Mata coklatnya telihat sangat indah, ditambah sembraut merah di kedua pipinya. Ia tampak sangat cantik dengan jarak sedekat ini. Senyum dibibirnya mengembang saat tangannya menyodorkan sebuah kotak berwarna putih.
"Ini apa?" Tanyaku sambil mengerutkan alis.
Ia tersenyum lebih lebar lagi, rambutnya yang sepanjang bahu dan dibiarkannya terurai bebas kini menutupi setengah wajahnya karena tertiup angin. Tanpa kusadari senyumku mengembang saat memperhatikan setiap detail dari wajahnya. Aku baru sadar ternyata ia lebih cantik dari yang kukira.
"Pink little cupcake" ucapnya dengan lembut.
"Kamu harus makan ini. Aku sudah mengobrak-abrik buku resep demi cupcake ini. Mungkin rasanya gak seenak yang di toko-toko. But, i swear this's not bad lah" katanya sambil tertawa kecil.
Aku tersenyum kecil melihat tingkahnya dan tawanya.
"Akhirnya kamu belajar masak juga"
Aku mengacak-ngacak rambutnya membuatnya memanyunkan bibir pinknya. Lucu.
Aku jadi teringat tentang tujuanku mengajaknya ke pantai ini.
Aku meletakkan kedua tanganku pada pipi putihnya.
Matanya yang coklat itu menatapku meminta penjelasan.
"Do, ada apa?" Tangan kanannya memegang tangan kananku lembut.
Tanpa kusadari butir air mata telah membasahi pipiku.
"Aku cuma..." Aku merongoh saku celanaku kemudian memberikannya sebuah kalung dengan liontin 'AA' berwarna emas putih kesukaannya.
Ia malah mengerutkan alisnya, "kalung? Ada apa?" Ia sepertinya sudah mulai paham maksudku.
"Hari ini... Pesawatku akan berangkat jam 12 siang ini" kataku singkat.
Brukk..
Cupcake yang ia bawa kini jatuh diantara pasir putih.
"Aldo... Ini ada apa? Kamu akan bergi kemana? Aldo? Jawab aku?"
Pertanyaan bertubi-tubi keluar dari bibir kecilnya itu.
Aku langsung memeluknya tanpa peduli pukulan yang ia layangkan ke dadaku. Aku hanya ingin pelukan itu sebelum aku pergi.
