Jaki namanya. Ia adalah seorang anak yang sangat sangat menyukai berbagai moda transportasi yang ada di Indonesia, terutama moda transportasi yang menggunakan ban karet bernama bus. Memfoto bus adalah kegiatan yang silakukannya sehari-hari. Wajar, karena rumah Jaki juga dekat degan terminal bus. Jaki mempunyai cita-cita untuk membahagiakan orang tuanya. Tetapi, setiap hari juga kelakuan si Jaki membuat kesal orang tuanya.
Suatu hari saat Ia sedang bermain ponsel sendirian dikamar, Ia teringat dengan suatu pesan yang menurutnya sangat-sangat penting. Dia pun ragu-ragu untuk memberitahukan pesan itu kepada ibunya. Karena Ia sudah mempunyai firasat kalau Ia pasti tidak akan diizinkan oleh ibunya. "Duh, gimana ya?", tanya Jaki kepada diri sendiri, "Kalau bilang ke Ibu pasti ini ngga bakal diijinin. Duh, gimana ya?", Jaki semakin gelisah. Akhirnya, dengan rasa takut Jaki pun mengomunikasikan hal ini kepada ibunya.
"Bu," dengan nada yang rendah dan suara yang pelan, "Apa?", jawab sang ibu, "Itu bu, aku minta uang 200 ribu boleh ngga bu?", ucapnya dengan wajah yang sudah ketakutan, "Apa?!?! Mau minta 200 ribu?? Nak, kamu mikir ngga sih! Buat makan sehari-hari aja kita masih kekurangan! Kok kamu malah minta uang 200 ribu! Bocah g*bl*k!", ucap ibunya yang sudah marah besar mendengar permintaan anaknya. Jaki sudah dimarahi ibunya ditambah dengan kata kasar yang tidak sengaja diucapkan ibunya, tapi si Jaki tidak habis pikir. Ia kabur dari rumah menuju ke sawah yang berjarak 20 meter dari rumahnya.
"Ya udahlah, mending aku cari udara segar aja ya kan," ucapnya dalam hati. Saat sedang berjalan menuju sawah, Jaki melihat ada sekolompok anak punk yang kemungkinan mereka sedang minum-minuman keras. Tanpa pikir panjang, Jaki pun menghampirinya, "Woy, Bro," sapa Jaki, "Woy, gabunglah sini, bro," jawab salah satu anggota punk. Setelah bergabung, mereka dan Jaki mengobrol seperti biasa. Tapi tidak lama kemudian, "Woy, Jaki. Kamu kan anak baru disini, kamu itu harus minum air ini dulu," ucap salah satu anak di kelompok itu, "Air? Air apaan?", tanya Jaki dengan heran, "Air ini," tunjuk anak itu ke sebuah botol berisi air bewarna biru. Dan setelah percakapan itu, Jaki langsung dicekoki air minuman keras oleh teman-teman punk nya. "Minum nih, Jak!", kata teman-temannya, "Ampun!", teriak Jaki Sambas berusaha menutup mulutnya. Tapi apa daya, air itu berhasil masuk ke kerongkongan Jaki. Alhasil, Jaki ngefly selama kurang lebih 3 jam.
Langit sudah berubah menjadi jingga, Jaki masih di sawah sendirian akibat ngefly tadi siang. Teman punk nya Jaki juga sudah pulang ke rumah masing-masing. Mulutnya Jaki pun masih bau alkohol, tetapi si Jaki tidak peduli. Ia pun langsung pulang ke rumahnya.
Rimbunnya bambu ia lewati sepanjang jalan menuju rumah. Jalannya pun sangat gelap dan biasanya tidak ada orang yang lewat sama sekali pada saat maghrib tiba. saat sedang santai-santainya berjalan, "Wuh, apa tuh?" Jaki melihat sesuatu. Semakin jelas objeknya, bulu kuduk Jaki semakin berdiri.
Semakin lama, objek itu semakin jelas. Meskipun kecil, itu sudah cukup membuat Jaki takut. "Apa si ini?", tanya Jaki dalam hati. Jaki pun mencoba mencari sesuatu untuk menggerakan benda tersebut. Setelah digerakkan, ternyata itu adalah bangkai burung puyuh yang jatuh dari pohon karena tidak bisa terbang. Mengetahui itu hanya sebuah burung. Jaki melanjutkan perjalanannya ke rumah dengan berlari.
YOU ARE READING
RESTU
Short StoryJaki adalah seorang anak berusia 12 tahun. Dia sagat mencintai berbagai macam moda transportasi di Indonesia khususnya bus. Pada suatu hari, Ia akan mengikuti acara yang akan diadakan oleh komunitas pecinta bus di kotanya. Akan tetapi, dia tidak men...
