti itu. Dan jelas aku tak mau minta maaf."
Lea memutar bola matanya dan mendesah. "Kau harus ingat kalau dia baru berumur delapan tahun"
Niel balas nyengir. "Kau sendiri baru sembilan tahun."
"Aku akan  Selalu lebih tua darimu."
Bibir Era melengkung membentuk  senyum semu,  sementara ia mengawasi pertengkaran mereka.
Era telah berhasil memperthaankan keutuhan keluarga itu selama lima tahun yang lalu  setelah ayah mereka meninggal dan dia tak akan mebiarkan kekurangan uang memisahkan mereka sekarang.

Lea melipat tanganya. "Kau harus meberikan uangmu  pada  Kak Era, Niel, tidak  baik  menimbun untuk  dirimu sendiri."

Niel  mengangguk dan  meninggalkan ruangan. Kepala  kecilnya yang  berambut cokelat tua tertunduk. Era  kembali  mendongak menatap  Lea dan Elda, mereka berdua  juga berambut cokelat tua, dengan mata hitam seperti ibu mereka.  Dan Era pun tampak sama seperti mereka semua.
Ia mendesah lagi dan menatap  adik adiknya dengan  serius. "Aku harus  menikah, tidak ada jalan  lain lagi."
"Oh jangan  kak  Era! "
Pekik  Lea,  melompat  dari kursinya dan  praktis  memanjat meja ke pangkuan kakaknya.
"Jagan itu! Apapun selain itu. "
Era menatap Elda dengan  bingung, diam-diam  ia bertanya  pada nya  mengapa Lea begitu gelisah. Elda hanya  menggelengkan kepala dan mengangkat  bahu.
" Tidak seburuk itu" ujar  Era  sambil mengelus rambut Lea. "Kalau  aku  menikah,  aku mungkin  akan punya  bayi  sendiri, dan  kau akan  memiliki  keponakan yang lucu, bukankah itu bagus? "
"Tapi  satu-satunya orang yang melamarmu ko  Acang, dan dia mengerikan."
Era hanya tersenyum ragu, " Aku yakin kita bisa  menemukan orang lain selain  ko  Acang, seseorang yang tidak mengerikan."
Neil kembali Kedapur sambil membawa kotak puzzel nya." Aku  sudah menabung sekian lama, aku ingin memakainya untuk  ..." ia menelan ludah.  "Tidak apa-apa. Aku ingin kau mengambilnya untuk  keluarga."
Era mengambil kotak itu tanpa suara dan melihat kedalamnya. Seratus ribu dua puluh dua limaratus rupiah, hampir keseluruhan pecahan limaratus rupiah.  "Niel, sayang" katanya lembut.  Ini tabunganmu.  Perlu bertahun tahun bagimu untuk mengumpulkan semua koin ini."
Bibir bawah niel Bergetar,  tapi entah bagaimana ia sanggup membusungkan dadanya. "Aku adalah  satu-satunya anak  laki-laki dirumah sekarang .  Aku harus  membiayaimu."
Era mengangguk khidmat Dan memindahkan uang Niel ke kotak  penyimpanan dana  keluarga.
" Baiklah kita akan  menggunakanya untuk membeli makanan. Mungkin kau  bisa ikut berbelanja bersamaku minggu depan, dan  kau  bisa  memilih sesuatu yang kau  sukai."
Niel mengangguk mantap,
"Kebun dapurku semestinya mulai menghasilkan sayur sebentar lagi. " ujar Elda menghibur.  Cukup untuk makan kita Dan sisanya dijual didesa."

"Jangan bilang kau menanam lobak lagi, aku benci lobak." rengek Lea
"Kita semua benci lobak, jawab Elda, tapi itu satu-satunya tanaman yang mudah ditanam.
"Tidak terlalu mudah untuk dimakan." gerutu Niel.
Era memejamkan matanya, Bagaimana mereka sampai dalam keadaan ini. Saat yang paling sulit adalah saat ayah mereka meninggal, dan yang membuat ia bertahan sampai sejauh ini adalah pikiran untuk menjaga ketiga adiknya.

                 --------🍁--------

The Crazy RichWhere stories live. Discover now