Cadbury

450 2 0
                                        


Cadbury

Antara cita dan cinta, juga takdir dan rencana

(Yulia Puspita Arum)

Memiliki pasangan yang mencintai kita dan yang kita cintai adalah impian banyak dari para pecinta, umat manusia. Karena dasarnya, jika kita melakukan hal apapun dan disertai dengan cinta merupakan sesuatu yang dapat membuat jiwa kita bahagia. Ya, cinta. Cinta. Cinta. Dan cinta. Satu kata yang mampu membuat hati milyaran umat akan bergetar, mampu membuat hamba biasa menjadi pujangga. Membangkitkan semangat, mengubah pola pikir, namun bisa juga menghancurkan. Cinta, oh cinta.

Ngomongin soal cinta nih, apalagi semasa remaja. Buuussssh! Pasti amburadul. Belum lagi kalau soal jatuh cinta, yang katanya bisa merubah tahi kucing menjadi rasa coklat, apalagi ternyata cinta itu cinta monyet, atau cinta buta, atau cinta apa lagi ya? Entahlah. Untukku, jatuh cinta itu memang asyik. Katanya lagi nih, membuat hidup kita jadi warna-warni, seperti pelangi. Kamu juga merasakannya kah? Tenang saja! Bukan berarti yang tidak punya pacar itu tidak punya cinta kok. Semuanya bisa merasakan dicintai juga mencintai. Jangan bilang tidak. Tidak. Oh, sudah bilang ya? Oops, sorry. At least, seseorang pasti pernah mendapat rasa dicintai itu dari orang tua, betul tidak? Jangan bilang tidak lagi loh! Hehe. Tapi, percayalah, kisah ini akan membahas kisah cinta dua orang insan laki-laki dan perempuan yang pada akhirnya membentuk ikatan kok, tenang saja!

Namaku Yulia, Yulia Puspita Arum tepatnya. Ada yang memanggilku Lea atau Lia, ada yang sekedar Lee, tapi umumnya Yulia. Nama panjangku artinya 'bunga yang mekar harum di bulan Juli'. Ya, setidaknya begitulah yang aku dengar dari orang tuaku. Nama itu memang pemberian orang tua yang tak pernah bisa hilang, yang juga merupakan doa. Sekali lagi, dengan nama itu, mungkin papa dan mama menaruh harapan agar aku bisa tumbuh mekar menjadi bunga yang bisa mengharumkan keluarga atau paling tidak diri sendiri. Alhamdulillah, dari dulu, bulan Juli selalu jadi bulan keberuntungan di setiap tahun selama aku hidup hingga 22 tahun saat ini.

Aku memang gadis ambisius, ingin ini ya ini, itu ya itu, berkemauan keras, terstruktur, dan suka dengan tantangan tetapi juga konyol. Sedari kecil aku pun suka memimpikan hal-hal yang mungkin kata orang itu terlalu tinggi untuk dicapai, tak sedikit juga yang pernah berkata bahwa mimpi itu jangan terlalu tinggi, kalau jatuh sakit. Bagiku, semua tidak ada yang tidak mungkin, and I never worry about what everyone said dealing with my dreams. Aku pun menuliskan keyakinanku ini pada buku antologi ku yang berjudul Impian Bintang Kecil di Langit Bangkok yang terbit tahun 2017 lalu.

"Bermimpi itu sekalian saja yang tinggi. Ibaratnya ada sepuluh anak tangga, bermimpi saja untuk bisa ke anak tangga teratas, anak tangga ke sepuluh. Sekalipun jatuh, mungkin kita masih berada di tengah, bukan di anak tangga terbawah."

Asalkan, kita harus tahu kapan waktu untuk bangun dan mewujudkan mimpi-mimpi kita dan hati-hati dalam melangkah. Anyway, soal impianku tadi, diantaranya adalah aku ingin sukses dari jalur pendidikan, aku ingin membuat bangsa ini besar dari pendidikan, serta menjadikan generasiku berkualitas melalui pendidikan. Tak aneh jika passion ku saat ini adalah something related to education. Yah, pendidikan. Salah seorang dosen favoritku yang kami juluki Bu Belanda karena lulusan S2 Belanda yang kini tengah menempuh studi doktoral atau S3 di Florida, Amerika Serikat, pendidikan itu bagaikan walking stick atau tongkat yang mampu mengantar kita menuju jalur yang benar. Rasulullah SAW pun pernah bersabda "Barangsiapa menginginkan keberhasilan dunia maka tempuhlah dengan ilmu, barangsiapa menginginkan keberhasilan akhirat maka juga dengan ilmu, serta barangsiapa menginginkan keduanya juga dengan ilmu." Dan ilmu itu luas bukan? Ilmu adalah pengetahuan bisa kita dapatkan dari mana saja, hanya saja, sebagai jalannya, muncul lah nama PENDIDIKAN yang kini menjadi sesuatu yang kugeluti.

Sekarang aku adalah mahasiswa di sebuah sekolah tinggi swasta di kota kelahiranku, Jombang, STKIP PGRI Jombang. Aku kuliah mengambil jurusan pendidikan di kampus ini tepatnya Pendidikan Bahasa Inggris. Entah mengapa aku dulu mengambil jurusan ini tapi nyatanya sekarang aku menemukan jati diriku di sini.

CadburyStories to obsess over. Discover now